Home / Genre / Cerita Anak / Kisah Persahabatan Moci dan Koji

Kisah Persahabatan Moci dan Koji

Kisah Persahabatan Moci dan Koji

Tidak seperti biasanya, wajah Moci, si anak harimau  terlihat sedih. Ia hanya mondar-mandir mencari sesuatu, tetapi tidak juga mendapatkannya. Moci bingung, ia harus bagaimana. Tidak ada seorangpun yang mau berteman Moci. Moci ingin mencari teman-temannya, lebih tepatnya, Moci ingin memiliki banyak teman baru. Ayah dan ibu Moci tidak tahu jika Moci telah berjalan jauh meninggalkan hutan tempat tinggal mereka. Mereka melarang Moci agar tidak pergi terlalu jauh. Namun, Moci tidak memperhatikannya. Moci  terus berjalan jauh tanpa menengok ke belakang lagi.

Hingga ia tiba di suatu sabana luas. Ia melihat sekelompok keluarga kijang tengah makan rumput dan bercengkrama bersama. Moci ingin sekali mendekati mereka, ia ingin menjadikan keluarga kijang itu teman baru. Ia menghentikan langkahnya dan terus menatap ke arah keluarga kijang.

Moci kian mendekat kepada mereka. Ingin sekali ia menjadi teman keluarga kijang itu, akan tetapi di luar dugaan, mereka justru ketakutan ketika melihat Moci datang.

Tiba-tiba, seekor kijang berteriak, “Ada harimau, ada harimau, lari ….”

Semuanya lari  tunggang langgang menyelamatkan diri karena takut akan menjadi santapan harimau itu. Termasuk anak  anak kijang bernama Koji  yang masih kecil. Koji belum bisa lari secepat kijang dewasa. Ia terus berlari terengah-engah.

“Hei, tunggu! Aku tidak ingin berbuat jahat. Jangan lari!” teriak Moci pada keluarga kijang. Namun, tetap saja mereka tidak mendengarkan ucapan Moci. Moci terus mengejar mereka hingga ia melihat seekor anak kijang rupanya kehabisan tenaga. Kakinya terantuk akar pohon yang ada di depannya.

“Auh …, sakit ….” keluh si anak kijang. Moci yang melihat segera mendekat, tetapi anak kijang justru terlihat sangat ketakutan, “jangan dekati aku, jangan aku aku, ampun ….”

“Hah? Hei, aku nggak akan makan kamu. Aku ingin berteman sama kamu, kamu mau kan?”

Anak kijang lucu tampak belum begitu percaya dengan ucapan Moci. Lantas ia bermuka ramah kepada, “Kamu tenang saja, aku nggak jahat kok. Aku cuma mau berteman sama kamu,” Moci mencoba menolong anak kijang itu dengan menjilati lukanya. Anak kijang yang semula ketakutan kini tidak lagi kelihatan takut.

“Kamu beneran nggak jahat, ya?”

Moci menggeleng.

“Kamu nggak akan makan aku, kan?”

Moci kembali menggeleng.

Moci segera mendekati anak kijang yang tampaknya kini sudah mulai bersahabat. Dia perlahan berdiri dan menyebutkan namanya, “Aku Koji, nama kamu siapa?”

“Aku Moci. Koji, sekarang kita berteman ya?”

“Iya. Ha ha ha ….”

Moci dan Koji akhirnya berteman. Koji sekarang sudah tidak takut lagi dengan Moci. Moci lantas mengantar Koji menuju tempat tinggal keluarganya.

Rupanya, orang tua Koji begitu risau karena anak mereka belum juga kembali.

“Bagaimana kalau Koji dimakan harimau itu, Pak?” terdengar suara ibu Koji dengan menahan isak tangis.

“Aku juga nggak tahu, Bu. Semoga saja harimau itu tidak memakannya. Kita berharap yang terbaik buat Koji,” hibur ayah Koji.

Baru saja mereka selesai berbicara, dari kejauhan tampak Koji sedang berjalan mendekati mereka bersama harimau kecil itu.  Ayah dan ibu Koji tertegun, “ Pak, lihat! Bukannya itu Koji? Kenapa dia jalan sama harimau itu ya? Apakah__”

Belum selesai ia bicara, terdengar Koji berteriak memanggil mereka dengan lantang, “Ibu … Ayah … Aku pulang ….”

Koji berlari ke arah orang tuanya. Ibu Koji tampak gembira, begitu juga dengan ayahnya. Moci yang melihat Koji dan keluarganya pun turut senang.

“Ibu, Ayah. Itu temanku, Moci, si anak harimau. Moci sini ….”

