Cinta mencoba menelepon ponsel mamanya dari telepon rumah di meja samping tempat tidur, tetapi langsung masuk ke pesan suara. Dini pasti masih menjalani wawancaranya.
Berjalan ke jendela, Cinta menatap lanskap Kota Batu yang berbukit. Jendela kamar tamu menghadap ke depan rumah yang menghadap ke lahan tak tersentuh seluas berhektar-hektar.
Bisakah aku benar-benar terbiasa tinggal di kota kecil seperti ini? Apakah mamaku bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya? Bekerja dari rumah di tempat yang tidak memiliki transportasi umum dan pusat perbelanjaan yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki?
Mungkin mamanya sedang mengalami krisis paruh baya. Atau mungkin dia terjebak dengan rentenir dan mereka harus bersembunyi di sini, di Batu, sebagai pilihan terakhir untuk menghindari kepala mereka dipenggal.
Cinta tertawa sendiri memikirkan hal itu.
Terdengar ketukan pelan di pintu.
“Masuk,” sahutnya sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Pintu terbuka dan suara maskulin mengagetkannya.
“Oh, hei.”
Aku berbalik.
Aku engira itu Noni, bukannya Adam.
“Hai,” sapaku, tetapi terdengar seperti sebuah pertanyaan. “Kenapa kamu di sini?”
Adam telah mengenakan kemeja sejak terakhir kali aku melihatnya. Kain hitam itu menutupi dadanya yang berotot, yang membuat Cinta ingin mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Sayang sekali Adam masih mengenakannya. Bukannya Cinta akan memberitahu Adam, tapi dia menyukai pemandangan pagi ini saat sarapan.
Adam menggaruk lehernya dan memandang sekeliling ruangan. “Ada pesta di danau malam ini. Kupikir kamu mungkin mau datang dan bertemu orang-orang.”
“Untuk apa aku ingin bertemu orang?” tanya Cinta.
Baaru setengah detik kemudian dia menyadari bahwa sikapnya tak pantas. Tapi beramah-tamah bukanlah keahliannya.
Mata Adam langsung melotot, tapi kemudian dia kembali tenang. “Eh, entahlah. Mamaku hanya bilang aku harus datang ke sini dan mengajakmu.”
“Wah. Biasanya undangan karena merasa kasihan datang setelah orang-orang mengenalku beberapa hari.”
Cinta menyilangkan tangan. “Kamu tahu, setelah mereka cukup lama merasa kasihan dengan hidupku yang menyebalkan.”
“Bukan seperti itu,” kata Adam, menyisir rambut merah karena matahari dengan tangannya. “Aku hanya ingin menyambutmu di kota ini.”
“Aku tidak perlu disambut.”
Kalau teman-teman Adam seperti dia, mereka pasti akan mencoba merayuku atau akan melakukan hal sebaliknya dan menjelek-jelekkan pakaianku yang lusuh. Aku tidak perlu teman. Aku harus menunggu sampai mamaku pulang dan mencari tahu apa yang sebenarnya kami lakukan di sini.
Adam melangkah lebih dekat, dan meskipun jarak mereka masih beberapa langkah, Cinta melangkah mundur.
“Lihat, Cinta,” katanya. Ada sesuatu dalam suaranya yang terdengar sangat tulus dan Cinta hampir merasa bersalah karena bersikap dingin padanya.
“Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu membenciku? Karena aku merasa kamu membenciku.”
Aku mengangkat bahu. “Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak mengenalmu.”
“Jadi, sebaiknya kita kenalan supaya kamu kenal aku,” kata Adam, menyeringai yang mungkin membuatnya disukai banyak cwek.
Tuhan tahu hatiku mulai melemah saat melihatnya, kata hati Cinta, dan dia mengalihkan pandangannya.
Adam melanjutkan, menggerakkan jari-jarinya di atas dudukan TV.
“Kamu mungkin akan menganggapku keren jika kau mengenalku.”
“Nggak mungkin,” gerutu Cinta. “Kamu nggak semenarik yang kamu kira.”
Adam menyeringai. “Kamu adalah orang pertama yang berpikir seperti itu.”
Wow!
Cinta bahkan tidak tahu bagaimana membalas, maka dia berjalan ke kursi berlengan di sudut dan mengambil buku dari rak di sebelahnya.
“Terima kasih, tapi … tidak, terima kasih,” katanya, duduk dan membuka buku ke halaman pertama. “Kamu boleh keluar sekarang.”
“Kamu seharusnya ikut. Akan menyenangkan.”
“Aku yakin banyak cewek yang yang bersedia menemani di sana, sehingga kamu tidak akan menyadari kalau aku menghilang,” kata Cinta.
Dia menyeringai dan bahkan tidak berusaha menyangkalnya. “Jika kau menginginkan seluruh perhatianku malam ini … itu bisa diatur.”
