Home / Fiksi / Cerpen / Lovers

Lovers

Lovers

“Gak perlu malu gitu, Kamu kelihatan cantik, kok,” kataku sambil mencoba menyentuh ujung anak rambut di dahi gadis di depanku ini, tapi segera ditepis pemiliknya. Rina tersenyum malu-malu sambil menonjok bahuku lembut.

Aku tidak bohong. Rina memang cantik. Meski wajahnya terlihat polos, dengan make-up tipis-tipis, di mataku dia terlihat manis. Kacamata lebar yang bertengger di hidung mancungnya terlihat pas. Apalagi sikapnya yang sedikit pemalu, membuatku merasa jadi Arjuna paling ganteng yang bisa menaklukan Sembadra.

“Ih, Mas Riyan, nih, godain mulu.”

“Dari pada godain Bu RT ntar Pak RT nya yang gak terima.” Jurus ngelesku ternyata bikin Rina makin kenceng nyubit lenganku yang tidak tahu apa-apa.

“Ayo berangkat, keburu siang! Ibu pasti sudah nunggu.” Rina mendahului masuk mobil tanpa peduli lenganku yang masih nyeri-nyeri sepet. Tak lama kemudian mobil sudah melaju menuju ke suatu tempat. Sementara bekas jubitan itu masih terasa, perih.

***

“Bu, Rina datang. Ibu baik-baik, kan?” Perempuan cantik yang sesaat lalu datang bersamaku itu sedang berlutut di depan seorang wanita berusia di akhir enam puluhan.

Ini kedatanganku yang ke-dua, bersama kekasihku—Rina, tentu saja.

Sementara genggaman Rina masih bertahan di pangkuan wanita yang dia panggil “Ibu” itu, sambil bicara, melepas rindu. Ini mengingatkanku pada pertemuan sebelumnya.

“Ini Mas Riyan, Bu. Mas Riyan—teman Rina.” Begitulah Rina memperkenalkan aku dengan Bu Lasmi kala itu. Saat itu Rina terlihat berusaha keras untuk menahan air matanya agar tak jatuh. Kuambil bangku kemudian perlahan membimbing gadis itu untuk duduk berhadapan dengan sang ibu.

“Saya Riyan, Bu. Eng … teman dekat Rina.” Begitulah saat aku berusaha memperkenalkan diri meski sedikit canggung pada pertemuan pertama kala itu. Meskipun begitu aku terkesan waktu Bu Lasmi tersenyum saat aku mencium punggung tangannya. Apakah itu restu? Entahlah.

Ingatan itu lagi-lagi membuatku tersenyum. Mataku masih saja mengawasi kesayanganku yang sedang bercengkrama dengan ibunya. Aku senang melihatnya tersenyum lebar seperti itu setelah tahu tentang apa yang terjadi sebelum ibunya harus berada di sini.

Ayah Rina teramat otoriter dan hampir selalu memaksakan kemauannya. Tak hanya pada Rina, ibunya yang paling sering menjadi korban kekerasan hingga jiwanya merasa tertekan. Sampai kemudian mentalnya terganggu.

Sayangnya aku tak berani bertanya lebih jauh. Tapi aku akan jadi pendengar yang baik kapan saja bila suatu saat dia ingin bercerita.

***

“Drrtt! Drrt! Drrtt!”

Ponselku memanggil dengan kedipan flash berkali-kali. Laras! Tentu saja. Sekarang, kan, Kamis.

“Hai, Sayang,” sapaku di telepon. Rupanya Laras mengajakku ke pembukaan cafe baru di pusat kota. Dia terdengar bersemangat.

“Aku jemput?” kataku menawarkan. Tapi Laras bilang tak usah. Aku pun menutup telepon lalu bersiap berangkat.

Tak lama kemudian aku sudah dalam perjalanan menuju cafe yang dimaksud. Laras sudah di dekat sana, itulah sebabnya aku tak perlu menjemputnya.

Aku bertemu dengan Laras pertama kali di taman saat olah raga pagi empat bulan yang lalu. Meski agak tak biasa tapi aku menyadari, Laras, gadis yang sangat percaya diri. Pemberani, dan tak ragu-ragu untuk berdebat tentang apa saja, selama dia merasa benar.

