Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 53

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 53

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 54 of 54 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Wanita itu hampir sebaya dengan ibu tirinya. Tapi dia terlihat lebih cantik, dan ada kemiripan wajahnya dengan Silvia.

Seperti ada kekuatan yang datang membantunya, wanita itu bisa lepas dari kedua bodyguard yang sudah terlatih dengan sangat baik itu.

Setelah kedua tangannya lepas dari kedua bodyguard, wanita itu berlari memeluk Silvia.

Silvia tak bergeming sedikit pun. Dia ingin melepaskan diri dari wanita itu. Tapi entah kenapa dia merasa mendapatkan pelukan hangat dari seorang ibu.

Wanita itu terus menangis tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Saat itu Iyes segera menarik tangan wanita itu dan gantian dia yang memeluk Silvia dengan erat.

“Lepaskan dia. Dia anakku. Tidak boleh ada orang lain yang mengaku sebagai ibunya selain aku.” Ratapan Iyes membuat Silvia yang diam tak bergeming melebarkan matanya.

“Maksud Ibu?” kata-kata itu keluar dari mulutnya begitu saja.

Iyes terdiam, dia menyesal telah mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang mengarahkan dia untuk mengetahui kenyataan bahwa wanita yang memeluknya tadi adalah ibu kandung Silvia.

Wanita itu pun langsung menyambut kata-kata Silvia.

“Ya, Nak. Aku adalah ibu kandungmu.”

“Ayah. Apa semua ini? Apa benar Ibu ini adalah ibu kandungku?”

Silvia menatap ayahnya yang sedang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

Sedangkan Iyes terduduk di sofa setelah pelukannya di lepas paksa oleh Silvia.

Hermansyah tidak menjawab. Dia menoleh ke arah wanita itu dan berkata, “Apa kamu puas melihat keadaan seperti ini?” matanya begitu nyalang menatap perempuan itu. “Inikah yang kamu ingin kan?” bentaknya lagi.

Silvia memegang tangan ayahnya.

“Ayah. Lihat aku, dan katakan apa betul ibu itu ibu kandungku?”

Hermansyah ingin menjawab tidak, tapi dia tidak ingin lagi berdusta dengan anaknya. Dia mengangguk dengan lemah.

“Ya. Benar. Dia adalah ibu kandungmu. Dia meninggalkanmu di rumah sakit. Waktu itu ayah sedang membawa ibumu berobat ke rumah sakit. Ayah melihat seorang anak kecil menangis kehilangan ibunya. Setelah lama menunggu, ibumu tak kunjung datang. Akhirnya kami putuskan untuk membawamu pulang. Sebelum kami membawamu pulang, kami menebus obat luka bakar yang ada di tanganmu dan kami juga memberikan alamat rumah dan nomor ponsel Ayah kepada pihak rumah sakit agar ibumu bisa menjemputmu.”

“Lalu, ibuku tidak datang?” tanya Silvia sambil menitikkan air mata.

“Dia memang datang. Tapi bukan untuk menjemputmu. Melainkan untuk menitipkanmu. Dia bilang dia akan datang setelah dua tahun. Tapi ternyata dia baru datang menemui Ayah dua hari yang lalu.”

Silvia berjalan ke arah wanita itu dan bertanya dengan suara lirih, “Apa semua yang ayahku katakan itu benar?”

“Ya. Benar Nak. Tapi ada yang belum dikatakan ayahmu. Dan Ibu sudah mengatakan padanya.”

“Apa?”

“Ayah kandungmu menikah dengan wanita lain. Ibu terpaksa bercerai dengannya. Ibu bekerja jadi buruh cuci. Tapi secara tidak sengaja tanganmu terluka karena setrika panas. Ibu tidak punya uang untuk menebus obat luka bakarmu. Ibu sengaja mengambil foto kita berdua, lalu ibu pergi meninggalkanmu. Dari jauh ibu masih memperhatikanmu menangis sendiri, tidak ada orang yang berinisiatif untuk menolongmu. Ibu ingin kembali membawamu bersama ibu. Tapi sebelum ibu sampai di tempatmu, ada pasangan suami istri yang mendekatimu. Mereka menjagamu dan membelikanmu susu, mereka juga menebus obat luka bakar untukmu. Melihat kebaikan mereka ibu merasa lega dan berani meninggalkanmu dengan mereka, karena mereka orang-orang yang baik. Ibu mengambil alamat dan nomor ponsel mereka. Lalu ibu datang menemui mereka ke alamat itu. Sebelum Ibu bicara dengan mereka, ibu memperhatikanmu dari kejauhan. Ibu lihat tawamu begitu lepas bersama mereka. Itulah sebabnya ibu berani meninggalkanmu dengan mereka. Lalu ibu bekerja sebagai TKW di negeri orang. Ibu menikah di sana. Tapi sekarang ibu pulang untukmu, Nak.”

“Lalu bagaimana dengan suami Ibu?”

“Dia sudah menceraikan Ibu.”

“Apa karena dia sudah menceraikan Ibu, makanya Ibu ingat denganku?”

“Maafkan Ibu, Nak.” Tangis wanita itu semakin menjadi.

Silvia tidak tahu lagi harus bicara apa. Dia marah karena ibunya tega meninggalkannya. Tapi bagaimana pun juga itu adalah ibu kandungnya. Lalu dia teringat dengan bungkusan paket yang dia buka tadi pagi.

“Apa Ibu mengirimkan dua paket kepadaku?”

“Paket yang berisi dua lembar foto, Nak? Iya betul. Itu Ibu yang kirimkan. Karena Ibu ingin mengingatkanmu dengan peristiwa di rumah sakit itu.”

Silvia tidak tahu lagi, apa dia harus marah atau senang dengan kembalinya ibu kandungnya.

Kejadian ini sungguh menguras emosinya. Dia menangis, karena dia sedih harus mengetahui kenyataan bahwa ayah yang dibanggakannya adalah ayah kandungnya itu ternyata hanya ayah angkatnya.

Apa iya ayahnya bukanlah ayah kandungnya? Kalau memang ayahnya hanya sekadar ayah angkat, lalu kenapa dia menyerahkan kursi kepemimpinan di perusahaannya kepadanya? Kenapa bukan kepada Tiara yang sudah jelas anak kandungnya?

Tubuhnya luruh ke lantai. Dadanya terasa sesak menahan tangis. Kenyataan ini terasa bagai sebuah mimpi untuknya.

Dia bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Apakah dia harus menerima wanita itu sebagai ibu kandungnya atau dia harus membenci ibu yang sudah menelantarkannya selama bertahun-taun.

Dia berlari ke kamarnya. Dia membuka laci tempat dia menyimpan foto anak kecil bersama ibunya itu. Dia memperhatikan ekspresi wajah wanita yang ada di dalam foto tersebut. Dia perhatikan dengan sangat detail. Cara memandang, senyuman wanita itu, garis wajahnya cara dia menggenggam tangan anak itu, tidak dia lewatkan sedikit pun juga.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 52

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image