Drrtt … Drrrtt … Drrrtt ….
Aku melirik ponsel Mas Adjie yang tergeletak di atas meja. Pemiliknya sedang berada di belakang, bercengkrama dengan dua serdadu mungil yang selalu membuatnya tertawa.
Pada layar gawai itu tertera nama yang sangat kukenal. Ninin Lestari, teman semasa sekolah menengah yang dulu selalu menjadi idola.
Wajahnya lumayan cantik, namun sayang sikapnya berbanding terbalik dengn kecantikannya. Sebenarnya kita tak terlalu dekat namun entah kenapa, hampir satu tahun ini begitu rajin menelpon suamiku.
Banyak sekali alasan yang diutarakan kala aku yang mengangkat telponnya. Akhirnya Mas Adjie lama-lama juga merasa risih hingga terpaksa dia menuruti saranku, memblokir nomornya di aplikasi chat warna hijau.
Namun ternyata dia sangat gigih. Bagai seorang pejuang tangguh dia akan mengorbankan pulsanya untuk melakukan panggilan langsung. Sedangkan sekalipun tak pernah dia meneleponku, kecuali untuk cari tahu suamiku sedang berada di mana, meski dengan cara berputar-putar agar aku tak bisa membaca arahnya.
“Katanya sudah diblokir, kenapa dia bisa meneleponmu?” Wortel yang keras jadi pelampiasan kekesalanku hingga talenan mengeluarkan bunyi berirama kala pisau dapur menghantam permukaannya.
“Udah, kok. Dia nelpon langsung, gak pake aplikasi.” Mas Adjie menjawab santai tanpa melepaskan pandangan dari ponsel di genggamannya.
“Terus?” Aku tak ingin berhenti bertanya, masih banyak hal yang memenuhi kepala. Bisa meledak kalau aku tak mengeluarkannya.
“Terus apa? Diblokir lagi? Sudahlah, toh aku tak tertarik.” Jawabnya lagi. Kali ini sambil menoleh ke arahku, melihat wortel dengan pandangan ngeri.
“Tapi dia gak akan berhenti mengganggu, Mas. Terutama aku. Aku yang terganggu.” Aku tak ingin menyembunyikan apa pun. Perempuan itu membuatku resah.
“Aku sudah memblokirnya. Sudah, ya, jangan mikir aneh-aneh.” Katanya lagi sambil menunjukkan gawainya ke arahku. Sedikit lega ketika membaca sebuah nomor telah diblokir. Nomor Ninin.
***
Ternyata tak berhenti di situ. Entah bagaimana pertimbangan sebelumnya, Ninin kembali menghubungi Mas Adjie. Bahkan tanpa tahu malu, dia menelepon berlagak nomor suamiku hilang tak sengaja ter-reset. Seolah pemblokiran itu tak pernah terjadi. Gila, kan?
Lalu aku menemukan ide yang lebih gila untuk membalas semua perbuatan Ninin.
Lewat aplikasi biru aku menemukan nomor telepon Dandy, suami Ninin. Aku berniat mendekatinya untuk sekadar memberi pelajaran pada Ninin tentang keresahan jika pasangannya didekati orang lain.
Ternyata orangnya hangat, supel, humoris, pokoknya berinteraksi dengannya tuh menyenangkan. Hingga tiba pada titik di mana kita saling jatuh cinta.
Dia bercerita jika pernikahannya dengan Ninin adalah karena perjodohan. Ninin teramat egois. Bahkan tak jarang dia menyalahkan Dandy sebagai penyebab dia harus melepaskan kekasih hatinya.
Sampai di situ aku tak ingin bertanya, sama sekali tak ingin tahu siapa kekasih hatinya. Aku sudah tak peduli.
Namun bagaimanapun juga aku masih bersuami. Dandy juga masih bersama Ninin. Tak ada celah bagi kita jika harus bersama. Tapi aku tak bisa memungkiri jika aku sedikit terlena dengan Dandy yang perhatian. Hal yang tak kudapatkan dari Mas Adjie.
Entah apa yang akan terjadi kelak. Tak ada yang harus diakhiri, karena tak pernah ada yang memulai. Semua berjalan begitu saja.
Rumput tetangga memang bisa saja terlihat lebih hijau, tapi jika kau memaksakan kaki menikmati hamparannya bersiaplah kehilangan semuanya. Bukan hanya rumput, tapi juga rumah dan segala keteduhan yang menaunginya.
End_











