Ketika membahas siapa yang memberi nasihat terbaik tentang kesuksesan, nama Arnold Schwarzenegger mungkin bukan orang pertama yang terlintas di pikiran. Namun dalam pidato wisuda terkenalnya di Universitas Southern California pada tanggal 9 Mei 2009, dia membagikan “6 Aturan untuk Sukses” yang hingga kini masih sering dikutip. Menariknya, aturan-aturan itu juga sangat relevan bagi para penulis.
- Percaya pada diri sendiri
Jauh di dalam hati, Anda tahu bahwa Anda ingin menulis novel. Bukan sekadar ide yang muncul sesaat lalu hilang. Bukan pula hobi iseng. Keinginan itu terus muncul lagi dan lagi. Kadang terasa seperti obsesi, kadang seperti mimpi yang tak mau pergi.
Kalau Anda ingin berhasil sebagai penulis, Anda harus mempercayai dorongan itu.
Schwarzenegger pernah berkata bahwa sejak muda dia memiliki hasrat besar untuk meninggalkan desa kecilnya di Austria. Bukan karena dia membenci tempat asalnya. Austria adalah negara yang indah. Namun dia merasa terpanggil untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Dia memimpikan Amerika Serikat, tempat yang menurutnya memberi ruang bagi mimpi untuk menjadi kenyataan.
Semua pencapaian besar biasanya dimulai dari keyakinan sederhana: aku bisa melakukannya.
- Berani melanggar aturan
Kalau diperhatikan, banyak penulis sukses justru mencapai kesuksesan karena berani keluar dari jalur yang dianggap “benar”.
Dulu, aturan tidak tertulis dalam dunia penerbitan mengatakan bahwa seorang penulis harus mendapatkan agen sastra terlebih dahulu sebelum memperoleh kontrak buku. Namun penulis fiksi ilmiah Hugh Howey penulis serial fiksi ilmiah Silo melakukan kebalikannya. Dia lebih dulu menjadi penulis bestseller melalui jalur indie, baru kemudian menandatangani kontrak dengan agen.
Tentu saja aturan ada karena suatu alasan. Tetapi penulis yang baik memahami bahwa aturan bukanlah tembok yang tak boleh dibobol. Kadang-kadang, aturan justru perlu dilanggar demi menghasilkan sesuatu yang lebih kuat, lebih segar, dan lebih berkesan.
- Jangan takut gagal
Bertahun-tahun lalu, aku pernah bertemu seorang calon penulis di sebuah tempat fotokopi. Dia sedang menggandakan naskah sambil tersenyum lebar.
“Novel debut saya,” katanya dengan bangga.
“Novel pertama?” tanyaku.
Dia tertawa kecil.
“Bukan novel pertama yang aku tulis. Hanya yang pertama diterbitkan.”
Ternyata sebelumnya dia sudah menyelesaikan sekitar empat manuskrip yang semuanya ditolak penerbit. Namun dia tidak berhenti menulis. Dia yakin suatu hari karyanya akan menemukan jalannya sendiri.
Dan benar saja. Beberapa tahun kemudian, dia menjadi penulis serial misteri yang sukses.
Apa pun impian Anda—menerbitkan novel, memenangkan kompetisi, membangun bisnis, atau hal lainnya—kegagalan akan menjadi bagian dari perjalanan. Akan ada penolakan, kritik, dan kesempatan yang terlewat.
Tetapi kegagalan bukanlah akhir cerita.
Seperti kata Schwarzenegger, Anda tidak boleh membiarkan rasa takut gagal membuat Anda berhenti bergerak. Teruslah melangkah karena Anda percaya pada diri sendiri dan pada visi yang Anda miliki. Jika terus bertahan, kesempatan untuk berhasil akan datang.
- Abaikan suara-suara pesimis
Selama bertahun-tahun, ibuku selalu mengatakan hal yang sama. “Tidak ada orang yang bisa hidup dari menulis.”
Dan aku selalu menjawab, “Aku bisa, Bu. Aku hidup dari menulis.”
Namun beliau tidak menyerah begitu saja.
“Tapi apa kamu punya asuransi kesehatan?” tanyanya lagi sambil menggelengkan kepala. “Cuti dibayar?”
Aku paham maksudnya. Beliau hawatir.
Masalahnya, setiap orang yang mencoba melakukan sesuatu yang berbeda pasti akan bertemu dengan orang-orang yang meragukannya. Kadang mereka orang asing. Kadang teman dekat. Kadang bahkan keluarga sendiri.
Sebagian dari mereka bermaksud baik. Sebagian lagi hanya memproyeksikan ketakutan mereka kepada Anda.
Mendengarkan masukan itu tidak salah. Tetapi pada akhirnya, Andalah yang harus memutuskan apakah sebuah mimpi layak diperjuangkan atau tidak.
