Setelah para penjaga lumpuh, giliran Bülbül, Yareli, Gülletopuk dan Niko membuka jalan di terowongan, diikuti oleh Hizir dan yang lainnya sambil memegang belati. Selama di dalam terowongan itu, ternyata tak ada penjaga di dalamnya, sehingga mereka sampai pada pintu bagian dalam kastil dengan cepat. Pengamanan inilah yang luput dari pandangan Pietro. Di pintu bagian dalam, terdapat empat penjaga—semuanya dilumpuhkan oleh Piri Reis, Hizir Reis, Şahin Kılıçoğlu, dan Kandiyeli dengan belati yang menyayat ke leher mereka, sambil menutup mulut keempat penjaga itu.
“Sreek… Sreek…” Suara sayatannya hampir berbarengan, dengan darah para penjaga mengalir dari leher ke baju mereka.
Di area kastil, mereka mengendap-endap, dengan membagi arah yang diinstruksikan oleh Hizir sesuai informasi tata letak dari Yareli.
“Bülbül, Yareli, Gülletopuk, dan Niko menuju tempat vital untuk memasang tong berisi mesiu yang berada di gudang mereka.”
“Demirli Ali, Kandiyeli, dan Horozcu, kalian ke tempat pengikat kuda. Buatlah campuran minyak di sana. Sebagian untuk celupan anak panah, sebagian lagi masukkan ke dalam kendi dan berikan pada Bülbül.”
“Salih, Çoban, Hamza dan Müneccim, kalian menjaga gerbang. Lumpuhkan penjaga itu dan gunakan baju mereka untuk penyamaran.”
“Sementara aku, Piri Reis dan Şahin Bey akan melumpuhkan para penjaga yang berada di atas benteng kastil.”
Hizir Reis menginstruksikan semuanya dengan suara pelan dan kode tangan.
Bülbül, Yareli, Gülletopuk, dan Niko menuju pintu utama kastil. Dua penjaga pintu, mereka lumpuhkan dengan menusukkan belati ke punggung mereka hingga beberapa tusukan.
“Jleb, jleb, jleb, jleb” Tubuh para penjaga pintu, mereka gusur ke tempat tersembunyi.
Setelah pintu utama aman, mereka memasang tong di sisi kanan dan kiri pintu.
Dari pintu utama, mereka menuju gudang makanan. Karena gudang makanan itu begitu besar, mereka memasang tiga tong bubuk mesiu disana, dan Bülbül memasang dua kendi berisi minyak yang telah diracik oleh Demirli Ali. Tiga tong bubuk mesiu mereka simpan di bagian luar, namun tetap tersembunyi dengan menggunakan tanda.
Sambil membawa beberapa karung makanan dari gudang, mereka menuju kandang kuda yang sudah kosong dari kuda-kuda pasukan milik Pietro. Kandang kuda itu dikosongkan oleh Piri Reis melewati gerbang depan yang sudah bersih dari pasukan Pietro. Sementara, pasukan lainnya yang di dalam kastil masih berpikiran bahwa di luar aman. Mereka tidak menyadari kalau area halaman kastil sudah tak ada lagi rekan-rekan mereka.
Niko dan Gülletopuk memasang tong bubuk mesiu, sementara Yareli dan Bülbül melubangi kendi berisi minyak dan menancapkan pecahan kaca yang mereka bawa dari rumah Oruç, tepat di area luar kandang yang mengarah pada pintu samping kastil.
Di gerbang kastil, Şahin dan Hamza naik ke atas benteng untuk memantau situasi karena hari sudah tengah malam. Şahin dan Hamza adalah orang yang kuat dalam kondisi terjaga selama lima hari berturut-turut, asalkan disediakan kopi Anatolia.
Dari atas benteng, Hizir Reis menuju gudang senjata, sambil menginstruksikan kepada Demirli Ali, Kandiyeli dan Horozcu yang berada di tempat pengikat kuda untuk menyusulnya setelah selesai membuat campuran minyak.
Selepas dari kandang kuda, mereka menuju penginapan para prajurit dan memasang tong bubuk mesiu dengan cara digantungkan tepat di pintu masuk. Pada jendelanya, mereka pun menyimpan kendi berisi minyak dan menyambungkan ke tong menggunakan sumbu yang sudah dilumuri minyak agar mudah terbakar dan merembet pada kendi.
Di gudang senjata, Hizir Reis sedang membuat jalan keluar dibantu oleh Demirli Ali, Kandiyeli dan Horozcu. Gudang senjata itu terhubung ke area kuda-kuda yang mereka titipkan pada pelayan Şahin. Jalan keluar itu berupa terowongan yang mereka gali. Sambil menggali, mereka membawa senjata-senjata itu ke dalam terowongan dan mereka simpan di kereta kuda yang bersebelahan dengan kuda-kuda tunggangan mereka. Demirli Ali kembali ke kastil, sementara Horozcu dan Kandiyeli menunggu kuda-kuda mereka untuk berjaga-jaga.
Tak terasa, waktu sudah menjelang siang. Dari kejauhan, Şahin dan Hamza melihat rombongan kuda menuju Kastil Kalimnos dalam jumlah banyak. Şahin dan Hamza terus melihat rombongan itu agar mengetahui siapa yang datang. Ternyata, Şahin menyadari itu, dan menyuruh Hamza untuk memberitahu Hizir bahwa yang datang adalah Komandan Marco, Antuan, Şahbaz, dan tentunya itu adalah Pietro yang berambut keriting dengan membawa Pasukan St. Jon of Jerusalem dalam jumlah yang sangat banyak.
