Home / Fiksi / Cerbung / 15. Pantai Congot Dua Cinta Satu Hati

15. Pantai Congot Dua Cinta Satu Hati

MELUKIS JEJAK - TARI ABD
This entry is part 16 of 16 in the series Melukis Jejak

Pagi itu terasa seperti ditarik terlalu cepat dari malam. Langit belum sepenuhnya terang, meski gelap pelahan mulai tergusur, menyemburat warna abu-abu yang menggantung, seolah ragu menentukan nasibnya sendiri. Seperti cinta di hati Nadia yang tercerabut paksa di saat belum mekar sempurna

Mobil meluncur menuju bandara YIA dalam diam yang tidak wajar. Tidak ada tawa Kyoto, tidak ada cerita ringan dari Leon. Hanya suara ban yang bergesekan dengan aspal, dan detak waktu yang terasa terlalu keras di kepala masing-masing

Leon duduk di depan, tangannya terlipat, jari-jarinya saling menekan seakan mencoba menahan sesuatu yang tidak terlihat. Sementara Kyoto menyetir dengan rahang mengeras, fokusnya tampak berlebihan. Nadia yang duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Baginya perjalanan pagi ini setiap kilometer yang terlewati terasa seperti pengkhianatan.

“Bisa nggak, sih, aku berharap perjalanan ini lebih panjang,” Nadia akhirnya berbisik.

Leon yang mendengar kalimat Nadia, menutup matanya sejenak. lalu menjawab tanpa menoleh ke belakang, “Aku juga berharap waktu bisa berhenti.”

Kyoto menggenggam setir lebih erat, jalanan panjang seperti siksaan hingga akhirnya mobil berhenti. Bandara YIA berdiri megah dan dingin, seperti gerbang yang tidak peduli pada perpisahan manusia. Orang-orang berlalu-lalang, suara koper ditarik, pengumuman menggema. Dunia terus berjalan tanpa jeda.

Leon turun perlahan diikuti Nadia. Langkahnya terasa berat, seolah tanah menahannya. Mereka berdiri saling berhadapan, hanya beberapa langkah, tapi terasa seperti dua dunia yang jauh.

“Aku harus pergi,” kata Leon, suaranya tidak setenang yang ia inginkan.

Nadia mengangguk. Bibirnya bergetar, tapi ia memaksakan senyum. “Iya ….”

“Kalau aku bisa memilih…” Leon berhenti, menatap matanya dalam-dalam. “Aku ingin tinggal lebih lama.”

“Jangan berkata seperti itu,” potong Nadia cepat, hampir seperti memohon. “Hal itu justru membuat semuanya lebih sulit.”

Ada jeda yang membuat sunyi terasa penuh. Kyoto berdiri sedikit menjauh, memberi ruang, atau mungkin melindungi dirinya sendiri dari apa yang ia tahu akan menyakitkan.

“Nadia… ada banyak hal yang nggak sempat aku katakan.” Leon melangkah lebih dekat, menatap Nadia lebih lekat

Nadia balas menatapnya, matanya mulai berkaca. “Mungkin … memang nggak semua harus diucapkan.”

Leon tersenyum tipis, pahit. “Tapi aku ingin kamu tahu.”

“Jangan,” Nadia menggeleng pelan. “Kalau kamu bilang sekarang … aku akan semakin berat melepas kamu.”

Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang rapuh dan hancur begitu menyentuh tanah. Leon menarik napas dalam, lalu perlahan mengangguk. Ia mengerti. Tanpa banyak kata lagi, ia membuka tangannya.

Nadia tidak ragu kali ini. Ia melangkah masuk ke dalam pelukan Leon, erat … seakan mencoba menghafal bentuknya, kehangatannya, dan mengingat keberadaannya. Pelukan itu bukan sekadar perpisahan. Itu adalah pengakuan yang tak sempat diucapkan.

“Jangan lupakan aku,” bisik Leon.

Nadia menutup matanya. Air mata jatuh tanpa suara. “Aku bahkan nggak tahu caranya melupakanmu.”

