Beberapa hari kemudian, Youssef sudah mulai membuka matanya, meski terkadang kepalanya berdenyut dan sakit, begitu juga di sekujur tubuhnya. Lamyya dan Leon yang kini telah bersatu bersama-sama menjaganya.
Youssef mencoba membuka matanya perlahan. Meski sedikit kabur, dia sudah bisa menangkap wajah orang yang ada di sampingnya. Dia merasa terkejut ketika melihat Leon duduk di samping pembaringannya.
“Aku di mana?”
“Kau sudah sadar, Nak?”
Leon menatapnya dengan senyum tipis. Youssef justru memalingkan mukanya.
“Mengapa Anda berada di sini, Tuan?”
“Aku ayahmu.”
“Tidak! Ayah saya sudah meninggal semenjak saya masih kecil,” ucap Youssef setengah berteriak. Lamyya menenangkannya.
“Aku ayahmu, aku masih hidup. Maafkan aku, Nak,” ujar Leon lirih penuh penyesalan.
“Bagi saya, ayah saya sudah tiada.”
“Kau tidak memaafkanku?”
“Sepertinya begitu,”ucap Youssef dengan tetesan air mata. Pun begitu dia menghindari bersitatap dengan Leon.
” Aku dan ibumu sudah bersatu dalam ikatan suci.”
Youssef terkejut. Dia memandang pria paruh baya yang kini duduk di samping pembaringan menjaganya. Meski begitu, Youssef belumlah bahagia. Hati dan jiwanya masih penuh luka yang entah kapan akan mengering.
Lamyya masuk dan melihat ketegangan antara Youssef dan Leon.
“Apa yang kau rasakan, Nak?” Lamyya mencium kening putranya.
“Sakit, Ibu. Semuanya sakit. Seperti luka hatiku.”
“Mon cheri… je sais pas que tu dit. Sayang, aku tidak tahu apa yang kauucapkan. Semuanya sudah berlalu. Kita buka lembaran baru, Nak.”
“Ibu, aku masih sakit. Aku ingin istirahat,” ucap Youssef sedikit bergetar. Sakit di kepalanya kian terasa. Namun sebenarnya bukan itu maksud Youssef. Dia memang sedang tidak ingin bertemu Leon.
Lamyya mengangguk dan mengajak Leon keluar, “Ayo kita keluar. Biar dia istirahat dulu.”
“Apakah dia tidak mau memaafkanku, Lamyya?”
Lamyya mencoba menenangkannya.”Bersabarlah, seperti halnya aku harus bersabar menghadapinya yang keras kepala.”
“Semua karena salahku.”
“Jangan melihat masa lalu. Kau harus berdamai dengannya.”
Hicham dan Karima datang menengok Youssef di rumah sakit sore hari. Youssef merasa senang karena Hicham memaafkannya.
“Maafkan aku, Paman. Aku terkadang hilang kendali. Setelah keluar dari sini, aku bersedia dimasukkan ke penjara untuk menebus semua kesalahan-kesalahanku,” kata Youssef lirih.
Jawaban tak terduga keluar dari mulut Hicham.
“Jangan berpikir begitu, Youssef. Berpikirlah agar kau segera membaik.”
Youssef tersenyum,”Terima kasih, Paman.”
Dua bulan lagi, kami akan kembali ke Casablanca. Bertepatan dengan Yannayer. Karima pun sudah selesai pendidikannya. Dia akan kembali bersama kami.” Hicham melirik ke arah putrinya.
“Maafkan aku, Karima. Semoga Allah selalu memberimu kemudahan.”
“Aamin. Terima kasih, Youssef. Kau pun begitu. Kita tetap berteman.”
Youssef mengangguk.
Hanya berteman, gumamnya menahan pedih kenyataan dalam hati.
Dia sadar, Karima sudah menetapkan pilihannya. Youssef harus bisa menerima kenyataan itu dengan lapang dada.
“Adik-adikmu sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu. Ibumu dan Tuan Leon pun kini sudah bersatu dalam ikatan suci seumur hidup. Kau harus memaafkannya, Youssef. Dia ayah kandungmu.”
Youssef terdiam sejenak, senyum tipis nan gambar terlukis di wajah sendunya.
“Insya Allah, Karima. Terima kasih atas kebaikan hatimu padaku.”
“Berterima kasihlah pada Allah. Tanpa petunjuk-Nya kita tak dapat berbuat apa-apa.”
“Ya, Karima. Terima kasih kau selalu mengingatkanku pada-Nya.”
“Sama-sama, Youssef. Itulah guna seorang teman. Harus saling mengingatkan.”
“Kau benar, Karima.”
