Terkadang,
Tangan-tangan erat tertutup
Mulut-mulut rapat terkatup
Bukan karena tak ingin
Bukan pula karena dingin
Tangan tertutup berawal rasa malu
Hanya sekian dimiliki dalam genggaman
Kekurangan rapi terselubung sepi
Mulut erat terkatup pendam hati pilu
Tak banyak kata lagi mampu diucapkan
Hanya bulir air mata bening mengalir hening di pipi
Dalam hati terucap lirih tanpa suara,
Tak cukup hanya hati, dunia menunggu aksi
Apa ada dalam genggaman selalu habis kusemaikan
Apakah sia-sia semua perbuatan?
Mampukanlah ‘ku untuk sabar menunggu, Tuhan
Aku percaya, takkan pernah sia-sia taburan
Biarlah di atas tanah subur Kau jatuhkan
Tumbuhkan tanaman, bukakanlah jalan
Tangerang, 28-30 Mei 2025











