Home / Fiksi / Cerpen / Mengubah Naskah

Mengubah Naskah

Mengubah Naskah
1

Yuki tersandung rok dalamnya saat dia menyerbu ke ruang ganti, nyaris tak bisa menahan dirinya di sandaran kursi.

Gaun bodoh. Peran bodoh.

Saat dia menjatuhkan diri di sofa, matanya tertuju pada gambar yang ada di meja riasnya. Yuki yang berusia lima tahun menari lenso dengan Alex Kemang, rambut ikal Nancy The House on the Prairie membingkai wajah bidadari mungil.

Dia mengerang. Yang dia inginkan hanyalah terbebas dari bayang-bayang ketenaran masa kanak-kanak. Agar orang-orang menganggapnya serius dalam peran dewasa. Dan sekarang dia mengabaikan Joko Nugroho, sang sutradara, memanggil namanya dan meninggalkan lokasi syuting. Semua itu karena karakter guru sekolahnya seharusnya mencium komandan polisi.

Dia telah berulang kali berkata pada dirinya sendiri bahwa itu hanya ciuman. Bahwa itu bukan masalah besar. Namun kemudian lawan mainnya memeluknya, tiba-tiba dia tidak bisa bernapas. Jadi dia berbalik dan lari, meninggalkan kekacauan di belakangnya.

“Yuki?”

Tentu saja dia lupa menutup pintu. Dan sekarang Bryo Lorean berdiri di ruang ganti. Rambutnya yang cokelat dan acak-acakan membuatnya tampak seperti bocah laki-laki. Namun, setidaknya dia adalah penulis naskah yang pendiam dan bukan lawan mainnya yang sangat hebat.

Bryo telah menjadi sahabat karibnya di lokasi syuting. Mereka mengenakan penyamaran konyol dan menyelinap untuk minum milkshake di toko obat. Berkeliling kota dengan Mini Cooper milik Bryo. Berbicara tentang karier mereka dan teman-teman yang tidak pernah pulang dari luar negeri. Berbicara tentang segalanya, sungguh.

Kecuali ini.

“Kamu baik-baik saja?”

Yuki mengutak-atik serat kain yang ada di rok hitamnya.

Hitam.

Warna yang kusam.

Sama seperti dirinya.

Dilindungi oleh seorang ibu dan seorang humas yang khawatir tentang perlindungan citranya sebagai “Idola Remaja Baik-Baik”.

Dia bahkan belum pernah berkencan.

Betapa menyedihkannya menjadi dua puluh dua tahun tanpa suami atau anak? Tidak pernah ada cowok yang menunjukkan ketertarikan padanya?

Dan sekarang, hanya beberapa minggu setelah menegaskan kemandiriannya, mengambil alih kariernya sendiri, dia berada tepat di tempat yang telah diprediksi Ibu.

Sendiri dan terhina.

Dia mendongak ke arah Bryo.

Kacamatanya sedikit miring, membingkai mata cokelat yang mengamatinya seperti dokter mengamati pasien. Dilihat dari kerutan di alisnya, Bryo khawatir tentangnya.

“Aku belum pernah dicium,” katanya. Dia meremas-remas tangannya saat wajahnya memanas.

Sepatu Bryo terbanting ke lantai, lalu dia duduk di samping Yuki.

“Yah, itu menjelaskannya. Semua kamera dan orang-orang.” Bryo menggigil. “Nggak terlalu romantis.”

Anggapan bodoh itu membuat Yuki menggelengkan kepala.

“Aku bukan khawatir tentang romansa. Bestie-ku Nikita bilang ciuman pertama selalu membosankan.” Dia mendesah. “Aku khawatir mempermalukan diriku sendiri. Chico Romeo selalu punya seorang cewek di lengannya. Dia akan tahu kalau aku nggak bisa … melakukannya dengan benar.”

Bryo mengamatinya.

