Home / Genre / Cerita Anak / Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Seperti  biasa, anak-anak di Hutan Ceria bermain-main dengan riang. Ada yang bermain petak umpet, ada yang bermain kejar-kejaran, bermain ayunan, jungkat-jungkit dan lainnya. Mereka semua tampak gembira, meski sesekali ada yang terlihat jatuh.

Namun, keceriaan itu tiba-tiba terhenti ketika Rusi, si anak rusa yang sombong datang ke arah mereka.

“Teman-teman, lihat! Itu Rusi datang,” teriak  Momo si monyet kecil. Semua teman-temannya segera berkumpul. Rusi dengan sombongnya datang ke tempat itu tanpa menyapa teman-temannya.

Dia langsung menuju bawah pohon besar dan berteduh di sana. Pohon besar itu adalah tempat Pak Mau, sang harimau.

“Rusi, mengapa kamu ada di situ? Itu, kan, tempatnya Pak Mau,” kata Mosi, si tikus kecil.

Dengan sombongnya Rusi menjawab, “Kata siapa? Aku lah yang paling layak di sini, karena aku hewan paling cerdik dan paling pandai. Pak Mau sudah tua. Tidak pantas dia jadi pemimpin.”

Teman-temannya berbisikan, “Sombong sekali dia, ya,” Cici si kelinci berbisik kesal kepada teman-temannya.

“Iya, ya. Padahal kata ibuku orang sombong itu tidak akan punya teman,” Guji, si gajah kecil menimpali.

Akhirnya semua meninggalkan tempat itu, mereka tidak suka dengan sikap Rusi yang sombong.

Suatu hari, warga Hutan Ceria mengadakan acara lomba lari. Acara itu diikuti oleh orang tua dan anak-anak. Pak Mau, Pak Zebi, Pak Simba, Pak Jerpi tak mau ketinggalan. Mereka turut serta meramaikan acara itu bersama anak-anak mereka. Di antara peserta yang hadir, ada juga keluarga Pak Ruru, ayah Rusi. Mereka terlihat begitu senang ikut dalam acara itu.

Hingga akhirnya, aba-aba untuk lomba dimulai. Diawali dengan lomba lari antar orang tua. Semua yang menyaksikan orang tua mereka ikut lomba memberika semangat sambil berteriak.

“Ayo! Ayo! Ayo! Ayo!”

Rusi berkata kepada teman-temannya, “Lihat saja, ayahku pasti menang. Dia yang berada di depan sendiri. Ayah kalian pasti akan kalah.”

Teman-temannya berpura-pura tidak mendengarkan. Mereka asyik melihat perlombaan itu. Meski mereka mengakui kalau Pak Ruru yang jadi pemenangnya.

“Lihat, benar, kan, kataku.  Ayahku pasti menjadi pemenangnya. Horee…!” teriaknya kegirangan.

Keluarga Rusi begitu senang. Namun, tidak dengan yang lainnya. Bukan karena kekalahan mereka, tetapi karena kesombongan Rusi.

Tibalah kini perlombaan untuk anak-anak.  Semuanya berdebar-debar dan harap-harap cemas. Sang pemenang akan dijadikan sebagai wakil terbaik warga Hutan Ceria.

Rusi, Momo, Cici, dan Guji, tampak bersemangat. Mereka akan adu kecepatan lari dan berebut menjadi juaranya. Perlombaan dimulai. Rusi memimpin di depan. Dia tertawa-tawa karena teman-temannya tertinggal jauh.

Momo, Cici, dan Guji beberapa kali jatuh. Namun mereka saling membantu, saling menolong.

“Biarlah Rusi yang menjadi pemenang, kita sudah menang sendiri dengan saling menolong,” kata Cici yang terluka karena kakinya tertusuk duri.

Teman-temannya membantunya.

Rusi yang sudah jauh tidak melihat lagi teman-temannya.  Dia terus berlari dan tertawa-tawa melihat teman-temannya tidak bisa menyusulnya.

“Payah mereka. Bagaimana mau jadi pemimpin kalau lamban,” gumamnya. Tanpa terasa dia sudah berada di pinggir sungai besar. Dia ingin menyeberang, tetapi tahu jika di dalam sana, ada Pak Aya, sang buaya pencari mangsa bersembunyi.

Rusi hendak berputar arah, tetapi alangkah terkejutnya ketika melihat Pak Aya dan beberapa temannya sudah menghadang langkahnya. Dia berjalan mundur.

“Teman-teman, ada santapan enak, nih. Anak rusa kecil. Ayo kita serbu dan makan dia. Ha ha ha…,” teriak Pak Aya.

Mereka mendekat dan mengejar Rusi. Sekuat tenaga Rusi berlari menjauh dari Pak Aya. Napas Rusi terengah-engah. Dia sudah lemas berlari. Kawanan buaya itu kian mendekat.

“Tolong…! Tolong…!” Rusi berteriak minta tolong.

“Teman-teman, kalian dengar itu?” kata Cici, “seperti suara Rusi.”

“Iya, ya. Dia berteriak minta tolong. Ada apa ya?” Guji menyambung.

“Kita tidak usah menolongnya. Dia sombong,” kata Momo kesal.

“Momo, tidak baik begitu. Meski Rusi sombong, tetapi dia teman kita juga,” nasehat Guji.

“Sebaiknya kita mencari tahu di mana dia,” imbuh Guji.

“Ayo!”

Mereka mencari tahu arah suara Rusi. Benar saja, Rusi tampak kelelahan dan kawanan buaya kian mendekat. Tanpa pikir panjang, Guji segera mengangkat beberapa kayu yang telah tumbang dan melempar dengan belalainya ke arah mereka.

“Rusi, lari…!” perintah Cici dan Momo.

Rusi segera berlari bersama Cici dan Momo. Sementara Guji berhasil membuat kawanan buaya terjebak di jalan dan tidak bisa mengejar mereka lagi. Guji segera menyusul teman-temannya.

Sesampainya di garis finis, keempat sahabat itu justru lari bersama, membuat semua warga hutan heran. Tidak ada yang menang, dan tidak ada yang kalah.

Rusi berkata bahwa teman-temannya lah yang menang karena telah menolongnya dari kejaran kawanan buaya. Semua warga hutan terharu mendengar cerita Rusi. Mulai saat itu Rusi sudah tidak lagi sombong. Dia menjadi anak yang lebih baik dan menghormati semuanya.

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image