Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 48

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 48

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 49 of 50 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Silvia diam sambil menyeruput minumannya secara perlahan. Kali ini pandangannya tertuju hanya pada minumannya.

Dia ingin sekali meninggalkan tempat itu, agar dia tidak melihat adegan di depan matanya.

Sementara dari kejauhan seseorang yang sedang mengawasinya sangat gembira melihat hal itu.

“Tidak sia-sia aku menyuruh perempuan itu untuk datang ke Indonesia. Dia memang sangat bisa diandalkan.” Padahal dia hanya bisa melihat tapi tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.

Dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Dia ingin segera sampai di rumahnya atau setidaknya berada di dalam mobilnya. Dia ingin melepas atribut yang sengaja dia pakai untuk menyamar. Saat dia berjalan terburu-buru dia menabrak seorang pelayan kafe tersebut, sehingga kumis palsu yang dia pakai terkulai sebelah.

“Maafkan saya tuan,” ucap pelayan itu dengan sopan. Tapi saat melihat kumis palsunya terkulai karena copot sebelah, dia menjadi kasar.

“Siapa kamu! Apa kamu seorang perempuan?” tanyanya garang.

Seketika Rani yang menyamar menjadi seorang lelaki berkumis itu menarik pelayan kafe itu menjauh ke ruangan lain. Dia tidak ingin jadi bahan tontonan, sehingga Silvia, Dana dan Kanaya mengetahui keberadaannya di sana. Pasti akan panjang urusannya jika mereka melihatnya menyamar di sana.

“Lepaskan saya atau saya akan berteriak!” bentak pelayan itu.

Rani segera menutup mulut pelayan itu dengan beberapa lembar uang seratus ribu.

“Kenapa Anda memberi saya uang? Apa anda sedang menyuap saya agar tidak melaporkan Anda ke pihak keamanan?”

Rani segera berpura-pura sedih dan menangis. “Saya memang menyuap kamu. Tapi bukan untuk menutupi kejahatan saya. Saya hanya ingin memata-matai suami saya yang sedang berselingkuh dengan….”

Dia tidak melanjutkan lagi ucapannya.

Pelayan itu ikut terbawa suasana yang diciptakan Rani. Dia memberikan kembali semua uang yang diberikan Rani kepadanya.

“Saya mengerti. Ambillah uangmu kembali. Aku tidak akan melaporkanmu kepada keamanan. Semoga misimu berhasil.”

Pelayan wanita itu pun meninggalkannya.

“Aku memang membutuhkan doa seperti itu, tapi kamu sudah membuang-buang waktuku. Huh dasar pelayan rendahan,” makinya setengah berbisik. Dia pun berlalu meninggalkan kafe itu.

Kembali ke Silvia yang sedang dilanda rasa cemburu. Dia mencoba membubarkan pelukan Dokter Dana dengan cara berdeham.

“Eheeem….”

Dokter Dana paham dengan maksud Silvia berdehem. Dia melihat Silvia dan segera melepaskan pelukannya terhadap Kanaya.

Kanaya tidak merasa kesal sama sekali. Dia sudah mengikhlaskan Dokter Dana bertunangan dengan Silvia semenjak dia melihat video tadi. Sekarang dia bertekad untuk membongkar semua kejahatan Rani.

“Mari kita susun rencana untuk membongkar kejahatan Rani,” ucap Kanaya berapi-api setelah dia menghapus air matanya dan menormalkan lagi perasaannya. Sebagai seorang ibu, dia tidak rela ada orang yang berani untuk menyakiti anaknya.

Mereka bertiga pun mengatur strategi untuk menjebak Rani.

Kembali ke Pazel yang uring-uringan karena hatinya tidak tenang menyaksikan wanita yang pernah mendampingi hidupnya setiap hari bertambah cantik dan modis. Dia hanya dapat melihat tanpa dapat menyentuh.

Sekarang dia sudah menjadi tunangan orang lain. Apalagi yang menjadi tunangannya adalah seorang bos besar yang tidak sebanding dengan dirinya yang hanya seorang karyawan. Meski dia menjabat sebagai kepala keuangan, tetap saja pekerjaannya hanya seorang pegawai perusahaan.

Saat jam pulang kantor, Pazel bersiap-siap untuk pulang. Dia sudah membereskan semua perkakas dan alat kerjanya. Dia melangkah menuju pintu.

Langkahnya dihentikan karena ada getar ponsel yang sedang digenggamnya. Dia menggeser layar ponselnya.

“Halo.” Dia tidak mengenal nomornya tapi dia tetap menjawab dengan sopan.

“Ya, halo. Pazel. Apa saya bisa bertemu dengan anda?” tanya seorang wanita yang ada di ujung ponselnya.

“Anda siapa? Kenapa ingin bertemu dengan saya?” tanyanya heran.

“Nanti Anda akan tahu siapa saya. Jika anda masih menginginkan Silvia untuk kembali dengan Anda, maka temui saya sekarang di kafe Berlian. Tapi jika Anda tidak datang menemui saya maka saya anggap Anda tidak menginginkan Silvia lagi. Tidak lama lagi dia pasti akan menikah dengan Dokter Dana.”

Wanita itu mematikan sambungan teleponnya.

Mendengar Silvia pasti akan menikah dengan Dokter Dana membuat dia tidak tahan. Dia tidak akan bisa menerima kenyataan itu.

Bergegas dia membuka pintu dan berjalan setengah berlari menuju tempat parkir.

Sesampainya di sana dia segera masuk ke dalam kendaraannya dan memasang kunci mobil. Setelah menstater, tak sabar dia segera melaju ke arah jalan dan membelah jalanan yang sedang sibuk saling berpacu demi bisa sampai di tempat pemberhentiannya. Begitulah kesibukan lalu lintas di setiap pagi dan sore harinya.

Karena dia tidak sabar ingin menemui wanita yang bisa membantu untuk mempersatukannya dengan Silvia dia jadi melupakan janji dengan istrinya.

Dia sudah berjanji akan pulang tepat waktu untuk membawa istrinya ke dokter kandungan untuk pemeriksaan bulanan.

Fokusnya sekarang hanya untuk Silvia. Dia tidak dapat membayangkan Silvia bersanding dengan laki-laki lain. Apa pun syarat yang akan diberikan wanita itu akan dia sanggupi jika memang dia bisa mempersatukannya dengan Silvia.

Sekarang Silvia akan menjadi prioritasnya. Dia akan menikahi Silvia lagi meskipun tanpa persetujuan dari Rima. Apalagi dia sangat tahu kalau Rima hanya mencintai uangnya. Selagi dia bisa memenuhi kebutuhan Rima, dia tidak akan menghalangi pernikahannya dengan Silvia nanti.

Setelah beberapa menit berpacu dengan kendaraan lain, akhirnya dia sampai di kafe Berlian. Bergegas dia mengunci pintu mobilnya dan kemudian berjalan ke dalam.

Seorang wanita cantik dan modis melambaikan tangan kepadanya di sebuah meja yang ada di sudut ruangan kafe. Meja itu agak berjarak dibandingkan dengan meja yang lain.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 47 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Resensi Buku: Bidadari Bermata Bening

Resensi Buku: Bidadari Bermata Bening

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Syena: Perempuan Bernama Elang

Syena: Perempuan Bernama Elang

Gelap

Gelap

Antologi KompaK’O

Random image