Laras tak takut kemana-mana sendiri. Dia bukan termasuk cewek manja yang harus selalu menuntut untuk diperhatikan. Laras teramat mandiri. Bahkan aku terkadang harus pintar cari celah di mana aku bisa dibutuhkan. Tapi bagaimanapun itu pesona yang harus aku terima.

“Hai, Sayang! Macet, ya?” tanyanya seketika saat melihatku menghampirinya.

“Lumayan. Parkirannya penuh.” Aku mengusap rambut ikalnya yang kini lurus. Make-up Laras tidak setipis biasanya, dia memang pintar menyesuaikan suasana. Bagaimanapun itu keahliannya.

Laras bicara tentang banyak hal. Sambil menikmati iringan musik yang mengalun Laras berkata, “Sebetulnya aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat, tapi selalu gak sempat.”

“Kemana?” tanyaku ragu-ragu.

“Ke rumah sakit. Aku pengen kenalin kamu ke ibu.” Laras berkata sambil menggenggam tanganku. Tak punya pilihan lain aku hanya mengangguk.

***

“Bebi, kamu kemana aja? Ditelpon gak pernah diangkat!” Pesan dari Sandi masuk ke ponselku.

Ini pesan yang ke empat belas sejak tiga hari yang lalu. Aku hanya lelah. Pekerjaan di kantor begitu menguras tenaga. Permintaannya untuk bertemu berkali-kali kuabaikan. Bukan apa-apa, aku capek, dia selalu minta bertemu malam hari. Sedangkan saat malam tiba, tenagaku rasanya sudah terkuras habis. Lagi pula aku tak benar-benar mengabaikannya, aku masih rajin berkirim pesan atau sekadar telepon untuk sedikit mengobati rindu, sekaligus menenangkannya, tentu.

Sandi sedikit sensitif, mudah baper. Dia akan sangat emosi atas sesuatu yang tak bisa kujelaskan meskipun itu terlihat sepele. Karena baginya apapun yang tentangku adalah penting. Mungkin cenderung posesif. Tapi entah kenapa, aku menyukainya, karena itu … dia.

“Maaf, Sayang. Aku baru pulang lembur. Hari Sabtu aja kita ketemu, ya, Sayang.” Begitulah, aku berusaha memberinya pengertian, toh hari Sabtu sudah dekat.

“Kamu, nih, kerja mulu. Kapan waktunya buat aku?” Balasnya lagi.

“Ya, kan, aku kerja demi kita juga, Sayang. Sabtu kita ke alun-alun, yuk. Ada pasar malam di sana.” Segera kukirimkan balasan, berharap itu bisa menghiburnya. Sandi menyukai hal-hal simple, yang spontan, dan tak terlalu suka berbelit-belit. Sederhana … tapi manis.

“Beneran? Aku suka! Oke, deh. Janji, ya?” Sandi ingin memastikan. Aku meng-iya-kan lewat balasan disertai emot jari dua.

“Miss you ….” Kukirimkan voice note sebagai penutup.

Tak lama, Sandi membalas, “Miss you too .…” Mendengar suara lembutnya seketika lelahku terbayarkan.

***

“Kita naik sepeda dayung, ya!” ajak Sandi bersemangat.

“Kamu gak capek?” tanyaku, dengan memasang wajah memelas, berharap kekasihku ini bakalan iba.

“Nggak.” Wajahnya dihiasi senyum lebar. “Ayo!”

‘Aku yang capek!’

Sayangnya itu hanya bisa terkatakan dalam hati. Demi senyum menawan yang hanya untukku, aku terpaksa maju.

Saat malam menunjukkan pukul 21.22 WIB, aku sedang membayar pesanan di gerai burger. Sementara Sandi terlihat sangat menikmati es krim coklat vanila di genggamannya. Aku menyusul duduk di sampingnya dan mulai membuka bungkusan beef burger sebagai menu makan malam kali ini. Kencan yang sederhana, tapi cukup menyenangkan.

Sayangnya momen itu begitu singkat karena sesaat kemudian ada telepon masuk ke ponsel Sandi. Raut wajahnya berubah cemas saat melihat nama pemanggil di layar, “Rumah sakit ibu”.

Usai berbicara sebentar dengan orang di ponsel, Sandi kemudian menutup telepon.

“Antar aku ke tempat ibu, Bebi. Sekarang.”

***

Malam semakin larut saat aku mulai memasuki jalan menuju rumah sakit. Sesekali aku melirik gadis di sampingku ini. Wajahnya terlihat pucat dan lelah, rambut lurusnya yang mulai terancam kembali ikal, kini terikat asal-asalan.