Mereka terdiam dalam pelukan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, hingga suara panggilan dari pengeras suara membuat Leon melepaskannya.

Lalu ia menjauh pelahan, seolah setiap sentimeter jarak adalah luka baru. Sebelum benar-benar pergi ia menatap Kyoto sejenak, lalu  mengangguk. “Jaga dia!”

Kyoto menahan napas sejenak, lalu menjawab singkat, “Pasti.”

Leon berbalik sedikit tergesa, seolah takut ada yang mengetahui air mata mengalir tanpa kompromi. Dan kali ini, tidak ada yang memanggilnya kembali.

Nadia menatap punggungnya yang menjauh … semakin kecil, semakin samar, lalu hilang ditelan keramaian. Saat itu, ia menyadari sesuatu dalam dirinya benar-benar runtuh.

Setelah bayangan Leon benar-benar lenyap, pelahan Kyoto menuntun Nadia menuju mobil. Memastikan sahabatnya naik dan duduk dengan nyaman. Tanpa banyak bicara pelahan ia mulai melajukan mobil, meninggalkan area bandara YIA

***

Setelah berjalan sekitar 15 menit, mobil akhirnya berhenti di sebuah pantai yang terkenal dengan pemandangan muara Sungai Bogowonto, pasir hitam,. Pemandangan pertemuan sungai dan laut dengan jeti atau pemecah ombak yang ikonik menyambut mereka dengan angin yang lebih kasar dari biasanya. Laut tampak gelap, bergelombang pelan tapi berat, seperti menyimpan sesuatu di dalamnya.

Langit sedikit terang meski tidak bisa dikatakan cerah. Ada garis cahaya di cakrawala, tapi tidak cukup untuk menghangatkan.

Nadia berjalan menyusuri pantai yang merupakan destinasi wisata di Kulon ini tanpa alas kaki, pasir basah menempel di telapak kakinya. Ia tidak peduli. Ia butuh merasakan sesuatu, apa pun yang nyata.

“Ini pantai apa?” tanya Nadia sambil memainkan pasir hitam dengan ujung kakinya.

“Pantai Congot, lokasinya di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, masih di kabupaten Kulon Progo.”

“Kenapa mengajakku ke sini?” tanyanya tanpa menoleh.

Kyoto berdiri beberapa langkah di belakang. “Karena dari sini … kamu bisa melihat dia pergi.”

Nadia menoleh tajam, menatap dikejauhan. Benar kata Kyoto. Dari tempatnya berdiri landasan bandara terlihat di kejauhan.  Sebuah pesawat terlihat bergerak pelan, seperti burung raksasa yang bersiap meninggalkan bumi.

Nadia mendekat ke bibir pantai, membiarkan angin meniup ujung jilbabnya. mengacak-acak wajahnya, tapi ia tidak bergerak.

“Itu … pesawatnya?” suaranya nyaris hilang tertelan angin.

“Ya,” jawab Kyoto.

Pesawat itu melaju, makin lama makin cepat, sampai akhirnya terangkat dan berenang di antara awan, terus bergerak naik menembus langit yang pucat. Detik itu Nadia merasa seperti ditusuk sesuatu yang tak terlihat. Ia menatap tanpa berkedip, “Dia … benar-benar pergi.”

“Selamat jalan,” bisiknya, suaranya pecah. Air matanya jatuh, tapi ia tidak menghapusnya hingga pesawat itu benar-benar menghilang.

Dan untuk kedua kalinya hari itu, Nadia merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia genggam sejak awal. Ia hanya diam, menatap lurus pada batas cakrawala.

Kyoto mendekat perlahan, berdiri di sampingnya.

“Nadia ….”

“Aku nggak tahu apa aku bisa,” potong Nadia, Kyoto meraih jemari tangannya, kali ini pemilik jemari itu tak menolak.

“Aku takut nggak kuat.”

Kyoto menatap laut. “Kamu nggak harus kuat terus.”

“Aku nggak tahu bagaimana caranya jadi lemah tanpa hancur.”

