Home / Fiksi / Cerbung / 7. Dekatlah denganku

7. Dekatlah denganku

DEMI WAKTU 1600X900
This entry is part 8 of 8 in the series Demi Waktu (Der Zeit)

“Kita takkan tahu sejauh mana diri telah melangkah. Biarlah misteri-misteri itu kini mengabur bersama asa yang pernah pudar.

Ningrum menjawab, “Ada, Hans. Dalam kepercayaanku semua itu terkoneksi dengan  Sang Pencipta.” Ningrum mulai menangkap binar kehidupan dan semangat dari Hans. Bagus, pikirnya. Pemuda itu kini perhatiannya sudah teralihkan.

“Maksudmu?” Hans ingin tahu. Kedua bola mata indahnya memancarkan semangat.

“Tuhan Sang Pencipta kita. Pencipta alam semesta,” ucap Ningrum, mantap.

Hans kagum padanya, dia  terdiam. Ditatapnya lekat gadis  Asia itu. Pesonanya membuat dirinya seakan tersihir, kian masuk dengan segala daya tarik Ningrum. Bagaikan magnet yang begitu kuat menarik benda-benda di sampingnya. Ada ketenangan, kedamaian, kesejukan jiwa yang baru kali ini dirasakannya. Perlahan, duka akibat kehilangan kedua orang tuanya mulai memudar, tergantikan oleh pesona Ningrum.

“Aku belum mengenal-Nya. Aku hanya menggunakan teori-teori yang terkadang menjerumuskanku. Aku sadar, semuanya telah sia-sia. Aku khilaf, salah jalan. Masihkah ada waktu dan kesempatan memperbaiki diri?”

“Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan melakukan sesuatu yang baru, Hans. Aku yakin, kau mampu. Dan kelak kau akan dapatkan apa yang selama ini sudah kau impikan selama ini.”

“Aku sudah gagal.” Hans tertunduk. Merasa rendah diri serta rasa bersalah itu masih bersarang dalam hatinya.

“Tidak, Hans. Jangan berkata begitu. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu atas semua yang telah terjadi.” Hans seperti mendapatkan kekuatan baru dari Ningrum. Setiap kata gadis itu begitu bermakna untuknya. Wajah tampannya mengukir senyum ketulusan. Ningrum bahagia melihat Hans bersemangat lagi.

“Kita bisa berteman, bukan?” Hans berharap ada tanggapan atas ucapannya pada Ningrum.

“Tentu saja, Hans. Kita bisa berteman dan berbagi jika kau mau,” jawab Ningrum menegaskan.

Lagi-lagi, Hans tersenyum. Hatinya kini dipenuhi kehangatan ibarat selimut hati yang menutupi dingin dan beku jiwanya. Dia bangkit dari duduknya. Menuju rak buku di pojok ruang pribadinya. Mengambil salah satu buku panduan dalam bahasa Jerman. Lalu melangkah lagi menuju tempat Ningrum berada.

“Kau tahu siapa ini?” Hans menyodorkan buku itu kepada Ningrum. Di sana ada foto mantan presiden ketiga Indonesia yang merupakan alumni dari universitas teknologi tempat Hans menuntut ilmu sebelumnya.

Ningrum  melihat sekilas, tersenyum. Dia menjawab, “Tentu saja, aku tahu. Beliau salah satu tokoh idolaku.”

“Ya. Aku pun.”

Hans masih berdiri. Diletakkannya buku itu kembali ke tempatnya. “Ikutlah denganku, Kusuma!” perintah Hans.

Tanpa banyak berkata, Kusumaningrum mengikuti langkah Hans menuju salah satu tempat di belakang rumah. Di tempat itu dulu Hans bekerja keras, merangkai mimpi-mimpinya, sebelum akhirnya dia kehilangan Karl dan Helga. Kedua matanya memindai seluruh tempat itu.

Ich habe eine traumen. Siehst du verstehen?”[1] Hans melangkah menuju pintu ruang itu.

Ja. Ich dich verstehe.”[2] Ningrum mengikuti langkah kaki Hans. Dia harus waspada, mengambil hati Hans dengan hati-hati, agar gairah hidupnya bangkit kembali.

Please, follow me. I”ll show you something. I need your opinion.”[3]

Sure. I will.”[4]

Keduanya melangkah dan membuka lebar tempat yang ternyata gudang markas Hans. Sejenak Hans menghela napas. “Apakah aku bisa membangun mimpi-mimpiku lagi?”tanyanya pada Ningrum, meminta satu kepastian.

Ningrum mengangguk, dia mengerti apa yang dirasakan Hans. “Kelak kau akan dapatkan impianmu, Hans.” Ningrum tersenyum penuh arti. Kedua matanya memberi isyarat pada Hans agar mampu menghadapi segala kemungkinan yang ada.

“Apakah mungkin?” Hans bimbang.

“Hans, kau harus yakin pada dirimu! Pada kemampuanmu. Lupakanlah yang telah berlalu. Kau harus memulai lembaran baru, Hans. Aku yakin kau mampu, Hans!” Ningrum menyemangati.

Hans menatap Ningrum. Dia mendapatkan kekuatan baru. “Ya! Kau benar. Terima kasih!” serunya gembira.

