Mobil yang dikendarai Kyoto melaju pelan di jalan tanah yang semakin menyempit. Di kanan-kiri hanya ada semak liar dan pohon-pohon tua yang batangnya berlumut.
“Kita ke mana?” tanya Nadia penasaran.
“Dekat sini, sekitar 50 meter ke arah atas dari Goa Sentono menuju area Candi Abang,” jawab Kyoto. Benar saja tak sampai 5 menit mereka telah sampai. Kyoto lebih dulu turun, lalu berjalan mengikuti jalan setapak semen hingga di sisi kanan pertigaan.
“Ini goa apa?” tanya Nadia sambil mengamati goa yang berada di bukit yang sama dengan Goa Sentono, tepatnya di Dusun Sentonoharjo, Desa Jogotirti, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.
“Namanya Goa Jepang, dikenal dengan nama Goa Jogotirto,” jawab Kyoto.
Nadia mengernyit, matanya memindai, sepertinya goa ini tak banyak diketahui keberadaannya oleh masyarakat luas.
“Hanya segelintir orang yang tertarik dengan goa ini. Padahal ia memiliki nilai sejarah dan keindahan yang tak kalah menarik dibanding goa-goa yang lain. Biasanya yang datang berkaitan dengan studi atau penelitian yang mereka lakukan,” ujar Kyoto menjelaskan.
Laki-laki blasteran Jawa-Jepang itu mendekat pada goa yang memiliki empat lubang masuk dengan mulut goa yang berbentuk persegi berukuran 2 meter x 2 meter. Lorong masing-masing mulut goa akan bertemu saat mencapai kedalaman kira-kira 10 meter ke dalam.
“Gelap,” ujar Leon saat sudah berada di dalam.
“Iya juga, tadi tidak kepikiran bawa senter atau headlamp,” jawab Kyoto. Suasana di dalam goa minim sekali pencahayaan. Sumber cahaya hanya berasal dari mulut goa saja.
“Ada senter di mobil,” kata Nadia teringat ia selalu menyimpan senter di dashboard.
Kyoto hanya mencebik, “Tapi aku malas balik lagi,”
“Oke lah, kita masih bisa masuk karena goanya tidak terlalu dalam,” ujar Nadia. Kyoto mengiyakan.
Goa Jepang di Berbah ini letaknya begitu dekat dengan rumah warga. Jadi tidak terlihat kesan angker. Juga karena warga setempat ada yang bertugas membersihkan.
“Menurut informasi goa ini adalah salah satu peninggalan dari para tentara Jepang, dan telah dibangun sebelum tahun 1945.” Kyoto menjelaskan.
“Kegunaannya untuk apa?” tanya Leon
“Tidak ada yang tahu persis, entah sebagai tempat persembunyian, atau tempat pengumpulan senjata atau makanan. Karena tidak banyak yang mengulas secara detail tentang fungsi goa ini dibangun.”
Nadia mengangguk, setelah sempat masuk, ia memang menemukan bahwa ada lorong yang menghubungkn keempat goa tersebut. Namun, tidak banyak catatan tentang goa Jepang yang bisa ditemukan.
“Biasanya tempat yang tidak dicatat, akan selalu diingat oleh yang pernah datang,” ucap Nadia sambil membuka buku catatan lamanya.
Leon, yang duduk di kursi belakang, berujar ringan. “Tempat yang tidak ada di peta justru biasanya yang paling jujur.”.
Kyoto bersandar di mobil, menunggu Leon dan Nadia yang masih sibuk mengambil gambar.
“Berapa banyak cerita yang hilang di sini. Tidak ditulis, tidak direkam … tapi pernah terjadI,” seru Leon takjub.
Nadia tersenyum. “Bukankah itu tujuan kita? Melukis jejak yang belum sempat dilukis.”
Kyoto hendak menimpali, tapi tiba-tiba suara ponsel memecah keheningan.
Leon menoleh. Layarnya menyala tanda ada panggilan masuk. Nama yang muncul membuat ekspresinya berubah.
Ia berjalan sedikit menjauh dari mereka, mencari tempat yang lebih sunyi, meski sebenarnya seluruh tempat ini sudah sunyi.
Nadia dan Kyoto saling pandang. Ada sesuatu yang berbeda saat Leon mengangkat telepon.
“Halo .…”
Suara di seberang terdengar tegas, berat, dan tidak memberi ruang untuk basa-basi.
“Leon. Apa yang Kamu lakukan di sana? Kamu harus pulang!”
Leon terdiam sejenak. Ia memandang langit yang mulai meredup.
“Dad, aku masih di Indonesia.”
“Justru itu. Kamu sudah terlalu lama di sana. Ada hal yang lebih penting harus kamu tangani di sini.”
“Apa tidak bisa menunggu?”
“Tidak.”
Jawaban itu cepat, tanpa kompromi. Leon menghela napas panjang. “Aku belum selesai di sini.”
“Kamu tidak ke sana untuk menetap, Leon. Kamu punya tanggung jawab di perusahaanmu.”
Angin yang berembus membuat jeda, Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
“Dad .…” Suara Leon melembut, “aku menemukan sesuatu di sini.”
“Liburan bukan alasan untuk melupakan kewajiban.”
“Bukan itu,” Leon menatap tanah, “aku menemukan … makna yang selama ini tidak aku temui.”
Di ujung sana, suara ayahnya tetap dingin. “Makna tidak bisa membayar konsekuensi dari keputusanmu.”
Leon menutup mata, ia bergumam lirih, “Aku jatuh cinta pada tempat ini.”