Kalau Anda terus membiarkan suara-suara pesimis menentukan arah hidup Anda, kemungkinan besar Anda tidak akan pernah melangkah cukup jauh untuk mengetahui apa yang sebenarnya mampu Anda capai.
Kita semua punya orang-orang seperti itu dalam hidup kita. Mereka yang selalu punya alasan mengapa sesuatu tidak akan berhasil. Mereka yang berkata, “Itu terlalu sulit,” atau “Kamu tidak mungkin bisa melakukannya,” atau “Begitulah kenyataannya, terima saja.”
Arnold Schwarzenegger juga pernah menghadapinya.
Ketika dia mencoba masuk ke dunia film Hollywood, banyak orang mengatakan peluangnya nyaris nol. Aksennya terlalu kental. Namanya terlalu sulit diucapkan. Tubuhnya terlalu besar. Menurut mereka, semua itu adalah kekurangan. Lucunya, justru hal-hal itulah yang akhirnya membuatnya terkenal.
Bayangkan kalau Arnold mendengarkan semua komentar negatif itu. Mungkin dia tidak akan pernah menjadi bintang film dunia. Mungkin dia masih berada di sebuah desa di Austria, menyanyikan lagu-lagu yodel di pegunungan Alpen.
Kadang-kadang, perbedaan antara berhasil dan gagal bukanlah bakat. Melainkan keberanian untuk mengabaikan orang-orang yang meragukan Anda.
- Bekerjalah dengan sungguh-sungguh
Arnold mulai berlatih binaraga sejak masih remaja. Ketika berusia 18 tahun dan menjalani wajib militer, dia menghadapi masalah: latihan lapangan sering dilakukan jauh dari gym. Kebanyakan orang mungkin akan menganggap itu alasan yang cukup untuk melewatkan latihan.
Arnold tidak.
Dia memasukkan perlengkapan angkat bebannya ke belakang tank. Setelah latihan militer selesai dan semua orang beristirahat di perkemahan malam, dia masih menyempatkan diri berlatih selama beberapa jam sebelum makan malam.
Tingkat dedikasi seperti itulah yang akhirnya membawanya menjadi juara. Pada usia 20 tahun, dia memenangkan gelar Mr. Universe. Setelah itu, dia menjuarai Mr. Olympia sebanyak tujuh kali.
Pertanyaannya: seberapa besar komitmen Anda terhadap novel yang ingin Anda tulis?
Dalam sehari ada 24 jam. Kalau Anda tidur delapan jam, masih ada 16 jam tersisa.
Kalau Anda menulis selama satu jam setiap hari, itu hanya sekitar 6% dari waktu bangun Anda.
Memang, hidup tidak sesederhana angka. Ada pekerjaan, keluarga, anak-anak, urusan rumah, dan seratus hal lain yang menuntut perhatian. Tetapi satu jam tetaplah satu jam.
Sering kali masalahnya bukan tidak punya waktu. Kita hanya belum benar-benar menjadikan menulis sebagai prioritas. Dan tenang saja, tidak ada yang menyuruh Anda mengangkut dumbel di belakang tank.
6. Berbuat baik kepada orang lain
Selama bertahun-tahun, aku telah menyumbangkan kritik dan saran, sebagian royalti buku, dan berbagai bentuk bantuan lainnya untuk mendukung program literasi, program kemanusiaan, dan organisasi yang membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Aku tidak melakukannya untuk mencari pujian. Aku melakukannya karena rasanya memang itulah hal yang harus aku lakukan.
Menariknya, aku baru mulai merasakan kesuksesan yang lebih besar sebagai penulis setelah mulai memberi kembali kepada orang lain. Aku tidak tahu pasti alasannya. Mungkin sesuai dengan ‘menuai apa yang kita tabur’. Mungkin rasa syukur. Mungkin karena ketika kita membantu orang lain, cara kita memandang hidup juga berubah.
Apa pun alasannya, aku tahu satu hal: itu membuat perbedaan.
Carilah sesuatu yang benar-benar Anda pedulikan. Mungkin menjadi sukarelawan. Mungkin membantu komunitas lokal. Mungkin membimbing penulis pemula. Mungkin menyumbang untuk tujuan yang Anda yakini.
Apa pun bentuknya, kontribusimu tidak harus besar untuk berarti.
Sebagai penulis, Anda memiliki kemampuan yang tidak dimiliki semua orang: kemampuan menggerakkan hati manusia hanya melalui kata-kata. Gunakan kemampuan itu dengan baik.
Bukan hanya dunia yang akan menjadi sedikit lebih baik. Anda juga akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Ingat. Tidak ada satu pun aturan itu yang menjamin kesuksesan instan. Tetapi semuanya akan membantu Anda untuk terus melangkah ketika banyak orang lain memilih berhenti.
Dan suatu hari nanti, saat writer’s block menemui Anda, baca lagi 6 aturan untuk sukses sambil tersenyum dan berkata, “Hasta la vista, baby.”
Cikarang, 5 Juni 2026










