Setiap pagi tungku-tungku harapan selalu dinyalakan agar hari yang akan dijalani berjalan dengan matang. Lalu, doa fajar dipanjatkan menjadi pupuk asa mengawali langkah, mendirus tanah yang dihangatkan mentari.
Akan tetapi, urusan rasa selalu bertabrakan dengan kepentingan hasrat. Bahkan, keserakahan menganulir kesyukuran, yang semestinya selalu disiram menemani rasa.
Di tengah pertempuran dalam dada, sawah yang terhampar dan ladang yang lebat berubah menjadi fatamorgana, bahkan saung-saung jerami tempat berteduh pun perlahan mengering.
Aku bersama Pak Rimba selalu menjenguk sekitar desa. Ada yang mencuci dosa dengan lumpur, ada pula yang berselawat bak menggenggam air.
“Masihkah bahagia dapat ditata rapi? Sementara pahala bagaikan kepulan asap yang keluar dari sebatang kretek.” Aku memulai percakapan untuk membuka obrolan kepada Pak Rimba.
“Bapak juga belum tahu, Reis. Semua, menanam egonya masing-masing.” Jawab Pak Rimba.
Pak Rimba adalah seorang tokoh desa yang mengerti demografi, sosiologi, historiografi hingga teologi. Tak banyak yang tahu, jika beliau pernah mengajar adab dan humaniora di sebuah lapas, yang dulunya tak pernah lulus kuliah. Hanya saja, negeri ini selalu memakzulkan orang-orang yang berprestasi.
Pada mata yang memandang tujuan, selalu ada napas yang terengah-engah. Seolah lelah bergumul resah, melilit hati yang hampir patah. Ada riak tanda tak dalam, ada pula dimabuk bayang-bayang.
Semestinya, setiap kerap harus tersusun sesuai rupa. Bukankah yang terlihat belang tak enak dipandang? Namun nyatanya, segala urusan bersenggama tumpang tindih.
Di sudut-sudut rumah bambu, tak sedikit obrolan demi obrolan menalar politik bertafsir ambigu, menakar peristiwa kadang hambar, kadang terlalu menggigit.
Aku bersama Pak Rimba berjalan di lorong senja bermandikan siluet pepohonan yang sebagian bayangannya ditebang awan.
“Bisakah dinamika kehidupan dapat diurai dan batas kaidah diserata luruskan?” Tanyaku pada Pak Rimba.
“Seperti tali yang kadung kusut, yaitu dinamika kehidupan harus diurai perlahan dan teliti. Tak mudah karena sudah menjadi habit seumuran kakekku yang masih hidup. Lalu, bisakah kau lihat pematang sawah yang padi-padinya dalam posisi tertidur karena disapu angin kencang? Bagaimana cara mengurusnya? Jika kau tahu, begitulah kaidah dirancang.” Jawab Pak Rimba beranalogi.
Oh iya, siang ini aku menemani Pak Rimba berjalan-jalan melihat sekitaran desa, karena tak banyak memiliki kesempatan untuk bersamanya. Hari-hari beliau selalu diisi dengan paragraf-paragraf kritis terhadap pelayan negara yang berlaku layaknya binatang buas di ruangan berukuran minimalis.
Menurutnya, karakter umum yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh kebodohan dan kepengecutan para pemimpin kita, sehingga menata kepemerintahan dijalankan secara serampangan karena dibutakan hawa nafsu. Tak sedikit hak-hak segenap massa dikebiri seenaknya oleh orang-orang yang mengambil peran menjadi ayah bagi rakyatnya.
Lalu, melihat para agamawan yang pandai beretorika hingga layaknya seorang komika, berlagak memasang muka bak malaikat. Mereka turun ke mimbar-mimbar dan menyergap gersangnya keimanan di jiwa-jiwa umat. Menafsirkan ayat-ayat sesuai selera mereka layaknya hidangan di meja. Padahal, ayat-ayat itu sejatinya teguran untuk diri sendiri.
Setelah berjalan, aku dan Pak Rimba duduk untuk minum kopi di bale-bale teras rumahnya. Menggambar sketsa kehidupan dengan dialektika berwarna biru yang terkontaminasi abu-abu tua dengan sisi-sisi tebal berwarna hitam.
“Kini, gotong royong sosial banyak yang diacuhkan, Reis. Semuanya diperbudak oleh realita yang disebut materi. Jangankan di perkotaan, di lingkungan pedesaan saja, banyak yang salah dalam bertransformasi.” Kata Pak Rimba meneruskan percakapan kita.
“Jagad raya ini sebenarnya sudah jengah terhadap makhluk yang bernama manusia. Sehingga, tak mengherankan apabila partikelnya jagad, yaitu alam memberi teguran. Hanya saja, tugas kita untuk berpikir benar, semakin tak berjalan dengan baik.” Sambungnya dengan mata berkaca-kaca.
“Masihkah ada secercah sinar yang cahayanya adalah kesadaran insani, Pak Rimba?” Tanyaku atas penjelasan beliau.
“Dunia adalah tempatnya harapan-harapan dari kepungan ujian hidup. Tak peduli, berapa kali jiwa raga tertembak anak panah, selama badan kita masih dititipkan napas olehNya, jangan lelah dan menyerah untuk bangkit. Sejatinya, dunia ini adalah ruang uji kelayakan kita sebagai makhluk-Nya yang istimewa dan tentunya ada yang jenius di tengah kebanyakan yang bodoh.” Jawab Pak Rimba dengan mantap.
Ya, dunia tinggal menunggu ajalnya. Namun, akan ada babak baru sebelum tiada, dimana burung yang berkicau tak khawatir lagi terhadap desisan ular dan tanah yang hitam ini, tidak akan menumbuhkan kebahagiaan semu lagi. Kelak, hanya orang-orang jenius yang akan sampai kesana. Berapa orang? Tak banyak.
“Tapi, jangan terlalu fokus menerawang ke batas sana, Reis. Sebab itu masih dalam ruang imaji dan mimpi. Juga jangan mengabaikan batas itu, karena dari imaji, keramaian dunia ini tercipta.” Jelas Pak Rimba kepadaku.
“Perkuat tungku-tungku harapan dengan nyala api setinggi pinggang. Jangan sampai padam, juga jangan sampai melalap. Sesuatu akan terwujud, dimulai dari niat dan mimpi yang sederhana, namun dinyatakan dengan daya dan usaha. Hari ini tak berarti, hari esok akan menjadi penopang pada prinsip-prinsip orang yang memiliki visi.” Sambung Pak Rimba menasehatiku.
Aku yang mendengarnya dengan seksama, hanya mengangguk. Kopi hitam sudah habis dan hari pun sudah gelap.
Desa adalah muaranya kota.
Bandung Barat, 30 April 2025











