Home / Genre / Chicklit / 15. Salju di Ifran

15. Salju di Ifran

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 16 of 21 in the series Sebiru Langit Casablanca

Beberapa tahun lalu…

Karima sangat bahagia usai kedua orang tuanya mengajaknya berlibur ke Ifrane, kota kelahiran sang ibu. Selama liburan di Ifrane, Karima tidak pernah menyia-nyiakan waktu bermain-main salju yang turun di musim dingin.

Ya. Karima beserta kedua orang tuanya menikmati waktu kebersamaan mereka di kota yang diambil dari bahasa Tamazigh yang berarti gua. 

Little Swiss from North Africa, itulah julukan bagi kota Ifrane. Salah satu kota di Maroko yang memiliki keindahan hampir sama seperti di Swiss. 

“Karima, tahun ajaran barumu sepertinya lebih meriah dari pada tahun-tahun sebelumnya,”kata Yasmin, sang ibu. 

“Bagaimana Ibu bisa tahu?”tanya Karima penasaran. Gadis kecil itu membetulkan hijabnya yang sedikit agak longgar karena  terpaan angin yang terus menerus berkibar. Udara yang dingin membuat gadis kecil itu menggigil beberapa kali.

Yasmin menyodorkan ponselnya kepada Karima. 

“Coba kau lihat. Bukankah teman-temanmu akan semakin banyak?” ujar Yasmin tersenyum ke arah putrinya. 

“ Ya, tentu saja. Aku senang jika bertemu banyak anak-anak sebayaku.” Gadis kecil berumur sembilan tahun yang cara berpikirnya melebihi usianya itu adalah anugerah tersendiri bagi Yasmin. 

“Kau ingat Nouhaila, bukan?”

Karima terdiam sejenak. Kedua matanya yang bulat indah kini menyipit, ketika hangat sang surya membelai lembut pipinya yang terasa dingin. 

“Ya! Aku ingat, Bu. Dia saingan terberatku di kelas!” 

Karima menggenggam bola-bola salju yang baru saja dibuatnya. Lalu melemparkannya beberapa kali ke arah pepohonan yang semua tertutupi salju. 

“Benarkah? Apakah dia lebih pintar darimu, Nak?”

“Sebenarnya tidak juga, Bu. Kami memiliki kelebihan sendiri. Aku dan Nouhaila sebenarnya tidak bersaing. Kami hanya menikmati pelajaran yang kami suka.”

“Bagus jika kau tidak menganggapnya saingan. Kata-katamu juga benar jika dia bukan saingan. Kalian punya potensi sendiri-sendiri.”

Karima meninggalkan ibunya. Berlari-lari di antara salju-salju yang menutupi. Dingin  terasa menusuk tulang. Namun, Karima tak peduli. Di sana, matahari bersinar menghangatkan bumi Ifrane.

Tak jauh dari tempatnya berada, dua anak laki-laki tengah bermain bola salju.

“Tendang ke arahku bolanya, Yazid!” perintah salah satunya dengan berteriak keras.

“Terimalah ini, Ismail!”

Anak laki-laki bernama Yazid itu menendang bolanya ke arah temannya. Mereka tampak asyik bermain tanpa menghiraukan butiran-butiran salju yang terus turun menerpa mereka. Gelak tawa terdengar dari keduanya. Terkadang, mereka berguling-guling di atas putihnya salju itu bak di tempat tidur yang biasa mereka gunakan untuk tidur.

Permainan sepakbola akhirnya berhenti ketika seseorang memanggil mereka berdua, “Anak-anak, cepat masuk! Jangan terlalu lama bermain salju.”

“Sebentar,Ayah,” jawab Yazid kepada pria itu yang ternyata ayahnya.

“Sebentar, Paman. Kami ingin bermain sekali lagi!” teriak Ismail sekencang-kencangnya.

Ayah Yazid, Mehdi, hanya melihat keseruan  mereka dari tempatnya. Dia tidak berani mengganggu kesenangan anak dan keponakannya. Dibiarkannya mereka bermain hingga puas.

Mending sebenarnya sudah menyiapkan empat gelas coklat panas dan roti untuk mereka semua.

Hingga akhirnya kedua anak laki-laki itu selesai bermain dan segera masuk.

“Minumlah coklatnya selagi masih panas, supaya badan kalian hangat,” ujarnya.

“Baik, Paman,” jawab Ismail tersenyum ceria.

Mehdi menyiapkan perapian untuk menghangatkan tubuh. Memasukkan satu per satu balok kayu kering yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Ia mulai menyalakan api di tungku. Anak-anak itu duduk di karet dekat perapian sembari menikmati roti dan coklat panas mereka.

“Besok kami akan bermain salju lagi, Ayah,” kata Yazid.

“Boleh. Tapi kalian tidak boleh nakal.”

“Tidak, Paman. Kami anak baik.”

“Bagus.”

Sebiru Langit Casablanca

4. Pesta Yennaer 6. Dua Sahabat Kecil

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image