Beranda / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen 20260604
3

Kesabaran (patience) adalah satu dari sekian buah-buah Roh yang paling sulit untuk dilakukan. Kita sering sekali menasihati orang-orang lain dengan begitu mudahnya: Yang sabar, ya! Atau, Sabar itu subur. Padahal, bicara jujur, kesabaran jauh lebih mudah teorinya daripada praktik.

Beberapa hambatan kesabaran yang penulis sering alami dan amati dari teman-rekan di sekitar kurang-lebih disebabkan beberapa hal ini:

  1. Perbedaan karakter/kepribadian dengan orang lain. Sebagai contoh, sebut saja namanya A, seorang rekan penulis berkepribadian introvert menyukai slow morning. Berkegiatan pagi tanpa diganggu, tanpa dibumbui dialog kurang perlu. Sedangkan B, satu dari anggota keluarga besarnya, berkepribadian ekstrovert. Jika pagi-pagi secara kebetulan A diajak ngobrol oleh si B, maka A harus hidup-hidupan (ya, bukan mati-matian) bersabar agar unek-unek B tidak sampai menghancurkan slow morning-nya. Sebagai orang yang juga berkepribadian introvert, penulis sangat mengerti pada hal semacam ini, namun tentunya kita tidak dapat memaksakan kehendak semaunya. A harus belajar mendengarkan curhat B tanpa membuat dirinya maupun B terjatuh dalam perdebatan. Utas tali kesabaran seakan ditarik bak tambang yang sewaktu-waktu bisa lepas dari genggaman.
  2. Badai masalah yang tiba-tiba menerpa. Kesabaran diuji saat problem atau ujian kehidupan datang tanpa diundang bak angin ribut ketika cuaca seharusnya cerah saat musim kemarau. Rasa sabar ibarat pegas ditekan/digencet hingga nyaris datar, kehabisan space, nyaris tak bisa bergerak. “Padahal bukan gara-gara saya, lho!” Kita sudah merencanakan yang terbaik, kita sudah berhati-hati, sudah membuat rencana terbaik, eh, ternyata ada masalah! Masih harus tahan napas, belum bisa embus lega sebelum masalah terpecahkan.
  3. Penantian atau penungguan yang dirasa terlalu lama. Sudah human nature jika kita kerap merasa kurang sabar, ingin segala sesuatu cepat atau instan. Terburu-buru mau nikah, padahal baru beberapa bulan (bahkan hari!) berkenalan. Sudah nikah, terburu-buru mau punya keturunan. Dan selanjutnya, dan selanjutnya. Manusia ingin semua keinginan cepat terjadi sering karena dianggap waktu paling baik.

Inilah beberapa pengingat serta cara menumbuhkan/menebalkan kesabaran:

  1. Dalam Perjanjian Lama, sebuah ayat populer dari Kitab Pengkhotbah 3:1 (TB) berbunyi: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Karena sudah ada waktunya, kita tidak perlu berusaha menguber-uber. Lebih cepat bukan berarti pasti lebih baik!
  2. Dengan berusaha sabar, membiarkan waktu berjalan sesuai kehendak Tuhan, kita diajarkan untuk mengamati, mempelajari serta menghargai sebuah proses. Waktu-Nya sudah ditetapkan dari awal mula segala sesuatu. Tuhan ingin agar kita sebagai ciptaan tidak menganggap-Nya seperti ahli sulap/sihir atau peri yang melambaikan tongkat lalu semua langsung terjadi sesuai inginnya kita. Dia menyediakan lebih dari apa yang terlintas dalam benak!
  3. Sabar dan tenang adalah ‘kunci’ (patience and calm are ‘the key’) menuju hasil yang diinginkan. Tuhan Yesus ‘menunda’ meredakan badai di Danau Genesaret bukan karena Dia tidak mampu atau santai-santai aja, melainkan karena Dia ingin menguji iman Simon Petrus dan murid-murid-Nya. Apakah mereka cukup sabar menanti datang pertolongan-Nya atau kesal, takut, khawatir, serta marah-marah tidak karuan?
  4. Milikilah mindset indah: ‘tidak grasa-grusu’ atau ‘tidak terburu-buru’. Keinginan untuk memburu segala sesuatu (waktu, hasil, materi) adalah pangkal dari banyak hal negatif; ketidakpuasan, kekecewaan, bahkan dosa. Tentu saja sikap gesit/tangkas, ingin cepat-cepat bukan dosa, melainkan apabila tidak waspada, bisa jadi awal dari banyak kejadian kurang diinginkan. Terburu-buru di jalan, rentan mengalami kecelakaan. Terburu-buru ikutan investasi tak jelas yang tampak menggiurkan, malah ujung-ujungnya tertipu. FOMO dalam berbelanja atau makan-minum enak, di akhir bulan malah boncos. Berpikirlah sedikit lebih panjang sebelum merespon atau melakukan sesuatu.

Sabar, sabar dan sekali lagi, sabar. Orang sabar lebih dari pemenang, demikian sebuah kutipan anonim. Sebagai penutup, penulis bagikan sebuah ayat Alkitab: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Demikianlah bunyi Amsal 16:32 (TB)

Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.


Tangerang, 3-4 Juni 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *