Rekaman itu menunjukkan Dokter Dana yang sedang berpelukan dengan seorang wanita di sebuah taman.
Silvia terduduk di kursi kantornya. Dia heran, kenapa ada orang yang sengaja merekam dan mengirim video itu kepadanya.
Sesaat kemudian dia tersenyum. Karena dia baru menyadari, bahwa hubungannya dengan Dokter Dana telah membuat perasaan beberapa orang menjadi hancur tak berbentuk.
Mungkin banyak yang terluka, karena Dokter Dana pria yang sempurna untuk dijadikan imam dalam keluarga.
“Tapi di antara mereka siapakah yang paling membenci hubungan kami, sehingga rela melakukan banyak cara untuk memisahkan kami? Apa kalian pikir rekaman seperti ini akan bisa mempengaruhi hubungan kami? Hmmm … tapi aku akan mengapresiasi usaha kamu atau kalian andai aku tahu siapa pengirimnya,” gumamnya dalam hati.
Dia kembali berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya. Tapi saat itu, karyawannya memberitahu kalau ada seseorang yang menemuinya.
“Bu. Ada seseorang yang ingin menemui Ibu. Katanya dia direkomendasikan oleh Pak Hermansyah,” ucapnya sopan.
“Aku sedang ada urusan di luar. Tolong suruh dia datang lagi besok jam delapan. Jangan lupa CV-nya tinggalkan di meja kerja saya.”
“Baik, Bu.”
Silvia berlalu meninggalkan kantornya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan tunangannya.
Dia sangat tahu kalau sekarang ini tunangannya itu sedang sibuk mencari tahu tentang otak dari rencana terselubung yang ingin menghilangkan nyawanya. Dia yakin pertemuannya di kafe ini pasti ada hubungannya dengan hal itu. Maka dari itu, dia tidak ingin membuang-buang waktu.
Dari ruangan lain Pazel melihat Silvia tergesa-gesa meninggalkan ruangannya. Dia ingin memanfaatkan momen itu untuk mendekati Silvia dan berpura-pura ingin menawarkan bantuan. Tapi Silvia selalu didampingi oleh beberapa orang pengawal. Pazel jadi kehabisan ide, untuk mendekatinya.
“Sial!” ucapnya setengah berteriak.
Dia membanting sebuah map ke atas meja kerjanya.
“Kenapa dulu kamu tidak pernah bilang padaku kalau Pak Hermansyah itu adalah ayah kandungmu? Kenapa juga kamu tidak pernah memperlihatkan foto ayah kandungmu! Kalau saja aku tahu bahwa bosku itu ayahmu, tentu aku tidak akan pernah menceraikanmu!” Dengan suara tertahan dia meninju meja yang ada di hadapannya.
Dia menyesali sikap Silvia yang tidak pernah berusaha untuk menunjukkan foto ayahnya saat mereka masih berstatus suami istri.
***
Setelah beberapa menit di jalan, akhirnya Silvia sampai di Kafe Melati. Dia dipandu pelayan dan manajer kafe sendiri untuk menuju tempat Dokter Dana yang sudah menunggunya.
Begitu melihat Dokter Dana, senyum manis dan manjanya sudah disuguhkan kepada tunangan tercintanya.
“Halo, Mas. Apa aku telat, Mas?” tanya Silvia dengan sopan dan lembut sambil berpelukan seolah mereka sudah lama tidak bertemu.
“Tidak, Sayang. Aku belum lama, kok. Oh ya, kenalkan ini Kanaya. Dia adalah teman lamaku.”
Wanita cantik yang tadinya seperti tidak senang melihat kedatangannya, mendadak berubah menjadi wanita yang ramah kepada Silvia.
“Hai, Silvia. Kenalkan, aku Kanaya, ibu kandungnya Kaila.”
Senyum licik terukir di bibir seksinya wanita itu. Dia berpikir jika dia mengatakan bahwa dia adalah ibu kandung Kaila, pasti Silvia akan meninggalkan Dokter Dana, karena dia adalah ibu dari anak tunangannya.
