“O, halo Kanaya. Saya Silvia tunangannya Mas Dana. Senang sekali rasanya saya bisa berjumpa langsung dengan ibu kandung gadis kecil yang imut dan lucu itu,” ucap Silvia sambil bersalaman dengan wanita cantik yang mengaku sebagai ibu kandung Kaila.
Bak mendapat sebuah tamparan yang hebat, wanita cantik yang bernama Kanaya itu dihajar habis-habisan oleh senjatanya sendiri. Dia pikir Silvia akan merajuk dan Dokter Dana akan meninggalkannya, nyatanya tidak. Dia malah senang dan mengakui kalau dia adalah tunangannya Dokter Dana. Sekarang yang merasa kepanasan adalah Kanaya si ibu kandung Kaila.
“Silakan duduk Silvia,” suruh Kaila sambil menunjuk sebuah kursi yang letaknya berhadapan dengan kursinya. Dia sengaja menunjuk kursi yang ada di depannya agar dia bisa duduk bergandeng dengan Dokter Dana.
“Iya, terima kasih Kanaya,” jawab Silvia sambil menarik kursi yang ditunjuk oleh Kanaya.
Tapi lagi-lagi di luar perkiraannya, Dokter Dana juga ikut duduk di samping Silvia. Hatinya sakit dan seperti teriris sembilu saat melihat orang yang dicintainya terlihat mesra di hadapannya.
“Kanaya? Kenapa masih berdiri? Ayo duduk juga, dong,” ucap Silvia dengan senyum lembutnya.
Ingin sekali Kanaya menghajar Silvia karena cemburu. Tapi urung, karena dia tidak ingin terlihat buruk di depan Dokter Dana. Apalagi Silvia juga dikelilingi oleh para pengawal yang selalu mengawasinya.
Jadi ini juga yang dirasakan oleh Rani. Rasa sakit yang sangat mendera saat melihat orang yang disayangi justru menyayangi orang lain. Sekarang aku mengerti kenapa Rani sampai tega melakukan tindakan kriminal.
“Kanaya. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Silvia karena melihat Kanaya seperti memikirkan sesuatu.
“Oh, ya. Aku baik-baik saja,” balasnya. Seketika pertanyaan Silvia tadi membuyarkan lamunannya.
“Bagaimana keadaan Kaila, Dan?” tanyanya setelah dia bisa menormalkan lagi emosinya yang sempat terpengaruh oleh kemesraan Dokter Dana dan Silvia.
“Alhamdulillah dia baik, kalau kamu mau bertemu dengannya kamu boleh datang kapan pun. Kamu juga boleh tinggal di sana untuk sementara waktu. Aku akan tinggal di apartemenku.”
“Terima kasih, Dana.” Dia sangat senang sekali mendapat izin untuk tinggal di rumah Dana. Setidaknya dia sudah bisa dekat dengan putri kandungnya.
“Kapan nih, rencana pernikahannya? Kali ini aku akan marah jika aku tidak diundang.”
Dokter Dana dan Silvia malah saling pandang.
“Kamu tunggu saja undangan dari kami,” ujar Dokter Dana.
Silvia hanya tersenyum mendengar jawaban dari tunangannya yang sudah mewakili jawabannya.
“Dana?”
“Ya, Kanaya. Ada apa?”
”Jika kalian sudah menikah nanti, apa boleh Kaila ikut denganku?” tanyanya lirih.
Wajah Dokter Dana merah padam mendengar permintaan Kanaya. Dia terdiam seribu bahasa.
Hati nuraninya berperang melawan keegoisannya. Terlepas dari rencananya untuk memata-matai tindak tanduk keterlibatan Kanaya dalam kasus perencanaan untuk menghancurkan hubungannya dengan Silvia, bahkan sampai ingin menghabisi tunangannya, dia tetaplah seorang ibu dari Kaila. Wajar saja jika dia mempunyai keinginan untuk bisa bersama dengan anaknya.