“Mungkin kita bisa memberi tahu mereka bahwa kau terlalu lelah. Butuh istirahat. Dan aku bisa meyakinkan Joko bahwa seorang guru sekolah tidak akan mencium seorang pria. Sopan santun dan sebagainya.” Bryo tersenyum. “Lagipula, aku kawannya. Aku akan memberi tahu dia bahwa naskahku perlu diubah.”

“Kamu nggak perlu melakukan itu.”

“Aku akan melakukan apa saja untukmu.”

Saat bisikan kata-kata itu keluar dari bibirnya, mata cokelatnya membelalak lebar.

“Terima kasih, Bryo.” Yuki menyentuh lengannya. “Itu sangat berarti bagiku.”

Yuki mengamatinya sejenak.

“Apakah kamu pernah mencium cewek?”

Wajah Bryo memerah ketika dia berdehem.

“Ya. Aku punya seorang pacar sewaktu kuliah di HFF, tetapi dia, eh, dia menikah dengan orang lain.”

Bryo menarik kerah bajunya saat dia mengalihkan pandangannya.

“Sempurna! Maksudku, bukan berarti karena dia memilih orang lain. Tetapi kamu … kamu bisa mengajariku.”

Muka Bryo semakin merah padam.

“Apa?”

“Tolong. Kalau aku tahu apa yang harus kulakukan, aku nggak akan segugup itu. Dan kamu temanku. Aku percaya padamu.”

Karena Bryo tidak menjawab, Yuki bergeser mendekatinya.

“Nggak ada kamera.”

“Nggak, nggak ada.”

Jakun Bryo naik turun.

Yuki meletakkan tangannya di bahunya.

“Dan nggak ada orang.”

“Nggak ada.”

Sambil mencondongkan tubuh ke depan, Yuki perlahan menutup jarak di antara mereka. Ketika wajah mereka hanya berjarak satu tarikan napas, dia ragu-ragu.

“Aku nggak tahu gimana caranya, Bryo. Maukah kamu…” Yuki menjilat bibir. “Maukah kamu mengajariku?”

Bryo menarik napas dengan gemetar, lalu menyapu bibirnya ke bibir mantan artis cilik itu. Awalnya, ciumannya lembut, hampir penuh penghormatan. Namun, saat gadis itu mulai membalas, ciumannya menjadi lebih bernafsu.

Kepala Yuki pusing. Jantungnya berdebar kencang di dadanya. Dan bukankah itu konyol?

Itu Bryo. Bryo Lorean yang manis dan rendah hati. Yuki tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar teman. Tidak pernah menganggapnya lebih dari penulis skenario yang pendiam dengan wajah tampan dan garis senyum seperti bocah SMA. Tidak pernah lLebih dari sekadar teman yang membuatnya tertawa atau menyemangatinya ketika dia gugup. Tidak lebih dari sekadar orang yang meyakinkan sutradara bahwa dia cocok untuk peran yang ditulisnya.

Namun sekarang…

Bryo melepaskan ciumannya, dan Yukimengerjapkan mata ke arahnya saat pikirannya berpacu. Saat keterkejutannya mereda, satu pikiran lebih menonjol daripada yang lain.

“Nikita Rachel pembohong!”

Tawa Bryo menggema di seluruh ruangan.

Wajah Yuki memanas, dan dia menyelipkan bibir bawahnya di antara giginya. Gerakan itu kembali menarik tatapan mata Bryo ke mulut gadis itu.

“Mungkin mengubah naskah bukanlah ide yang buruk,” gumamnya.

Yuki tertawa kecil.

“Aku suka itu.”

Tatapan Bryo kembali ke mata Yuki. “Serius?”

“Mm-hmm.”

Sekarang masuk akal.

Keakraban.

Persahabatan.

Itu semua batu loncatan untuk sesuatu yang lebih. Seperti audisi untuk memastikan kecocokannya. Dan ini adalah peran yang sangat ingin dia mainkan.

Yuki tersenyum dan mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jarinya.

“Lagipula, bahkan naskah terbaik pun perlu sedikit penyesuaian.”

Bekasi, 31 Mei 2025

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image