Namun, telepon dimatikan sepihak, Leon mendengus kesal, dan untuk pertama kalinya, ia berkata lebih jujur dari pada sebelumnya.
“Aku juga jatuh cinta pada seseorang di sini.”
Leon terdiam lama, selalu seperti itu. Ayahnya tidak pernah mau dibantah, meski untuk hal kecil yang remeh. Setelah meredakan pikirannya yang sempat tegang, ia kembali ke mobil.
“Ada apa?” tanya Nadia hati-hati, ia langsung tahu ada yang berubah di wajah laki-laki berdarah Jerman itu.
Leon berusaha tersenyum, tapi gagal. “Aku… harus pulang.”
Kyoto mengernyit. “Kenapa Mendadak sekali?”
“Daddy menyuruhku pulang.”
Nadia menatapnya, matanya mulai meredup. “Kenapa?”
“Urusan penting katanya, tentang perusahaan.”
“Berarti kamu harus pergi?” suara Nadia nyaris berbisik.
Leon mengangguk pelan. Tidak ada yang langsung bicara setelah itu.Tempat yang tadi terasa penuh misteri, kini justru terasa kosong.
Kyoto memecah keheningan. “Kapan rencananya?”
“Entah. Mungkin … besok atau lusa.”
Nadia tertawa kecil, tawa yang dipaksakan. “Cepat sekali perjalanan ini berubah.”
Kyoto menepuk bahu Leon pelan. “Kadang, perjalanan bukan soal sampai. Tapi soal siapa yang kita temui di tengah jalan.”
Leon tidak menjawab, ia hanya menunduk dengan tatapan kosong.
“Jadi … ini akhir perjalanan kita?” Nadia berusaha tetap tersenyum, meski senyum itu tak lagi sama.
Leon menggeleng. “Bukan akhir. Hanya … jeda.”
“Tapi jeda yang jauh,” kata Nadia.
“Tidak sejauh itu,” Leon mencoba meyakinkan, “dunia tidak sebesar yang kita kira.”
Nadia menatapnya dalam. “Tapi waktu seringkali membuat jarak jadi lebih panjang.”
Leon tidak menjawab, ia kembali menunduk.
“Aku ingin jujur,” kata Leon akhirnya, “aku tidak ingin pergi.”
“Tapi Kamu tetap harus pergi, kan?”
“Karena ada hal yang harus aku selesaikan. Tapi …” ia menelan kata-katanya, diam sejenak seperti mengumpulkan kekuatan, “aku takut kalau aku pergi … aku akan kehilangan ini.”
“Ini?” Nadia tersenyum tipis, “atau aku?”
Leon menatapnya, lama, lalu tersenyum, “Keduanya.”
Kyoto memilih menjauh, untuk memberi ruang. Keheningan terasa menggigit.
Nadia menarik napas dalam. “Leon, kurasa dari awal perjalanan ini, kita tahu bahwa semuanya sementara?”
“Tidak semua,” bantah Leon.
“Perjalanan, tempat, bahkan perasaan, semua bisa berubah.”
“Tidak kalau kita menjaganya,” potong Leon.
Nadia menggeleng pelan. “Kamu terlalu percaya pada hal yang indah.”
“Kamu takut mempercayainya?”
Nadia tersenyum, tapi ada luka di sana. “Mungkin.”
Leon melangkah lebih dekat. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi yang aku tahu … aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.”
“Apa?”
“Merasa berada di tempat yang tepat, dengan orang yang tepat.”
Nadia menatapnya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu datang ke tempat yang tidak ada di peta, dan menemukan sesuatu yang bahkan tidak kamu cari.”
Leon mengangguk, memangkas jarak dengan Nadia.
“Dan sekarang kamu harus pergi.”
“Iya.”
Nadia menghela napas panjang. “Itu terlalu klasik.”
Leon tertawa kecil, pahit. “Hidup memang seringkali bercanda di momen yang tidak lucu.”
Mereka berdiri saling berhadapan, tidak ada pelukan, hanya tatapan mata yang saling mengisi kekosongan.
“Aku tidak akan meminta kamu tinggal,” kata Nadia lirih
“Dan aku juga tidak akan janji menunggu,” imbuhnya.
Leon terdiam, sesuatu yang berat menindih hatinya, ia ingin jujur. Untuk pertama kalinya ia jatuh cinta bukan hanya pada tempat, tapi pada seseorang yang membawanya ke tempat itu.
“Aku janji .…” Nadia melanjutkan, suaranya bergetar, “aku tidak akan melupakan.”
Leon mengangguk pelan. “Danke, Itu cukup.”
Tanpa banyak kata, Leon menarik Nadia ke dalam pelukannya, merasakan hangat yang mengalir di sela napas seolah tidak ingin berakhir.
“Kalau suatu hari kamu kembali, jangan cari aku di peta,” bisik Nadia.
“Lalu aku harus mencari di mana?”
Nadia tersenyum di bahunya. “Di tempat yang sama … di mana kita tidak pernah benar-benar pergi.”
Dari kejauhan Kyoto hanya diam, membiarkan dua sahabatnya menyelesaikan apa yang tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata.
Hari itu, mereka tidak menemukan situs bersejarah, tapi menemukan sesuatu yang lebih rapuh dan lebih abadi. Sebuah perasaan yang tidak tercatat di peta mana pun. Seperti tempat itu … yang mungkin tidak pernah ada di dunia, tapi nyata bagi mereka yang pernah mengalaminya.
***











