Home / Genre / Misteri / Permen

Permen

Permen
1

Diandra Harper sangat menyukai permen. Tetapi itu dulu, sebelum Rachel menghilang. Orang tua Rachel meminta bantuan polisi untuk mencari anak mereka, tetapi sama sekali belum membuahkan hasil. Gadis 9 tahun itu menghilang tanpa jejak.

Sudah jelas itu membawa dampak yang mengkhawatirkan pada sikap Diandra. Gadis itu kini jadi pendiam, sering terlihat murung dan menjadi sangat sensitif. Bahkan secara terang-terangan dia membuang bunga-bunga yang ditinggalkan teman-teman di meja Rachel. Kejadian itu tepat seminggu setelah teman sebangkunya itu resmi dinyatakan hilang dan dalam pencarian intensif oleh polisi.

Amanda dan Brian Harper tentu saja prihatin atas perubahan sikap putri mereka. Di satu sisi mereka sangat memahami kehilangan yang dialami Diandra. Tetapi di sisi lain mereka khawatir hal ini akan berakibat lebih buruk terhadap kesehatan mental Diandra di kemudian hari.

Untuk itu mereka memutuskan untuk mengajak Diandra menemui psikolog anak. Seorang wanita yang cukup tangguh dalam menghadapi anak-anak bermasalah, dokter Stephanie Grant.

“Jadi, apa yang terjadi pada Diandra, Dok?” Brian bertanya pada dokter Stephanie.

“Masih terlalu awal untuk bisa diketahui, Pak. Diandra belum sepenuhnya percaya. Beri kami waktu.” Dokter Stephanie memberikan kartu nama seraya meminta Brian atau Amanda untuk menelponnya, jika sewaktu-waktu Diandra ingin berbicara.

Suatu pagi yang cerah di Pigeon Elementary School mendadak gempar! Semua dikarenakan Diandra yang berteriak histeris saat menemukan tiga batang permen di lockernya, lalu pingsan. Seketika para guru datang dan terlihat panik. Lalu dengan segera seorang guru membopong tubuh mungil Diandra ke UKS.

Sudah tentu orang tua Diandra dipanggil. Kali ini Amanda Harper datang lebih dulu, karena suaminya masih dalam perjalanan. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya. Dia tidak menyangka putrinya bisa sampai ada dalam kondisi yang meprihatinkan seperti ini.

“Diandra, kamu kenapa, Nak?” Amanda mencoba menenangkan putrinya begitu tersadar. Tangannya mengusap jemari mungil Diandra yang terasa dingin.

Saat itu mereka hanya berdua. Para guru membiarkan Amanda menjaga putrinya sampai siuman.

Diandra tidak menjawab, tapi wajahnya terlihat pucat ketakutan. Gadis itu hanya menatap ibunya sambil menangis.

“Apa yang terjadi? Bicaralah, ibu akan mendengarkan. Jangan takut.” Amanda beeusaha menahan diri untuk tidak menangis. Karena itu akan membuat perhatian Diandra menjadi teralihkan dan terpengaruh, apalagi kalau kemudian Diandra tidak jadi bercerita.

“Rachel, Bu … dia kembali.” Suara Diandra setengah berbisik patah-patah.

Amanda kembali menenangkan putrinya. “Apa maksudmu? Cerita pada ibu ….”

Diandra kembali berbisik, membuat Amanda harus mendekatkan telinga.

“Rachel … dia datang mengembalikan permen yang dia ambil.” Diandra menatap ibunya dengan pandangan kosong.

Amanda melihat anaknya dengan tatapan tak percaya. Meskipun begitu, sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutnya. “Kenapa?”

Diandra yang pucat menjawab dengan kalimat yang membuat siapapun yang mendengarnya tercekat. “Karena … aku marah saat dia mengambil permenku, Bu. Aku mendorongnya. Aku kira genangan itu dangkal. Tapi dia tidak muncul lagi. Aku takut dia akan marah dan mengejarku, jadi aku meletakkan permen itu di sana. Tapi dia mengembalikannya lagi ….”

Brian Harper yang tiba di pintu UKS beberapa detik lalu mendadak limbung dan pingsan. Di tangannya tergenggam sebungkus permen kesukaan Diandra yang masih belum dibuka.


22.51

Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image