Situasi Kastil Kalimnos seolah berjalan kondusif. Sebab, para levent dan Şahin menyamar dengan menggunakan baju mereka lengkap dengan helm penutup. Sehingga, pasukan yang berada di dalam mengira itu adalah rekan-rekan mereka.
Hamza berjalan menuju gudang senjata dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh pasukan milik Pietro yang masih hidup. Hamza masuk ke gudang senjata dengan aman.
“Reis. Mereka telah datang. Jumlah mereka sangat banyak.” Kata Hamza sedikit tegang.
“Saatnya pembalasan. Tenang, Hamza. Aku sudah mengatur semuanya. Beritahu Şahin dan Niko untuk bersamaku disini.” Jawab Hizir.
“Salih, Çoban dan Müneccim akan membuka gerbang kastil. Setelah membuka gerbang, mereka akan langsung melarikan diri. Pengamanan di luar untuk melindungi Salih, Çoban dan Müneccim sudah dilakukan. Disana ada Piri Reis, dan Demirli Ali. Mereka menggunakan panah yang diambil dari gudang ini dan menembakkan ke arah mereka jika ada pengejaran. Kau bantu Piri Reis,” lanjut Hizir.
“Baik, Reis,” balas Hamza.
“Kau lakukan apa yang kuperintahkan tadi, ayo!” kata Hizir.
Hamza segera bergegas menuju Niko yang bersembunyi di tempat pengikat kuda, setelah itu langsung menemui Şahin Kılıçoğlu yang berada di atas benteng. Hamza memberitahu mereka untuk menyusul Hizir yang berada di gudang senjata. Sementara Gülletopuk, Yareli dan Bülbül segera memakai baju pasukan Kalimnos untuk menyamar juga dan berlari ke atas benteng menggantikan posisi Şahin dari tempat pengikat kuda. Yareli sambil berteriak, “Pietro telah tiba, Pietro telah tiba.”
Maka, seluruh pasukan Kalimnos bersiap menyambut kedatangan Pietro. Gerbang dibuka oleh Salih, Çoban dan Müneccim yang masih dalam penyamaran. Di atas benteng, Şahin telah mempersiapkan tali dengan kail di ujungnya. Tali itu ia persiapkan untuk mereka melarikan diri yang menggantikan posisinya. Şahin sangat paham, bahwa kekuatan yang dibawa Hizir tak akan mampu melawan pasukan sebanyak itu, terlebih pasukan itu adalah Pasukan St. Jon of Rhodes yang terkenal kuat.
***
Pietro, Antuan, Şahbaz, dan Komandan Marco sudah berada di dalam kastil setelah disambut oleh seluruh Pasukan Kalimnos. Mereka tidak menyadari, sebentar lagi kastil akan diledakkan.
Di depan gudang persenjataan Kastil Kalimnos, Hizir Reis, Şahin Kılıçoğlu, dan Niko sudah dalam posisi siap memanah tong yang berisi bubuk mesiu di beberapa titik vital. Gudang makanan, penginapan para prajurit, dan kandang kuda adalah target utama sasaran Hizir Reis. Dengan satu aba-aba darinya, anak panah itu dilesatkan.
Whusss… Baamm!
Anak panah api Hizir tepat menancap tong yang disimpan di gudang makanan.
Menyusul Şahin Kılıçoğlu,
“Whusss… Baamm!” Bidikan Şahin pada tong yang disimpan di penginapan para prajurit.
Begitu pun Niko.
Whusss… Baamm!
Tembakan Niko meluluhlantakan kandang kuda.
Tiga tempat itu terbakar hebat, Kastil Kalimnos terguncang.
Pietro, Komandan Marco, Şahbaz, dan Antuan yang berada di dalam kastil terkejut bukan main. Mereka melihat ke halaman kastil, ternyata api sudah membakar area halaman kastil. Seluruh pasukan berhamburan dan Pietro memerintahkan pasukan untuk memadamkan api yang sudah menyala begitu besar.
Kalimnos terguncang!
Setelah Kastil Kalimnos diledakkan, Salih, Çoban dan Müneccim melarikan diri lewat gerbang. Menyadari ada yang kabur, Pasukan Kalimnos mengejar mereka. Di waktu yang bersamaan Piri Reis, Hamza dan Demirli Ali langsung menembakkan anak panah ke arah Pasukan Kalimnos. Satu per satu Pasukan Kalimnos berjatuhan. Dari atas benteng, Gülletopuk, Yareli, dan Bülbül melarikan diri menggunakan tali yang sudah disiapkan Şahin. Mereka bertiga bergelantungan menuruni benteng. Sementara Hizir Reis, Şahin Kılıçoğlu, dan Niko mereka bertiga langsung berlari keluar kastil melalui terowongan yang mereka buat—setelah menembakkan anak panah.
Mereka bertemu di titik kumpul, yaitu ke tempat kuda-kuda mereka diikat. Mereka semua sudah ditunggu oleh Horozcu dan Kandiyeli. Hizir Reis melihat semuanya, dan tak ada yang kurang sedikit pun dari mereka. Piri Reis dan Şahin Kılıçoğlu kembali dalam kondisi baik. Begitu pun Hamza, Niko dan para levent dapat kembali dari Kastil Kalimnos dengan aman.
Tanpa membuang waktu, mereka kembali ke Pulau Lesbos, memacu kuda dengan kencang.
Hizir Reis berada paling depan, diikuti oleh Piri Reis dan Şahin Kılıçoğlu pada baris kedua sisi kanan dan kiri. Hamza, dan Niko pada baris ketiga, selebihnya diikuti Demirli Ali, Kandiyeli, Bülbül, Salih, Horozcu, Yareli, Gülletopuk, Çoban, dan Müneccim.










