Kita sebagai Orang-orang Percaya tentu rindu melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh dengan komitmen terbaik serta integritas tinggi. Bukankah Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita? Satu dari beberapa cara adalah memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan talenta masing-masing. Entah menyanyi dalam paduan suara, melawat sesama yang sedang sakit, atau menulis opini-puisi rohani seperti yang penulis lakukan secara sukarela sebagai sarana meluruhkan talenta. Apakah selalu lancar dan mulus-mulus saja? Belum tentu.
Ada kalanya datang pencobaan di saat kita berusaha konsisten melayani. Gak seperti yang sering disangka-sangka, pencobaan gak selalu datang dari ‘yang jahat’ atau ‘lawan’ kita, melainkan seringkali malah pihak terdekat; lingkaran keluarga dan teman-rekan-kenalan. Misalnya ibu-ibu rumah tangga yang juga bekerja tentu sering mengalami dilema pembagian waktu. Antara tugas-tugas rumah tangga dan urusan sekolah anak-anak saja belum beres, belum lagi tumpukan tugas menggunung di kantor. Atau kenalan/pergaulan sekeliling yang kerap diam-diam menyepelekan atau menyindir halus apapun yang kita share di sosmed sebagai bagian kesaksian dan pelayanan. “Halah, sok alim! Sok rohani!” dan sebagainya.
Inilah beberapa pengingat indah yang perlu kita renungkan.
- Tuhan tidak berjanji bahwa ‘cuaca akan selalu cerah’ atau ‘jalan akan selalu mulus dan rata’. Banyak Orang Percaya berharap dengan melayani Tuhan, hidup akan jadi lebih baik dan banyak berkat mengalir masuk. Padahal semua itu tidak serta-merta/otomatis terjadi bahkan jarang, seolah-olah masih demikian sulit terwujud nyata. Tetaplah melayani. Ibarat cuaca tak selalu cerah, cobaan dan tantangan boleh datang silih-berganti, akan tetapi penyertaan Tuhan juga selalu ada.
- Pencobaan yang datang dari keluarga barangkali menyebabkan kita juggling alias harus benar-benar mahir menangani semua tugas. Bahkan seorang juggler profesional di pertunjukan talent show aja kadang-kadang gagal, entah satu dari sekian tongkat atau bola di tangannya terjatuh, begitu pula kita. Barangkali entah keteteran atau jatuh sakit karena lelah, terlalu ingin merengkuh-menyelesaikan segalanya. Mari belajar memprioritaskan, mengatur jadwal kegiatan hingga tahu yang mana yang wajib dilakukan.
- Suara-suara sumbang orang-orang yang kurang menyetujui tindakan pelayanan kita barangkali bukan cobaan yang mudah diabaikan, akan tetapi kita selalu punya pilihan untuk tidak mendengarkan, juga tidak perlu menanggapinya. Yang harus kita dengarkan hanya suara Tuhan saja. Bagaimana Tuhan bersuara? Lewat kata hati, lewat firman-Nya yang kita baca. Satu dari beberapa kebiasaan penulis adalah membaca ayat Alkitab secara acak. Bukan hanya sekadar iseng, terkadang ayat yang penulis temukan sangat relate dengan apa yang penulis alami. Hal ini dapat kita coba; sebelum curhat di mana-mana dengan siapa-siapa, cobalah curhat dengan Tuhan lewat Alkitab. Entah secara acak atau lewat renungan harian, Tuhan bertemu dengan kita. Ibarat pasangan hendak berkencan di sebuah kafe, jadikanlah kencan dengan-Nya istimewa. Lewat kata-kata-Nya, kita diberi kekuatan untuk tetap berjalan. ‘Suara-suara sumbang’ mungkin masih terdengar, namun kiranya Tuhan saja yang kelak menegur hingga mengubahkan jadi suara-suara nan merdu, penuh penyesalan hingga kerinduan untuk bertobat.
Jadi, tetapkah rindu melayani walaupun tantangan dan halangan masih selalu ada? Bak seorang pelari gawang, rintangan demi rintangan harus dilalui agar dapat mencapai garis akhir. Jagalah fokus dan stamina! Bukan ulur tangan alias pertolongan manusia yang kita tunggu atau harapkan, melainkan dari Tuhan semata-mata. Kita ada sebagaimana ada karena Dia rindu memakai kita, Dia akan mampukan dan ubahkan setiap tetes keringat-air mata hingga detik-detik (waktu) yang kita luruhkan menjadi permata-permata indah bagi kemuliaan-Nya.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 23 Desember 2025.