Dia juga tidak ingin memutus ikatan batin antara ibu dan anak. Lagi pula sekarang dia sudah tidak mencintainya seperti dulu. Sekarang ada perasaan yang harus dia jaga. Kalau dia yang merawat Kaila, kemungkinan Dokter Dana untuk selalu berinteraksi dengan Kanaya akan lebih besar. Itu akan berdampak buruk untuk hubungannya dengan Silvia di masa depan nanti. Akhirnya dengan berat hati dia harus memberikan izin kepada Kanaya.
“Ya. Tentu saja. Aku memang sangat menyayangi Kaila. Tapi walau bagaimana pun, kamu tetap ibu kandungnya. Kamu lebih berhak untuk merawatnya.”
Kanaya tidak menyangka akan mendapatkan izin untuk memiliki anaknya seutuhnya begitu mudah dari Dokter Dana.
“Terima kasih, Dana. Kamu memang orang yang sangat baik. Silvia sangat beruntung bisa mendapatkan kamu, Dana.” Bulir bening di mata Kanaya, hampir saja menetes, namun berhasil dia tahan sekuat tenaga.
“Bukan dia yang beruntung bisa mendapatkan aku, Kanaya. Namun akulah yang beruntung mendapatkan dia.”
Kanaya terdiam dan menunduk. Ternyata memang sudah tak ada sedikit pun tempat di hati Dana untuknya. Karena sekarang dia sudah memanggilnya dengan sebutan Kanaya. Padahal dulu Dokter Dana selalu menyebutnya dengan panggilan Aya. Matanya mulai berawan.
Dokter Dana menyadari hal itu, namun dia sama sekali tidak peduli. Yang dia pedulikan sekarang ini adalah perasaannya terhadap Silvia. Wanita cantik dan lucu yang sudah mengisi kekosongan jiwanya.
Bukan karena sekarang Silvia sudah menjadi seorang konglomerat yang setara dengan dirinya sedangkan Kanaya hanya seorang wanita kelas menengah, namun karena Silvia sudah berhasil merebut perhatiannya sebelum dia mewarisi kekayaan pak Hermansyah.
Dulu dia pernah mencintai Kanaya sepenuh hati. Dia bahkan menerima segala kekurangan dan kekhilafannya. Tapi apa yang dia dapat? Dia ditinggalkan dengan seorang bayi dari hasil perbuatan zinanya dengan lelaki lain. Dia tidak tahu kalau Kanaya adalah korban dari sahabatnya yaitu Rani.
Dokter Dana berbaik hati demi mencari bukti dan saksi rencana terselubung si Rani.
“Kanaya?” panggil Dokter Dana.
“Ya, ada apa Dan?”
“Aku boleh tanya sesuatu?”
“Tanyakan saja, Dan. Jangan sungkan.”
“Sebelum aku bertanya, aku akan perlihatkan sebuah rekaman video ke kamu.” Dokter Dana menyerahkan ponselnya yang sudah diputar sebuah rekaman videonya.
Kanaya terbelalak dan mulutnya menganga melihat rekaman itu. Hingga dia harus menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
“Siapa anak ini? Kenapa dia tega sejahat itu dengan anak kecil?” ujarnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Dia adalah, Kaila. Dia putri kandungmu. Untung ada Silvia yang saat itu menyelamatkannya dari jalan umum. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya.”
Akhirnya air matanya tumpah juga, walau dia berusaha untuk menahannya. Amarahnya begitu memuncak. Bahkan mukanya yang putih bersih sekarang berubah warna menjadi merah darah karena menahan amarah.
“Tega sekali Rani ingin melenyapkan anakku. Apa kesalahannya sehingga dia ingin menghabisi putriku yang belum berdosa?” lirihnya.
“Dan setelah dia gagal melaksanakan aksinya, dia juga ingin menghabisi Silvia. Jadi aku ingin kamu bekerja sama untuk mencari bukti agar kita bisa menjebloskan dia ke penjara,” ujar Dokter Dana.










