Jadi, mungkin awalnya kamu cuma penulis hobi yang makin lama makin serius mengejar impian menulis. Atau mungkin kamu sudah pernah menjual beberapa karya fiksi, tapi seperti kebanyakan orang lainnya, kamu juga masih punya pekerjaan tetap.
Yang kemungkinan besar masih kamu sebut sebagai “pekerjaan utama”.
1. Ubah cara pandangmu.
Kalau menulis adalah tempat gairahmu hidup, sementara pekerjaan kantoran cuma tempat gaji berasal, maka kenyataannya begini: menulis ITU pekerjaan utamamu. Dan itu berarti:
2. Seperti pekerjaan lain, kamu harus hadir secara rutin, konsisten, dan bisa diandalkan.
Tugasmu menyediakan waktu khusus setiap hari—ya, setiap hari—untuk mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan tulisan. Perhatikan, aku tidak bilang “untuk menulis” setiap hari. Ini penting, karena memperlakukan menulis sebagai pekerjaan bukan berarti kamu harus duduk mengetik setiap hari seperti nasihat para guru motivasi kepenulisan. Kedengarannya aneh? Tapi memang begitu.
Jadi: datang kerja tepat waktu, pulang kerja tepat waktu, dan jangan jadikan itu sekadar kebiasaan. Jadikan itu kewajiban. Jadwal tetap. Ekspektasi. Dan selama jam kerja berlangsung:
3. Anggap kamu punya bos.
Apa bosmu bakal membiarkan TV menyala selama jam kerja? Membiarkan kamu main Mobile Legend berjam-jam? Santai scrolling Facebook atau X saat harus bekerja?
(Nanti ada pengecualian untuk ini di langkah berikutnya. Sabar dulu.)
Kalau bos sungguhan saja tidak akan membiarkannya, kenapa kamu membiarkan dirimu sendiri melanggarnya? Saat jam kerja, ya harus kerja. Artinya: fokus pada dunia kepenulisan. Kecuali:
4.a. “Tapi proyekku sudah selesai!” protesmu. “Sudah dikritik, dibaca beta reader, diedit habis-habisan. Masa aku nggak boleh santai sekarang?”
Izinkan aku menepis tangan sendiri, karena jawabannya: belum boleh santai.
Setiap pekerjaan selalu punya tugas di balik layar, dan dunia menulis juga begitu. Naskah selesai? Bagus. Sekarang duduk lagi dan tulis postingan blog—bukan satu, tapi tiga atau empat—tentang apa yang menginspirasi kamu menulis cerita itu.
Apakah ada soundtrack tertentu yang kamu dengar saat menulis adegan penting? Adegan mana yang paling berkesan untuk ditulis? Mana yang paling sulit?
Buat daftar pertanyaan untuk klub buku yang bisa dimasukkan ke bagian belakang novel.
Tulis 10 tweet menarik yang bisa bikin orang penasaran lalu membeli bukumu.
Ambil kutipan-kutipan terbaik dari novel, lalu pasangkan dengan gambar dari situs foto gratis yang cocok dengan suasana adegannya. Setelah itu, siapkan untuk diposting di Facebook.
Oh iya, ingat waktu tadi aku bilang bos tidak akan suka kalau kamu sibuk main media sosial? Nah, ini pengecualiannya. Karena sekarang, bagian dari pekerjaanmu sebagai penulis adalah membuka X dan Facebook, mencari blogger buku yang cocok untuk dimintai review.
Dan setelah itu? Tulis email penawarannya juga.
Sudah kebayang sekarang? Masih merasa Mobile Legend lebih penting? Astoge!
4.b. “Tapi aku lagi writer’s block!”
Itu kondisi yang nyata, dan hampir semua penulis pasti pernah mengalaminya. Jadi ketika jam menulismu tiba, coba gali lagi hal-hal yang biasanya bisa memantik ide.
Apa kamu terinspirasi dari foto tempat-tempat yang menarik? Dari kalimat indah dalam karya sastra? Apakah ada trope atau tema tertentu yang selalu membuatmu kembali menulis lagi dan lagi? Atau mungkin scrolling daftar bacaan di Goodreads justru memancing ide baru?
Di sinilah kamu tidak boleh menyerah begitu saja lalu meninggalkan “pekerjaanmu”. Justru kamu harus mencari cara untuk kembali terhubung dengan muse-mu. Kreatif dikitlah. Tulis cerita pendek satu paragraf dari writing prompt jadul. Baca artikel tentang teknik menulis. Simpan dan bookmark berbagai tools atau tips kepenulisan yang bisa mengasah kemampuan menulismu.
Semua itu tetap dihitung sebagai “jam kerja menulis”.
5. Jam pulang kerja!
Kecuali kamu sedang benar-benar semangat atau memang ingin lembur, setiap hari kerja tetap harus ada akhirnya. Tubuh dan pikiran juga butuh makan, peregangan, olahraga, dan yang paling penting: keseimbangan.
Burnout itu nyata. Dan kalau tidak hati-hati, justru bisa membuat writer’s block makin parah. Jadi sebelum “absen pulang”, biasakan mencatat cepat hal-hal yang perlu dikerjakan besok atau ide yang ingin dieksplorasi saat kembali menulis nanti.
Selain itu, tinggal satu langkah terakhir:
6.Hari gajian!
Imbalan atas waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri. Kalau tidak, kita bisa lupa kenapa kita bersusah payah melakukannya sejak awal.
Kadang “gajian” memang berbentuk nyata: kontrak proyek, naskah yang terjual, atau bayaran hasil editan. Tapi sering kali, bentuknya lebih kreatif.
Cara “membayar diri sendiri” misalnya dengan membagikan potongan kecil dari work in progress di Facebook pribadi. Bukan untuk cari pujian, tapi karena memang senang menghibur orang lewat cerita. Atau ngopi ganteng di warung sembari nonton ondel-ondel lewat.
Mungkin versi “gajian” buat orang lain adalah sesi yoga setelah menulis. Jogging sore. Berendam air sungai. Atau apa pun yang terasa seperti hadiah setelah bekerja keras.
Apa pun bentuknya, yang penting ada rasa bahwa waktu, tenaga, dan perhatian yang sudah dicurahkan untuk menulis hari itu benar-benar dihargai.