Keduanya kembali ke rumah utama. Menyambut kedatangan Liona beserta paman dan bibinya.

“Tetaplah bersamaku, Ningrum. Aku ingin berteman dekat dengamu.” Kau telah mengubahku, Ningrum. Wanita terindah.

“Tentu, Hans. Aku akan selalu ada untukmu dan Liona.”

Mereka melihat mobil yang dikendarai Arthur memasuki halaman rumah. Liona melihat Ningrum sedang bersama kakaknya. Wajah Hans tampak berbeda. Dia berbisik kepada bibinya, Dietrich.

“Bibi, lihatlah wajah kakakku. Tampak berbeda, bukan?” Liona membuka pintu mobil dan berjalan bersama Dietrich. Dia membawa dua keranjang kecil buah pir dan apel, kesukaan Hans.

Dietrich melihat wajah Hans sangat berbeda. Berbinar. Penuh dengan senyuman dan keceriaan. Sama seperti saat kedua orang tuanya masih ada. Hans akan selalu tersenyum dibalik sikapnya yang dingin.

“Iya, Liona. Aku tidak menyangka jika Hans akan kembali menemukan keceriaannya lagi. Kusuma sepertinya telah membuat kakakmu tersenyum secepat ini,” timpal Dietrich. Dia merasakan kebahagiaan.

“Mungkin saja, Bibi. Kakakku orang yang mudah bergaul sebenarnya. Dia hanya shock kemarin saat ayah dan ibu tiada.”

Mereka kian dekat. Müller ikut membawakan belanjaan. Dia melambaikan tangan pada sepupunya, Hans. “Hans, aku membawa sesuau untukmu. Kau pasti akan menyukainya.”

Keakraban terjalin  di antara mereka di petang itu. Setelah bercakap-cakap beberapa saat dengan  Liona, Ningrum berpamitan ingin kembali ke kota Frankfurt. Di sana, dia tinggal di apartemen khusus pelajar. Dietrich meminta Müller mengantarnya.

“Müller, tolong antarkan Ningrum ke tempatnya!”

“Baik, Ibu.” Müller bersemangat.

Sebelum pergi, Ningrum berpamitan kepada Liona, Hans, serta paman dan bibinya, Arthur dan Dietrich.

Hans merasa tidak nyaman ketika melihat Ningrum pergi bersama Müller. Ada sesuatu yang terasa membuat darahnya naik. Mendidih. Dia tidak rela jika Ningrum dekat dengan pria manapun, termasuk dengan sepuounya.

Di perjalanan, Müller banyak bertanya kepada Ningrum, “Sudah berapa lama kau di sini?”

“Hampir setahun.”

“Kudengar dari Liona, kau mendapatkan bea siswa di kampus Liona. Benarkah begitu?”

Ningrum mengangguk. Müller diam-diam melihat dengan ekor matanya. Dia terpesona dengan gadis itu.

“Kau tinggal di mana di sini?”

“Aku menyewa di salah satu apartemaen di ujung jalan menuju kota,” terang Ningrum,

Kaisserstraße ( baca Kaisser strasse : jalan Kaisar) nomor 21.”

“Oh, aku tahu. Tempat itu adalah tempat favorit Hans ketika menuju kota.” Mūller manggut-manggut. Dia mengerti di mana tempat tinggal gadis itu di negaranya. Dia ingin mengenal gadis itu lebih jauh. Bagaimana caranya.

“Oh, ya?”

Müller mengangguk. “Dulu sewaktu kami belum melanjutkan ke Aachen, setiap malam minggu kami ke sini. Sekadar mencari hiburan. Teman-teman Hans juga banyak yang ada di kota. Percakapan mereka terus mengalir sepanjang perjalanan, hingga akhirnya sampailah di depan apartemen Ningrum.

“Terima kasih atas kebaikanmu,  Müller,” ucap Ningrum sebelum turun. Müller hanya mampu menatapnya kagum. Pancaran telaga bening Ningrum sangat menyejukkan hatinya. Müller terlena.

“Sama-sama. Aku menjalankan apa yang seharusnya ak lakukan. Aku harus pergi sekarang. Auf Wiedersehen[5].”

Müller berlalu meninggalkan Ningrum. Perasaannya diliputi oleh bunga-bunga yang kini mulai memekarkan kuncupnya. Ternyata ini adalah jawaban kehampaan hatinya yang belum mampu menyelimuti segenggam rapuh jiwanya. Ningrum bahkan tidak punya apa-apa. Dia hanya memiliki cinta kesetiaanny pada tujuannya, mengabdikan dirinya kepada sesama juga.

Müller masih penuh tanda tanda bagian mana dia harus memulai. Dia hanya tersenyum membayangkannya.


[1] “Aku punya satu impian, kau tahu?” ( Bahasa Jerman)

[2] “Ya, aku tahu.” ( Bahasa Jerman)

[3] “Ikutlah denganku. Akan kutunjukkan sesuatu. Aku minta pendapatmu.” ( Bhs Jerman)

[4] “Tentu. Aku mau.”

[5] Sampai bertemu kembali

Demi Waktu (Der Zeit)

. Kisah Kita

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image