Karima dan Hicham berpamitan kepada Youssef dan orang tuanya. Youssef kini mulai belajar menerima semua kenyataan yang dihadapinya. Cepat atau lambat, dia pun yakin bisa menerima kehadiran Leon dalam hidupnya.
“Allaahu Akbar. Astaghfirullahal adziim.”Hanya itu yang diucapkannya sebagai obat hati.
**
Youssef telah pulih dari sakitnya. Kini, dia hidup bersama dengan kedua orang tuanya di rumah singgah. Menara kembali hidupnya menjaga anak-anak yatim piatu beserta para penyandang disabilitas di sana. Hari-harinya digunakannya untuk hal-hal kebaikan. Mengajarkan banyak hal untuk mereka, menjadi ayah, kakak, sekaligus pelindung mereka.
“Kak, apakah Karima akan kembali ke sini?” Ibrahim bertanya penuh kesungguhan.
“Entahlah, adikku. Dia akan segera kembali ke asalnya.” Ditatapnya remaja laki-laki di sampingnya itu.
“Asalnya? Aku tidak mengerti, Kak,”
Youssef membelai rambut Ibrahim. Remaja yatim piatu itu sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah atas. Dia memiliki banyak bakat dan berkali-kali menjuarai berbagai kompetisi.
“Iya, dia akan kembali ke Casablanca, Maroko.”
“Mengapa kau tidak mengejarnya, Kak? Bukankah kau mencintai Karima?”
“Kau belum bisa memahami hati. Nanti kau akan tahu sendiri.”
Ibrahim mendesah panjang. Dalam hatinya dia berharap semoga kelak Youssef menemukan wanita yang memiliki kelembutan seperti Karima, atau dengannya sendiri.
Youssef merasakan hidupnya kini penuh keberkahan. Dia sudah memaafkan Leon dan juga Marco. Hari itu dia mengunjungi Marco di penjara. Youssef memberikan pengertian kepada saudaranya bahwa tidak mudah melupakan masa lalu serta memaafkan.
“Aku ingin kita memulai hidup baru, sebagaimana orang tua kita juga begitu.”
“Kau mau menerimaku?” tanya Marco ragu melihat ekspresi Youssef yang dingin.
“Tentu saja. Kau adalah saudaraku. Kita mulai dari lembaran awal,sebagaimana layaknya orang yang baru kenal. Kita menjadi satu tim kuat untuk orang tua kita.”
Marco mengangguk.”Masa tahananku masih dua tahun lagi. Terasa berat aku menjalaninya di sini. Aku tidak terbiasa dengan semua ini. Apakah ini yang namanya karma?”
“Itu ujian hidup. Tiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Semoga kau makin dewasa dengan pelajaran hidup ini,menjadikanmu manusia lebih baik lagi.”
“Ya. Tentu saja. Aku ingin menjadi manusia yang lebih berguna.”
**
Karima, Hicham, dan Ghadia bersiap kembali ke Casablanca. Hari itu membereskan semua dokumen-dokumen keimigrasian yang diperlukan. Di sana, mereka bertemu Yazid yang juga sedang mengurus sesuatu.
“Siapa sebenarnya dirimu, Yazid?” tanya Karima setengah selidik.
“Aku temanmu di masa lalu yang hanya sementara bertemu, lalu takdir mempertemukan kita kembali di sini.’
Seseorang menambahkan,”Dia orang penting,Nona,” katanya.
Karima menoleh. Sesosok pemuda yang juga dikenalinya.” Youssef?”
“Apa yang kau lakukan?”
“Sama seperti kalian,” jawab Youssef enteng.
Dia tersenyum, lalu menambahkan,”Iya. Dia seniorku sewaktu kami ikut wajib militer dulu. Hanya saja, aku salah jalan. Sementara dia lurus dan terus menjadi panutan kami, para bawahannya.”
“Jangan berlebihan memuji. Pujian tertinggi hanya kepada Sang Pemilik Kehidupan.”
“Ya. Kau benar, Yazid.”
“Lusa Karima akan kembali ke Maroko. Aku juga akan kembali ke Malaga,” Yazid menambahkan.
Ada rasa cemburu dalam dada Youssef, tetapi dia tidak ingin melukai hatinya sendiri, dengan berharap yang tiada pasti.
Hari ini adalah hari terakhir Karima berada di Marseille. Sebelum dia akan kembali ke Casablanca, dia meminta sesuatu kepada ayahnya.
“Ayah, apakah ayah akan kabulkan jika aku meminta sesuatu?”
Hicham berpikir sejenak. “Tentu saja ayah akan kabulkan dan menurutimu.”
“Baiklah, Ayah.”
“Katakanlah, Nak. Demi kebahagiaanmu, apapun akan ayah perjuangkan.”
“Sungguh?”
“Iya, tentu saja. Katakanlah!”











