“Kami ingin kamu bekerja sama untuk mengumpulkan bukti kejahatannya agar kita bisa menjebloskan orang yang sudah berani untuk melakukan tindak kejahatan kepada anak yang bahkan tidak mengerti dengan urusan orang dewasa,” terang Silvia lagi.
“Boleh aku bertanya kepadamu, Dana?” tanya Kanaya sambil menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan Silvia.
“Tanyalah, Kanaya.”
“Jika dia tidak berniat untuk melenyapkan Silvia, apa kamu masih mau menjebloskan dia ke penjara meski kamu sudah mempunyai bukti yang kuat di tanganmu?”
“Sebenarnya waktu aku mendapatkan video itu dari papaku aku penasaran dan setelah sampai di rumah, aku menonton video itu. Terus terang saat itu aku ingin sekali menghabisinya, atau setidaknya menjebloskannya ke penjara dengan bukti video itu. Tapi aku mencoba memikirkan lagi bahwa dia itu sahabat dekatmu. Dan dia tahu kalau Kaila adalah putrimu. Mana mungkin dia sengaja melakukannya. Jadi aku memberikannya satu kesempatan. Tapi, ternyata dia juga mengulangi perbuatan yang sama kepada Silvia. Dari situ aku berpikir kalau dia memang harus diberi pelajaran yang bisa membuat dia jera. Aku ingin bukti yang lebih kuat lagi untuk memberatkan hukuman dia saat kita melaporkan kejahatannya kepada pihak yang berwajib.”
Kanaya menoleh kepada Silvia. Dia menggenggam tangan Silvia sambil menitikkan air mata. “Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawa putriku.”
“Sudahlah Kanaya, andai kamu atau orang lain yang berada di sana saat itu, pasti akan melakukan hal yang sama.”
“Tidak semua orang sebaik dirimu Silvia. Aku berjanji kepada kalian. Aku akan membantu kalian, meski nyawaku jadi taruhannya. Karena aku sangat berutang budi kepadamu. Dana tidak salah mengatakan kalau dia beruntung memiliki kamu.”
“Mas Dana juga beruntung karena pernah memiliki wanita secantik dan sebaik kamu. Kaila sangat beruntung memiliki orang tua ayah dan ibu seperti Mas Dana dan kamu, Kanaya.”
Kanaya menautkan alisnya dan menatap Dokter Dana untuk menyelidik, apa dia tidak memberi tahu Silvia tentang hal yang sebenarnya. Dan seperti dugaannya, dari ekspresi Dokter Dana dia dapat menyimpulkan kalau dia belum memberi tahu Silvia hal yang sebenarnya.
“Sebenarnya Kaila hanya anakku, Silvia. Dia tidak ada hubungan darah dengan Dokter Dana,” terang Kanaya.
“Maksudnya gimana?” tanya Silvia.
Dia berpikir kalau sekarang saat yang tepat untuk memberitahu hal yang sebenarnya, agar prasangka buruk Dokter Dana kepadanya juga hilang. Lagi pula dia merasa dia akan aman, karena ada beberapa pengawal pribadi Silvia yang siaga menjaga keselamatan mereka. Setelah menghela napas beberapa kali, dia mulai menjelaskannya.
“Kaila adalah putriku dengan laki-laki bajingan tengik yang sengaja dibayar oleh Rani. Saat itu aku dijebak di sebuah pesta ulang tahun salah satu teman kami. Mereka berdua sengaja memberiku minuman dan obat perangsang. Sampai akhirnya aku melakukan hubungan itu dengan bajingan itu. Mereka bersandiwara sebagai pasangan kekasih dan menudingku sebagai perebut kekasihnya. Karena itu Rani membenciku, sampai dia menginginkan agar aku meninggalkan Dana dan putriku. Kalau tidak, dia mengancam akan membunuh ibuku yang sedang koma dan juga menghabisi bayiku. Itulah sebabnya aku meninggalkan Indonesia. Dan kamu beruntung memiliki Dana, Silvia. Karena dia laki-laki yang mempunyai prinsip pantang menyentuh perempuan sebelum ijab kabul, bahkan dia belum pernah menciumku.”
Dia berhenti bicara sampai di situ. Air matanya luruh. Badannya berguncang menahan Isak tangisnya.
Mata Dokter Dana juga berawan. Rasa panas di matanya tidak bisa menyaingi rasa panas di hatinya. Dia benar-benar tidak menyangka orang yang selama ini menguatkannya saat dia merasa kehilangan pijakan saat Kanaya pergi meninggalkannya, ternyata adalah orang yang sudah menyebabkan Kanaya pergi dan menghancurkan hatinya.
“Apa benar semua yang kamu katakan, Kanaya?” tanya Dokter Dana lirih.
Kanaya tidak menjawab, tapi isak tangisnya sudah menjelaskan semuanya.
Dokter Dana berdiri dan memeluk Kanaya. Dia tenggelam dalam penyesalan karena sudah menganggap Kanaya sebagai wanita yang tidak berpendirian dan ibu yang tidak bertanggung jawab.
Air matanya jatuh ke atas kepala Kanaya yang sedang duduk menangis sambil memegang tangan Dokter Dana yang memeluknya dari samping sambil agak membungkukkan badannya.
Hati Silvia pedih melihat pemandangan di depan matanya. Dia juga merasakan ada hawa panas di pelupuk matanya. Pada saat Kanaya berusaha membuat dia cemburu, dia sama sekali tidak cemburu. Tapi sekarang Kanaya tidak mempunyai niat yang culas, namun dia begitu cemburu melihat tunangannya memeluk mantan pacarnya.
Seharusnya dia merasa gembira, karena ternyata Dokter Dana belum pernah menyentuh perempuan itu. Itu artinya dialah perempuan pertama yang akan mendapatkan keperjakaan Dokter Dana. Dia juga perempuan pertama yang sudah mendapatkan ciuman dari Dokter Dana.
Dia berupaya untuk meredam rasa cemburunya. Sebuah hubungan harus dilandaskan atas dasar kepercayaan.
“Aku harus percaya kepada Mas Dana bahwa dia hanya mencintaiku. Dan dia memeluk wanita itu pasti hanya karena kasihan, tidak lebih dari itu,” gumamnya dalam hati.
“Tapi bagaimana kalau cinta lama bersemi kembali? Karena dia kan tidak bermaksud untuk meninggalkan Mas Dana, sudah pasti dia masih sangat mencintai Mas Dana. Dan bagaimana jika Mas Dana masih mencintainya juga. Karena dia kan hanya korban dari kebiadaban Rani dan orang suruhannya. Apa aku sanggup kehilangan Mas Dana? Oh tidak. Ya Allah Ya Rabbi. Jangan biarkan semua itu terjadi. Aku tidak akan kuat menjalaninya,” bisiknya lagi dalam hati.








