Home / Fiksi / Mata-Mata

Mata-Mata

Mata-Mata

“Ting!”

“Selamat datang di Family Mart! Selamat berbelanja di toko kami!”

Rangkaian sapaan itu sudah kudengar beberapa puluh kali sore ini. Penjaga kasir itu membungkuk, tiap kali mengucapkan kalimat itu.

Namanya Nina. Dia mulai bekerja dari pukul tiga sore tadi. Gadis periang yang menyenangkan, kulihat. Aku bisa mengetahuinya dari wajah pemilik toko yang selalu tersenyum saat bicara dengannya.

Aku tak pernah benar-benar melihat wajah Nina, setidaknya hari ini. Tetapi cepat atau lambat, aku akan mengetahuinya. Pasti.

Malam sudah menunjukkan pukul tujuh saat Nina terlihat sibuk merapikan rak di lorong makanan kecil. Rombongan anak sekolah yang pulang dari les baru saja pergi usai menyerbu toko. Mereka belanja disertai tawa canda yang tak lepas dari wajah mereka. Itu terlihat menyenangkan. Tentu saja itu rutinitas yang menggembirakan, bagi pemilik toko, tentu.

Nina cukup cekatan melayani pembeli sambil sesekali merapikan dan memasukkan beberapa catatan. Dia sedang menghitung penjualan. Beberapa lembar pecahan besar dimasukkan dalam kotak tersendiri. Sedang yang pecahan lebih kecil tetap di mesin kasir.

Setelahnya Nina tampak waspada. Aku melihatnya menyelipkan dua lembar uang pecahan 100 ribu di bawah kotak ‘Stick Choco Snack’, lalu membawa kotak snack itu ke balik rak. Tak lama kemudian dia kembali ke meja kasir dan melanjutkan tugasnya.

Beberapa kali pelanggan datang dan Nina melakukan tugasnya dengan baik. Sesekali aku melihat Nina memasukkan sesuatu ke kantongnya sambil dia berjalan sedikit menjauh dari meja kasir. Aku mengawasinya dengan teliti.

Saat itulah aku melihat wajahnya. Wajah gadis muda berkulit putih, berambut hitam, dilengkapi dengan mata kucing yang cantik.

Ini malam pertamaku berada di sini, dan Nina tersenyum tepat ke arahku!

“Kamu lucu sekali. Kalau aku menyimpanmu di tas, apakah kira-kira bakal ketahuan, ya? Ah, tidak … tidak. Kamu baru saja datang, pasti bos masih akan sering mengecekmu. Mana imut lagi. Aku akan membawamu saat aku gajian nanti, sebelum dia memberikanmu pada cucunya nanti.”

Nina tersenyum dan membelai kepala boneka panda sebesar fan portable yang selama ini menjadi tempat persembunyianku.

Sekarang aku tahu kenapa pemilik toko meletakkanku di sudut yang berbeda dengan rekan sejenisku yang sudah lebih dulu berada sana. Karena dari sini aku bisa mengawasi semuanya.



Sabtu, 22 Februari 2025 22.40



Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bab 13. Serangan (Part 1)

Bab 13. Serangan (Part 1)

Pintu

Pintu

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 45

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 45

Antologi KompaK’O

Random image