Setelah beberapa kali hampir kehilangan fokus akibat terganggu dengan kepala yang mendadak pusing, akhirnya sampai juga di rumah sakit dengan selamat.

Sandi segera menghambur masuk ke dalam rumah sakit begitu mobil berhenti.

Dia nyaris berlari melewati lobby, langsung menuju lift. Dia menutup pintu lift tanpa menungguku yang tertinggal beberapa langkah di belakang.

Alhasil aku menunggu lift berikutnya, sambil berharap tak ada hal yang buruk terjadi pada ibu Sandi. Aku berhenti di lantai 5, dan segera keluar begitu pintu lift terbuka.

“Bebi, maaf, tadi aku buru-buru. Aku mau ketemu dokter dulu, ya. Kamu tunggu sini.” Sandi berkata, begitu melihatku. Lalu dia kembali meninggalkanku, usai aku menjawab pertanyaannya dengan mengangguk tanda mengerti. It’s okay. Aku sangat mengerti betapa ibu adalah harta satu-satunya yang paling berharga dalam hidupnya.

Tak hanya sekali dua kali, Sandi sering merasa sedih karena belum bisa membahagiakan ibunya, ditambah lagi kini sang ibu harus mengalami sakit yang merenggut hampir seluruh kesadarannya sebagai satu-satunya sandaran.

“Bebi, sekali lagi, maaf. Tadi aku sampai ninggalin kamu. Maaf, ya.” Sandi menghampiriku dengan wajah sembab. Terlihat sekali dia habis nangis.

“Gak papa. Apa kata dokter?” tanyaku, sambil menghapus sisa-sisa basah di kedua mata gadis itu.

“Kondisi ibu memburuk. Dokter melihat ada gejala jantung lemah. Untuk sementara masih bisa diatasi. Tapi … gimana kalau—.” Aku tak kuasa membiarkannya meracau. Kurengkuh kepala gadis itu dan membiarkannya menangis. Selama beberapa puluh detik kubiarkan dia seperti itu.

“Bagaimana kamu tahu ibu di lantai 5, Bebi?” Pertanyaan tiba-tiba meski dengan suara sedikit serak membuyarkan segala kesenduan yang sedang berlangsung. Seketika tatapan matanya yang basah mengunciku, menuntut penjelasan.

“Kan kamu yang ngasih tahu, Sayang.” Aku tidak bohong.

“Masa, sih? Kapan? Kan kita belum pernah kemari, aku belum pernah mengajakmu meski ingin ….” Suara Sandi terdengar makin lemah. Aku bisa melihat dia teramat lelah.

“Kamu lupa kali. Tadi di mobil pas kamu buru-buru masuk.” Kali ini aku bohong.

Sandi berusaha mengingat … lalu tersenyum. “Kamu memang pinter. Kok aku jadi pelupa, ya ….” ‘Kamu bukan pelupa, hanya tidak ingat, Sayang,’ itu yang kubisikkan … dalam hati.

Malam sudah mendekati subuh ketika kulihat Sandi tertidur di samping ibunya. Mungkin ini adalah malam yang panjang baginya. Aku mengerti. Tapi kecemasanku adalah siapa yang akan terbangun nanti, Sandi, atau yang lain?

Belum sempat aku bergerak perempuan yang kucintai itu terbangun. Sedikit menebak tentang siapa yang akan menyapaku sesaat lagi.

“Mas Riyan? Kok bisa ada di sini?” Suara merdu itu kini terdengar sedikit serak. Tebakanku benar.

“Pagi, Rin! Kau menelponku semalam. Lupa?”

“Masa?” Rina seperti tak percaya. Alih-alih meyakinkannya, aku hanya tersenyum.

Keberhasilan dalam menghadapi situasi tidak kondusif yang menyangkut kekasih adalah perayaan tersendiri bagiku. Aku tak meminta lebih.

Rina Larasandina. Aku sudah bertemu Rina, Laras, dan Sandi. Apakah aku akan bertemu Dina?

Gresik, 29 September 2024 20.13



Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Resensi Buku: Bidadari Bermata Bening

Resensi Buku: Bidadari Bermata Bening

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Syena: Perempuan Bernama Elang

Syena: Perempuan Bernama Elang

Gelap

Gelap

Antologi KompaK’O

Random image