Sunyi menyergap, ombak datang dan pergi, seperti napas yang berat. Kyoto menelan sesuatu di tenggorokannya. Lalu, dengan suara yang lebih dalam dari biasanya, ia berkata:

“Aku juga nggak bisa terus diam.”

Nadia menoleh, ada sesuatu dalam tatapan Kyoto.

“Sebenarnya … aku menyukaimu.”

Kata-kata itu tidak meledak, tapi menghantam. Nadia membeku. Wajahnya kosong beberapa detik, seperti otaknya menolak memproses.

“Kyoto .…”

“Aku sudah lama menyukaimu, bahkan sebelum Leon. Sebelum semua ini,” lanjutnya.

“Kenapa baru bilang sekarang?” suara Nadia hampir seperti tuduhan.

“Karena aku tidak punya keberanian. Lalu Leon datang, aku pikir dia tidak akan meninggalkanmu. Tapi sekarang berbeda, dan kalau aku diam lagi … aku akan kehilangan kamu tanpa pernah benar-benar punya kesempatan.”

Nadia menggeleng, mundur selangkah. “Ini nggak adil.”

“Aku tahu.”

“Aku baru saja .…” Nadia terhenti, napasnya bergetar. “Aku baru saja melepas dia.”

“Aku juga nggak minta jawaban sekarang.”

“Lalu apa?” Nadia menatapnya, matanya penuh campuran marah dan sedih. “Kamu mau aku bagaimana?”

Kyoto diam sejenak. Angin menerpa wajahnya.

“Aku cuma mau jujur, untuk sekali ini.” Kyoto berujar lirih.

Nadia menatapnya lama. Lalu, suaranya melembut, “Aku … aku sayang kamu, Kyoto.”

Kalimat itu sempat membuat harapan Kyoto menyala.

“Tapi … sayangku bukan seperti perasaanku pada Leon,” lanjut Nadia.

Kyoto mengangguk pelan. Tidak ada kejutan di wajahnya. Hanya penerimaan yang pahit.

“Aku tahu,” katanya pelan.

“Aku nggak mau kehilangan kamu juga,” Nadia melangkah mendekat. “Aku nggak akan sanggup kalau kamu juga pergi.”

Kyoto tersenyum tipis. “Aku nggak akan ke mana-mana.”

“Janji?”

“Janji.”

Mereka berdiri berdampingan, saling menggenggam tangan, bukan sebagai kekasih, bukan juga sebagai sesuatu yang pasti. Tapi sebagai dua orang yang sama-sama terluka dan memilih tetap tinggal.

Langit perlahan berubah. Cahaya matahari akhirnya menembus awan, memantul di permukaan laut yang bergelombang. Untuk sesaat, semuanya terlihat … indah. Nadia menarik napas panjang.

“Kyoto ….”

“Ya?” Kyoto menoleh.

“Kalau suatu hari nanti … aku masih menunggu dia kembali … apakah kamu akan tetap seperti ini?”

Kyoto menatap laut, lalu menjawab tanpa ragu, “Mungkin … tapi aku nggak janji akan selalu menunggu.”

Nadia terdiam.

“Tapi aku janji,” lanjutnya cepat, “aku nggak akan pergi tanpa kamu tahu kenapa.”

Jawaban itu terdengar jujur bagi Nadia, bukan sebuah janji manis, tapi terasa tulus, dan itu cukup .

Di kejauhan, langit kembali dilintasi sebuah pesawat. Nadia memandangnya, kali ini ia tidak menangis. Karena untuk pertama kalinya hari itu, ia sadar, kehilangan tidak selalu berarti kosong. Kadang kehilangan justru memberi ruang untuk sesuatu yang lain tumbuh. Meski belum sekarang.

Melukis Jejak

4. Melukis Jejak Perasaan

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Resensi Buku: Bidadari Bermata Bening

Resensi Buku: Bidadari Bermata Bening

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Syena: Perempuan Bernama Elang

Syena: Perempuan Bernama Elang

Gelap

Gelap

Antologi KompaK’O

Random image