
“Baik, sekarang pergilah!”
“Kau mengusirku?”
“Menurutmu?”
“Tapi, ini—rumahku ….” Rama menghela napas.
“Jadi, maksudmu … aku yang harus pergi?” Shinta berusaha menahan nada suaranya agar tidak meledak.
“Bukan … bukan itu maksudku.” Untuk kesekian kalinya Rama menghela napas panjang. “Baiklah, aku yang pergi.”
“Bagus!” Shinta lebih memilih masuk ke dalam kamar dengan tenang. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawakan tas travel lalu melemparkannya begitu saja ke dekat kaki suaminya. Rama tertegun, tak mampu berkata-kata.
“Jika aku memintamu untuk melupakan wanita itu, apakah kau akan melakukannya, Mas?” Shinta bertanya sekali lagi. Meski hatinya hancur, dia tetap ingin tahu apakah usahanya untuk mempertahankan rumah tangga yang masih seumur jagung ini bisa berhasil. Dia tidak ingin merelakan semuanya begitu saja tanpa perlawanan.
“Entahlah ….”
“Kau mencintainya?”
“Sama seperti aku mencintaimu.”
“Itukah alasanmu tak bisa memilih?”
“Ya. Kalian sama-sama berarti bagiku.”
“Tapi dia ibu tirimu, Mas!” Shinta berteriak histeris. Rama menatap istrinya yang berurai air mata dengan pandangan pilu.
“Dia juga istri pertamaku ….”
_______
Tag:flash fiction











2 Komentar
Mengejutkan!
Terima kasih sudah singgah😁