“Moci, sini …, ini ayah dan ibuku. Sudahlah, jangan malu-malu,” teriak Koji lagi. Berharap agar Moci, si anak harimau kecil imut dan lucu itu segera mendekat. Benar saja, Moci mengikuti perintah Koji.

Moci tersenyum dan menyapa kedua orang tua Koji, “Salam, Pak Kijang, Bu Kijang. Aku Moci.”

“Halo, Moci. Selamat datang di tempat kami. Maaf, ya, tadi kami sempat berpikir bahwa kamu akan memakan anak kami, Koji.”

Moci tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak Kijang. Aku tahu kok. Tapi, aku mau berteman Koji. Boleh, kan, Pak Kijang, Bu Kijang.”

“Tentu saja boleh, Moci. Nah, sekarang kalian bermainlah!”

Moci dan Koji bermain bersama-sama di padang rumput. Tak jauh dari tempat mereka, ada dua ekor kuda nil sedang berendam di air sungai yang keruh. Moci dan Koji tidak tahu jika kawanan kuda nil itu tampak memperhatikan mereka dari tempat tersembunyi.

“Hei, kalian lihat. Ada santapan lezat di sana. Ha ha ha ….”

“Tunggu! Kita harus tenang. Biarkan saja mereka merasa aman. Biar nanti kita bisa langsung HAP! NYAM NYAM NYAM.”

Moci dan Koji bermain dengan asyik sehingga tanpa mereka sadari sampailah di pinggir sungai. Moci dan Koji merasakan haus teramat sangat. Mereka segera melangkah menuju sungai. Udara yang sangat panas membuat keduanya ingin segera berendam agar tubuhnya segar.

“Koji, kamu kepanasan juga, klkan? Ayo kita berendam supaya tubuh kita tidak kepanasan!”

“Baiklah. Ayo!”

Moci dan Koji segera berendam tanpa sadar bahaya yang tengah mengintai mereka. Moci dan Koji terus becanda tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ketika mereka lengah. Salah satu kuda nil mendekat dan segera menangkap Moci. Moci dan Koji bukan main terkejutnya.  Dia berusaha menolong Moci yang sudah tertangkap. Koji menanduk badan kuda nil itu dan segera melepaskan Moci.

“Ayo, Moci. Lari ….” Moci dan Koji lari menjauh dengan napas terengah-engah.  Di tengah perjalanan, Moci melihat ayah dan ibunya berjalan sambil memanggil-manggil namanya. Moci segera berteriak.

“Ayah … Ibu ….”

Kedua harimau besar yang tak lain orang tua Moci segera datang. Mereka sangat gembira melihatnya.

“Moci, kamu nggak apa-apa, kan, Nak? Ayah dan ibu khawatir sekali sama kamu, Moci.” Ibu Moci terlihat masih was-was. Ayah Moci pun terlihat lega.

“Maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku selalu mengabaikan kata-kata kalian,” Moci berbisik kepada ayah dan ibunya tentang Koji.

“Itu temanku si anak kijang, Namanya Koji. Koji … sini kamu. Ini ayah dan ibuku. Ayok kenalan.” Koji memperkenalkan dirinya kepada Pak Maung dan Bu Maung, orang tua Moci. Moci menceritakan pengalamannya panjang lebar bagaimana ia bertemu dengan Koji. Semula, Ayah dan ibu Koji berpikir bahwa Moci akan memangsa anak mereka. Ternyata tidak. Moci justru menolong Koji, dan mereka akhirnya berteman.

Pak Maung, Bu Maung, dan Moci akhirnya  mengantar Koji pulang ke tempatnya. Pak Kijang dan Bu Kijang ayah Koji sangat senang dengan kedatangan Moci dan orang tuanya.

“Terima kasih, Pak Maung, Bu Maung. Maafkan kami, dulu pernah berpikir buruk pada Moci dan keluarga Pak Maung. Sekarang kami sadar bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu hanya dari segi luarnya, Pak Maung. Kami berterima kasih karena kalian semua sudah mengantar dan menjaga Koji dengan selamat.”

“Sama-sama, Pak Kijang. Mari kita semua bersahabat dan menjadi teladan bagi yang lain.”

“Tentu saja, Pak Maung. Kami merasa sangat terhormat untuk itu.”

Detik itu juga, seluruh warga hutan berikrar akan bahu membahu menolong dan menciptakan suasana aman, damai, dan nyaman untuk warga hutan. Semua berkat Moci dan Koji.

Temanggung, 25 Januari 2025, 18.48.

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image