Video yang dikirim orang suruhannya mungkin gagal menghancurkan hubungannya. Tapi dia tidak kehabisan akal untuk melanjutkan aksinya.
Dulu dia pernah berharap untuk menikah dengan Dokter Dana. Tapi pada suatu hari, dia dijebak oleh sahabat Dokter Dana sekaligus sahabatnya sendiri. Yaitu Rani.
Saat itu dia sedang menghadiri sebuah pesta bersama dengan Rani dan kekasihnya. Karena terlalu mabuk, dia tidak sadar kalau dia telah melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri.
Dan yang tak kalah menyakitkannya lagi, dia melakukannya bersama dengan kekasih sahabatnya sendiri.
Dunianya hancur hanya karena satu kenikmatan yang tidak dia sengaja. Dan setelah dia hamil, lelaki itu tidak mau bertanggung jawab.
Cobaan demi cobaan dia lalui. Rani membencinya, bahkan dia mengancam, jika dia tidak meninggalkan Dokter Dana dan anak yang akan dilahirkannya nanti, maka dia akan membunuh bayi yang tidak bersalah itu. Bukan itu saja, dia juga mengancam akan menghabisi nyawa ibunya yang sedang koma di rumah sakit sebagai balasan karena dia telah berani tidur dengan kekasihnya.
Karena itulah dia terpaksa meninggalkan orang yang sangat dia cintai. Padahal dia tahu bahwa Dokter Dana selalu menerima segala kekurangannya.
Andai saja waktu itu dia jujur kepada Dokter Dana bahwa dia dijebak oleh Rani, pasti dia tidak akan pernah kehilangan Dokter Dana. Sayangnya dia baru tahu kalau dia dijebak setelah dia dipanggil untuk kembali ke Indonesia.
Rani memanggil Kanaya ke Indonesia untuk membantunya melancarkan aksinya untuk merebut Dokter Dana dari tangan Silvia. Jika diperlukan, dia harus menghabisi Silvia.
Sebagai gantinya, dia akan menyerahkan putri kandungnya dan membiarkannya hidup dengan tenang, tanpa ada gangguan darinya. Bahkan dia akan memberikannya uang dengan jumlah yang besar dan pengobatan ibunya tidak akan terkendala apa pun. Tapi jika dia menolak, nyawa putri dan ibu kandungnya akan menjadi taruhannya. Rani tidak akan segan untuk melakukan penganiayaan bahkan sampai melenyapkan mereka.
Saat dia tiba di Indonesia, dia berniat mencari sebuah restoran, untuk mengisi perutnya yang sudah mulai terasa lapar. Sesaat matanya melebar mendengar percakapan dua orang yang ada di belakang kursinya.
Dia sangat hafal dengan suara mereka. Dari pembicaraan mereka, barulah Kanaya tahu kalau dia selama ini telah dijebak dan difitnah oleh Rani, dan orang yang mengaku sebagai kekasih Rani itu ternyata hanya orang suruhannya. Dia dibayar oleh Rani untuk menjadi kekasih palsunya untuk menjebak Kanaya. Saat itu rasa panas menjalar di sekujur tubuhnya. Dia ingin menyiramkan saus cabai ke mata kedua orang itu. Rasa laparnya seketika hilang.
Dia memutuskan untuk meninggalkan restoran itu. Karena hatinya yang panas, dia tidak menghiraukan kiri kanan lagi. Dia hanya ingin segera sampai di apartemennya untuk menenangkan dirinya.
Akhirnya sekarang dia bertekad untuk membalas dendamnya kepada Rani dengan halus dan merebut kembali Dokter Dana dari tangan tunangannya, karena baginya Dokter Dana adalah pria yang pantas untuk mendampingi hidupnya, Dokter Dana juga sangat menyayangi putrinya seperti putri kandungnya sendiri. Sangat jarang ada laki-laki seperti itu di zaman sekarang.










