Kegiatan yang monoton membuat anak laki-laki berusia 14 tahun itu jenuh. Pagi belajar di madrasah sanawiah, siang sampai malam kembali disibukkan dengan kegiatan keagamaan di dalam pesantren.
“Heh, Gembul! Makan mulu!” Dipukulnya tubuh gemuk tanpa baju. “Besuk kita ijin ke pasar, yuk!”
“Ngapain, Gum?” sahut Zaki sambil makan keripik kentang bumbu balado.
“Kamu nanyea, hah? Kita internetan keles, Ki!”
“Tadi bilangnya ke pasar.”
“Itu cuma modus biar dibolehin sama ustad. Bilang mau beli apa kek yang di koperasi nggak ada. Paham?”
Setelah lulus sekolah dasar, Agum melanjutkan pendidikannya di pesantren asuhan Ustaz Fikra. Satu tahun lebih di pesantren, anak berkulit putih tersebut belum bisa menerima keadaan. Dia terus mengeluhkan tentang peraturan kolot dan fasilitas yang serba terbatas kepada Zaki, teman sekamarnya.
“Sebentar saja, Us. Kami beli kertas milimeter terus pulang,” rayu Agum diikuti anggukan dari Zaki.
“Kalian pesan saja sama petugas koperasi.” Ustaz Fikra menjawab singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka. “Aturan pesantren ini sudah jelas, kan?”
Penolakan ustaz berlesung pipit tersebut membuat Agum geram. Di sela istirahat sekolahnya, dia mengajak Zaki ke ruang baca perpustakaan.
“Bisa makin kudet kita terkungkung di sini, Mbul!” Agum mengacak rambutnya yang ikal dengan kesal, sementara Zaki terus mengunyah permen.
“Namaku Zaki, Gum. Sampeyan beneran lupa apa gimana, sih?”
“Bomat, dah!” Alih-alih peduli, Agum justru mengeluarkan jurus nekatnya. “Aku mau kabur …, bisa jadi fosil kelamaan di sini! Bengek maksimal!”
“Ide bagus, Gum. Aku akan ikut.”
“Beneran, Mbul?”
“Ya, aslinya aku juga nggak betah di sini.”
Agum begitu gembira saat tahu pemilik rambut keriting tersebut seirama dengan kemauannya. Mereka pun menyusun strategi dengan suara pelan.
Malam harinya, kedua remaja tanggung tersebut masih melanjutkan obrolan yang sempat tertunda karena pelajaran. Untuk meminimalisir kecurigaan dari teman-temannya, mereka sepakat tidak membawa barang apa pun dari pesantren kecuali tas sekolah dan jaket.
“Besuk, begitu keluar dari gerbang madrasah … kita langsung pergi ke ujung gang terus naik angkot. Jangan lupa bawa jaket buat nutupin identitas baju, Mbul.”
“Siap laksanakan, Gum!”
Gedung antara madrasah dan pesantren memang terpisah, tetapi pengawasannya sangat ketat. Agum dan Zaki harus pintar mencari celah untuk keluar dari zona petugas keamanan. Beruntungnya, saat mereka lari ke ujung gang tidak ada yang peduli. Sesuai rencana, mereka lekas mengenakan jaket lalu buru-buru naik angkot.
Terminal sudah di depan mata, Agum dan Zaki bertanya kepada satpam yang berada di pintu masuk. Satpam pun menjelaskan dengan detail tentang rute dan syarat naik bus ke tempat tujuan masing-masing. Mereka wajib membeli tiket terlebih dahulu karena bus jurusan luar kota tidak menerima pembayaran secara tunai. Setelah mendapat penjelasan dari satpam, mereka segera menuju loket pembelian tiket.
Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan hasilnya. Mereka mendadak lesu saat aksinya dihentikan oleh Ustaz Fikra yang tiba-tiba saja muncul sambil tersenyum manis.
Kjoktan, 230625
#danu
#fiksi
#cerpen











