Begitu sampai di rumah, Pazel tidak menemukan Rima di ruang tengah. Hanya ada ibunya yang sedang duduk sambil memijat kakinya yang berselonjor di atas sofa.
Setelah bersalaman dengan ibunya, Pazel langsung menuju anak tangga untuk menemui istrinya.
Dia yakin istrinya sedang berada di kamar untuk mempersiapkan segala keperluan bulan madu mereka yang rencananya akan berangkat besok pagi.
Baru saja akan melangkahkan kakinya, dia dipanggil ibunya. “Pazel?”
“Ya, Bu?” Pazel berpaling lagi ke arah ibunya.
“Duduk di sini dulu, Nak. Ibu mau bicara sama kamu.” Dia menepuk sofa di sampingnya. Kakinya yang tadi berselonjor pun dia turunkan.
Pazel pun menurut. Dia duduk di samping ibunya sambil memijit kaki ibunya.
“Apa kaki ibu masih sakit?”
“Ya, masih agak sakit sedikit,” jawab Rohana lirih.
“Apa mau Pazel panggilkan tukang urut, Bu?” tanyanya dengan nada yang lembut. Dia menatap ibunya yang terlihat sangat lelah dan lemah.
“Besok saja, Nak. Sekarang Ibu mau bicara sama kamu.”
“Ibu mau bicara apa?” senyumnya yang manis diperlihatkan kepada ibunya. Meski dalam hatinya terasa perih melihat ibunya yang lelah dan kusut.
“Apa kamu bisa carikan pembantu untuk Ibu, Nak? Ibu tidak kuat mengerjakan semua pekerjaan rumah ini sendirian, Nak,” pintanya dengan suara yang lemah.
“Apa Rima tidak membantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah?” Darahnya berdesir. Dia tidak rela ibunya dimanfaatkan istrinya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah yang seharunya dilakukan olehnya.
“Tidak, Nak. Kerjanya hanya mandi, makan tidur dan pergi shopping ke mal. Ibu capek, Nak. Apalagi kaki Ibu juga masih terasa agak ngilu semenjak Ibu keseleo di kamar mandi,” rengek Rohana kepada anak kesayangannya.
Setelah menunduk menahan sesak yang ada di dadanya, dia memeluk ibunya.
“Aku akan carikan pembantu untuk Ibu. Ibu bersabar ya, Bu?” ucapnya dengan lemah kepada ibunya.
Dia melepas pelukannya dan menggenggam tangan ibunya.
“Maafkan Pazel ya, Bu?” Air matanya menitik di sudut matanya.
“Tidak, Nak. Ini bukan salah kamu. Ibulah yang salah, Ibu sudah pernah mendapatkan menantu yang sangat baik. Dia telah merawat ibu dengan sangat baik, tapi Ibu tidak bersyukur. Ibu telah zalim kepadanya.”
Dada Rohana sesak, dia akhirnya mengeluarkan beban penyesalan yang ada di dadanya. Tak kuasa Rohana menahan isak tangisnya.
Pazel terkejut mendengar penuturan ibunya.
“Jadi selama ini Ibu berbohong kepada Pazel? Bukankah Ibu selalu mengadukan keburukan Silvia kepadaku, Bu?”
“Maafkan Ibu, Nak,” ucapnya di sela-sela tangisnya. Lalu dia melanjutkan lagi kata-katanya yang terjeda karena tangisnya.
“Ibulah yang telah zalim kepadanya. Selama ini, dia tidak pernah melawan Ibu, dia selalu merawat ibu dengan baik meski Ibu selalu memarahinya, bahkan meski Ibu mencaci makinya.”
Pazel ingin sekali marah kepada ibunya. Dia menyesal telah menyakiti hati perempuan yang baik seperti Silvia. Tapi sebesar apa pun kesalahan ibunya, tidak mungkin dia memarahi orang yang sudah berjasa saat melahirkan dan membesarkannya.
Dia menggusar kepalanya yang tidak gatal untuk menghalau rasa amarah sedih dan sesal yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Melihat ibunya menangis karena menyesali perbuatannya dia tidak tega. Dia berusaha untuk terlihat bahagia. Dia merapikan kembali rambutnya yang sudah berantakan saat dia menggusar kepalanya.
“Ibu, sudahlah. Ini bukan salah Ibu. Akulah yang telah membuat dia pergi dari rumah ini. Aku yang telah berselingkuh dengan Rima, Bu.” Pazel memeluk ibunya untuk menenangkannya.
