Di pesta pertunangan Silvia, semua orang sedang berbahagia. Silvia benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari keluarga sahabat dan tentu saja dari orang yang sekarang sudah resmi menjadi tunangannya, yaitu Dokter Dana.
Ayahnya mengumumkan kalau minggu depan acara peresmian pemindahan jabatan akan dilaksanakan di kantornya.
Dengan begitu, dia sudah resmi menjadi seorang pebisnis. Sebuah tantangan yang berat, namun dia yakin dengan bantuan dari Dokter Dana dan juga ayahnya, beserta Pak Efendi, dia akan bisa menjalankan perusahaan yang diserahkan ayahnya kepadanya.
Hanya Ibu Iyes yang kelihatan seperti menyimpan beban masalah. Dia tersenyum, tapi dalam senyuman itu tersirat sebuah kesedihan.
Tanpa sengaja Silvia melihat Bu Iyes menghapus air matanya. Dia menghampiri Bu Iyes, karena kebetulan Dokter Dana juga sedang beramah-tamah dengan beberapa petinggi perusahaan asing.
“Bu. Ada apa? Kenapa Ibu terlihat cemas?” Silvia menggenggam tangan ibunya.
“Tidak, Nak. Ibu tidak cemas, kok. Apa yang harus Ibu cemaskan? Melihat kamu kembali mendapatkan kebahagiaan adalah hal yang paling membahagiakan buat Ibu.” Dia menyentuh pipi anaknya dengan lembut serta memberikan senyum terbaiknya.
Dia berharap bisa menyembunyikan kekhawatirannya, namun Silvia dapat menebaknya dengan mudah.
Silvia berusaha untuk meyakinkan ibunya kalau dia percaya dengan kata-kata ibunya. Padahal dia tahu kalau ibunya sedang menyimpan sebuah rahasia. Rahasia yang tidak akan diceritakan ibunya dengan mudah kepadanya.
Tapi dia pun tidak akan mudah untuk percaya begitu saja. Dia akan menjadi tahu sendiri apa yang sedang berusaha ditutupi oleh ibunya.
“Baiklah, Bu. Kalau begitu, ibu jangan murung. Aku gak mau melihat Ibu murung di acara tunanganku.”
“Iya, Sayang. Ibu nggak akan murung,” ujarnya seraya menggenggam kedua tangan putrinya dan memeluknya.
Tiba-tiba Tiara datang.
“Ada apa ini? Berpelukan kok cuma berdua? Aku kan mau ikutan juga.” Tiara pura-pura sewot.
“Karena yang ketiga itu adalah setan,” ucap Silvia disambut dengan mulut manyun Tiara dan matanya yang melotot.
“Enak saja aku di bilang setan. Setannya sudah pergi.”
Yang dia maksud adalah Pazel dan keluarganya.
“Masih tertinggal satu lagi, wek,” ucap Silvia sambil menjulurkan lidahnya kemudian dia bersembunyi di belakang ibunya.
“Ibu. Lihat tuh, kakak ngatain aku setan,” adu Tiara seperti anak kecil.
Seketika Bu Iyes pun tertawa melihat tingkah anak-anaknya yang lucu.
“Sudah, sudah. Kalian ini kalau ketemu pasti ribut.” Bu Iyes menengahi mereka.
Bu Sulastri datang dengan senyum merekah bersama seorang gadis yang cantik dan seksi. Namun kecantikannya tidak dapat menandingi kecantikan Silvia.
“Sayang, Kenalkan ini Rani. Dia ini sahabatnya Dana dari kecil. Rani, ini Silvia tunangan Dana.”
Sulastri memang sengaja mengundangnya secara pribadi. Saat itu mereka bertemu di salon kecantikan. Rani bertanya tentang kabar dari Dokter Dana.
Dia mengatakan kalau hari ini Dana akan bertunangan. Tapi Rani malah terkejut. Dia tidak diundang di pesta pertunangan Dana. Dia terlihat sangat sedih.
Sulastri mengira mungkin putranya lupa mengundang sahabatnya itu, makanya dia mengudang Rani secara pribadi.
“Rani sudah kenal, Tante. Dia ini kan orang yang waktu itu naik ojek dan hampir menabrak Kaila.”
Dia ingin mengatai Silvia sebagai gembel tapi urung karena tadi dia mendengar sendiri bahwa Silvia adalah pewaris perusahaan Agung Perkasa. Sebuah perusahaan raksasa yang hampir menyeimbangi perusahaan keluarga Kusuma.
Sedangkan keluarganya sendiri tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga mereka. Perusahaan yang di kelola ayahnya masih bisa bertahan hanya karena bantuan dari keluarga Kusuma.
“O, ya?” ucap Sulastri mengerutkan kening. Kemudian dia kembali tersenyum dan berucap. “Berarti itu sudah menjadi rencana Tuhan.”
“Benar, Ma. Ini sudah menjadi rencana Tuhan. Tuhan memang baik kepadaku dan Kaila, karena mempertemukan kami dengan bidadari sebaik Silvia,” ucap Dokter Dana yang tiba-tiba saja sudah ada di sana seraya merangkul bahu mamanya dengan manja.
“Kalau begitu, kamu harus menjaga bidadarimu dengan sangat baik.” Sulastri menjewer kuping anaknya.
Dokter Dana meringis. “Iya, Ma…. Sakit,” ucapnya sambil mengusap telinganya.
Silvia merasa tersipu mendengarnya. Inilah kasih sayang yang selalu dirindukannya.
“Tuhan memang baik kepadaku.” Dia terharu mendapatkan keluarga yang baik dan menyayanginya.
Perempuan bernama Rani yang terlihat baik dan ramah itu mencengkeram tangannya. Kuku tangan yang panjang sampai menembus kulitnya.
“Jika saya tidak bisa mendapatkan Dana maka saya bukanlah Maharani Sutedja. Kalian lihat saja nanti, jika saya tidak bisa mendapatkan Dana, maka perempuan gembel itu juga tidak boleh mendapatkannya,” gumamnya dalam hati.
Tapi wajahnya masih menampakkan keramah-tamahannya. Tak tampak sedikit pun wajah aslinya.
Dokter Dana sudah melihat wajah asli sahabatnya itu melalui rekaman yang diberikan Papanya. Dia masih memberikan kesempatan kepada wanita itu, karena dia adalah sahabatnya.
Jika tidak dia tidak akan membiarkan wanita itu masih berkeliaran dengan bebas. Tetapi mamanya tidak mengetahui bagaimana tingkah laku sahabat dari anaknya itu. Dia sudah menganggap Rani sebagai putrinya sendiri, karena Rani sudah berteman baik sejak lama dengan putranya Dana.
Bahkan dulu dia pernah mengira putranya mencintai Rani. Namun setelah Dana menambatkan hatinya kepada perempuan lain dan sampai dia memiliki Kaila, barulah penilaiannya berubah.
Dia mengira persahabatan mereka itu terjalin dengan ketulusan hati. Dia tidak tahu berapa lama Rani menderita karena kehilangan orang yang dicintainya. Dia juga tidak tahu berapa besar cinta yang dimiliki Rani untuk putra kesayangannya itu.











