Aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang hilang. Aku berdiri di tengah aula, dikelilingi oleh hiruk pikuk kegiatan di sekitarku. Pengumuman publik menusuk pikiranku. Arah kiri, arah kanan, arah atas, ar...
sajak surealisme Wijatmoko Bintoro Sambodo Pintu yang kumasuki lupa di manasekat-sekat yang tiada sempatbagi kita mengulangi walau sesaatlubang jarum pun menutup celahnyaaku terbiar dalam jebakan keni...
sajak surealisme Wijatmoko Bintoro Sambodo Wanita muda dan gelap durjabukan sebab malam melahap binardia bergeming berada di pepohonansayapnya patah sudah meskipun terbang masih mudahair matanya berde...
1 Bay duduk di studio apartemennya yang sempit—ruang yang terasa luas hanya ketika pikirannya retak. Kanvasnya kosong, seperti selembar ingatan yang lupa ditulis ulang. Di sudut ruangan, jam dinding...
Berapa lama engkau menanggung beban dan cedera?waktu ialah obat mujarab manusiasampai-sampai bekas lukamu juga tak lagi berasatidakkah kini kau dapat tergelak?atau jikalau ditekan dogma, kita masih bi...
1 Namun, Ben tidak memberinya waktu untuk berpikir. Ia segera menarik Ki Plenyun ke pintu kamar di seberang WC. “Ini dia, Ki! Pemuda itu! Namanya Ben. Dia sedang terlelap di jaman ini, patah hati ka...
1 Ben menggeleng kuat. Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke mata Ki Plenyun. Ketegasan yang datang dari kelelahan tiga bulan melawan takdir. “Tidak, Ki,” tolak Ben, suaranya lebih tegas dari ya...
Entah ini cerpen ataupun prosa. Tapi sang pena sekadar ingin berbagi cerita. Munchkin saja ini sekadar abstraksi dari kesimpang siuran cerita-cerita beterbangan lantas melimpahkan gerimis menjadi huja...
Gerimis malam ini meninggalkan hanya sepi. Meluruh satu demi satu membawa uap-uap kesunyian yang beku. Pada beberapa tempat sebagian dari mereka terdampar, pada atap rumah, juga pada daun dan rerantin...
Di rumah kami, barang-barang menghilang setiap hari. Biasanya terjadi malam hari, ketika kami duduk di lincak reyot di pekarangan belakang rumah, menghadap padang ilalang meninggi yang membentan...