Sepasang mata menatap mereka dari atas tangga. Dia adalah Istri baru Pazel yaitu Rima. Rima menatap mereka dengan tajam.
“Bisa-bisanya perempuan tua itu membuat drama. Lihat saja, aku akan membalikkan keadaan,” batin perempuan yang sudah mulai terlihat agak gendut itu.
Dia berjalan menuruni tangga dan menghampiri suaminya.
“Bang? Abang sudah pulang?” Dia mengambil tas suaminya dan mencium tangannya. Tetapi tangannya di tepis oleh Pazel.
“Tega sekali kamu memperlakukan ibuku seperti pembantu, Rima!” bentak Pazel dengan suara keras.
“Bang. Kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu marah-marah sama aku? Aku sudah capek, Bang. Dari pagi aku letih membersihkan rumah, mencuci pakaian dan memasak makanan kesukaan kamu. Tapi kamu tega sekali bilang kalau aku memperlakukan ibumu seperti pembantu. Kamu tahu kan kalau aku lagi hamil, tapi aku masih melakukan semua pekerjaan rumah. Apa itu masih kurang, Bang? Jika masih kurang buat kamu, lebih baik aku pergi membawa anak dalam kandunganku ini. Anak ini tidak butuh ayah yang tidak mau memberikan kasih sayang untuknya!” Dia mengeluarkan air mata buayanya.
Rohana seketika mematung. Matanya membulat, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Bisa-bisanya kamu berbohong Rima! Dari pagi Ibulah yang melakukan semua pekerjaan rumah. Kamu hanya ongkang-ongkang kaki dan pergi shopping.” Rohana tidak terima dengan kebohongan menantunya. Suaranya terdengar bergetar meluapkan emosinya.
“Ibu? Kok ibu tega memfitnahku, Bu. Padahal aku merawat Ibu dengan baik. Bahkan saat Ibu membandingkan aku dengan Silvia pun aku masih tetap merawat dan memijit kaki Ibu. Kalau Ibu berniat memisahkan aku dengan Bang Pazel, baiklah, aku akan pergi dari rumah ini,” ucapnya sambil berurai air mata. Dia pun segera berjalan setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Pazel bergidik ngeri melihat jalan Rima yang cepat. Takut akan terjadi sesuatu dengan bayi dalam kandungannya, dia pun berlari menyusul Rima.
“Sayang, hati-hati jalannya. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan bayinya?” Pazel memapah Rima berjalan di tangga.
“Biar saja. Kamu tidak menyayangi bayi ini juga, kan? Sana pergi ke ibumu. Biar aku yang urus bayiku.”
Begitu sampai di dalam kamar Rima berpura-pura mendorong tubuh Pazel keluar. Tapi secepat kilat Pazel ikut masuk dan langsung mengunci pintunya. Dia pun berusaha membujuk istrinya agar tidak meninggalkannya.
“Rima sayang, maafkan Abang. Abang tidak bermaksud menuduhmu. Maaf kalau Abang salah.” Pazel memeluk pinggang istrinya dari belakang, sedangkan dagunya diletakkan di atas pundak istrinya. “Abang janji, untuk ke depannya Abang tidak akan pernah mencurigaimu lagi,” lanjutnya.
“Abang janji?”
“Iya. Abang janji. Sekarang lihat Abang, dong, istri abang yang cantik.”
Rima pun membalikkan badannya.
“Baiklah, Sayang. Kali ini aku maafkan. Lagi pula aku sudah menganggap ibumu seperti ibuku sendiri.”
“Terima kasih, Sayangku. Aku tidak salah cinta mati padamu, Cintaku.”
“Aku juga, Bang. Aku menyesal karena dulu pernah meninggalkanmu. Dan aku tidak ingin berpisah lagi denganmu.”
Seketika Rima memanfaatkan momen itu untuk memberikan kehangatan untuk lelaki yang sudah menikahinya itu. Dia tidak membiarkan Pazel mempunyai kesempatan untuk memikirkan perempuan lain, termasuk mantan istrinya.
Dia juga tidak akan membiarkan mesin uangnya direbut oleh orang lain termasuk mertuanya sendiri. Baginya Pazel hanyalah mesin pencetak uang. Tak pernah ada cinta yang tulus di hatinya.