“Jangan-jangan kamu kesal karena aku tidak tertarik denganmu, ya?” Cinta tertawa dan memutar bola matanya.
“Aku bukan cewek centil yang otaknya jadi kalau dekat cowok seksi.”
“Maksudmu sudah tersampaikan,” kata Adam. “Maaf aku menyinggungmu dengan ajakanku.”
Dia berbalik dan keluar dari kamar tamu yaang ditempati Cinta, lalu menutup pintu di belakangnya.
Meskipun dia mungkin tidak akan pernah melihat Adam lagi, Cinta agak menyesal karena memperlakukannya dengan buruk. Mungkin Adam hanya bersikap baik.
Tapi Cinta sudah cukup mengenal banyak cowok dan tahu bahwa hal itu jarang terjadi.
***
“Sudah dengar kabar dari mamamu?” tanya Noni sambil menyantap spaghetti saat makan malam. Cinta menggeleng.
“Aku rasa ponselnya mungkin mati. Dia selalu lupa membawa charger. Tapi sekarang sudah tujuh lewat sepuluh, jadi kurasa dia akan segera datang.”
Noni mengangguk, memutar pasta di garpunya. “Aku benci ponsel yang tidak tahan lama akhir-akhir ini. Bateraiku mungkin hanya bertahan lima jam kalau aku beruntung.”
Noni masih bersikap baik dan ramah, tapi Cinta tahu mereka berdua bertanya-tanya apa yang membuat Dini begitu lama datang. Pikiran tentang laporan berita yang mengatakan dia mengalami kecelakaan mobil membuat Cinta takut, tapi dia tahu mamanya. Sifat Dini tidak terduga, tapi dia bukan pengemudi yang buruk. Mamanya mungkin bertemu dengan seorang pria dan pria itu sedang makan malam dengannya sekarang. Cinta hanya berharap mamanya cepat kembali. Dia benci menjadi beban.
Setelah makan malam, Cinta membantu Noni mencuci piring. Suaminya ada rapat dengan tetangga untuk urusan bisnis lintasan balap mereka, jadi dia tidak ikut makan malam bersama.
“Tante mencuci bajumu kemarin,” kata Noni, menggosok loyang garlic bread dengan spons. “Bajumu ada di tempat tidurmu. Kalau kamu mau mandi sebelum pergi, Tante rasa kamu perlu ganti baju.”
“Terima kasih,” kata Cinta sambil tersenyum. “Kamu baik sekali padaku dan aku sangat menghargai kamu mengizinkanku tinggal di sini.”
“Oh, tidak masalah sama sekali,” kata Noni sambil menambahkan lebih banyak air panas ke wastafel. “Tante tidak sabar mendengar tentang pekerjaan baru mamamu. Tante rasa dia mungkin bisa memajang karya seni Tante di beberapa lokasi baru setelah ini.”
Aku mengangguk. “Tentu saja.”
“Baiklah, Cinta,” kata Noni setelah kami selesai mencuci piring dan berbagi sebungkus kue camilan, “Tante harus mengasuh anak seorang wanita dari spinning-class Tante, jadi Tante akan pergi sampai sekitar tengah malam. Ini malam kencan dia dan suaminya. Sambil menunggu mamamu, anggap saja seperti di rumah sendiri, ya?”
“Tentu saja.”
Setelah mandi sebentar dan sekitar sepuluh panggilan telepon lagi yang langsung masuk ke pesan suara mamanya, Cinta mulai membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikir olehnyamamanya Ibu tidak akan kembali hari ini. Dia mungkin sedang berlibur singkat, memanfaatkan kebaikan orang asing untuk menjaga anaknya.
Ini jelas bukan pertama kalinya mamanya berjanji akan datang dan kembali seminggu kemudian.
Dia merasa seperti orang bodoh. Menjadi beban masyarakat dan sebagainya.
Cinta menelepon Sini sekali lagi dan ketika nada pesan suara berbunyi,dia saya meninggalkannya pesan alih-alih menutup telepon.
“Hai Dini, ini aku. Anakmu. Aku rasa kamu pikir Noni dan Bakri tidak keberatan kamu pergi lebih dari satu hari, tetapi aku tidak mau menjadi orang yang terlalu lama merepotkan mereka. Begitu kamu siap untuk kembali dan menjemputku, temui aku di losmen tempat kita menginap dua malam lalu. Jangan khawatir tentang bagaimana aku akan membayarnya. Aku punya kartu kreditmu di tasku.”
Mamanya akan marah karena membuang-buang uang dengan satu-satunya kartu kredit yang mereka punya, tetapi mungkin ini akan membuatnya pulang lebih cepat.
Cinta membersihkan jejak keberadaannya, merapikan tempat tidur, dan mematikan televisi.
Dia menulis ucapan terima kasih untuk Noni, dan kemudian pergi dari sana.










