Andai aku bertemu denganmu, satu senja dengan aroma asap. Mungkin kita akan diam atau setidaknya, aku yang begitu. Ya, bagaimana pula aku harus bercakap denganmu sementara hanya dengan menatap saja, aku sudah kikuk.
Dirimu yang—kata orang—liar jelas tak mungkin sejalan dengan wanita idealis yang memakai topeng hampir setiap hari. Rumor atas namamu di jalanan menyeruak. Baunya sampai ke mana-mana. Tapi, aku yakin, dirimu mana mungkin ambil pusing. Sibuk, lebih tepatnya, dengan segelintir tembakau yang membara di sela bibir.
Tidak.
Maaf, aku tidak bermaksud menyanjung. Meski hari ini orang jahat lebih dipuja dari orang terpuji, aku masih kalah pada ideologiku sendiri. Tak mungkin aku berani melangkahi hukum yang aku buat demi berpetualang masuk ke dalam sepasang matamu. Tak beranilah aku. Tak berani.
Ya, aku tahu. Aku aneh. Wanita normal mana yang berani bersanding dengan pria sepertimu? Mungkin, batinmu, diamku serupa anomali. Takdir apa yang membawa kita bertemu justru lebih aneh lagi.
Silakan tertawa.
Di masa ini, kamu melihat dunia yang berbeda setengah abad lagi. Masa ini, negeri masih bayi sehingganya oek-nya mudah dihibur. Tetapi, lima puluh tahun lagi, bayi ini sudah sulit dibujuk. Ia pernah belajar, bersemangat memperbaiki diri, juga mengalami krisis identitas. Melewati kerikil, batu tajam, tikungan, dan tak ubahnya dirimu, tiba-tiba sudah hafal pola pengkhianatan, sisi gelap terang kebebasan.
Aku menemukan jalanmu usai abad 20 telah satu dekade berlalu. Hari-hari itu, tak pernah kubayangkan aku akan menuju jalan yang dulu sarat tabu. Tolong, kali ini jangan tertawa. Dirimu bisa begitu karena tak tahu rasanya dipingit karena kita berbeda. Apalagi? Tentu saja, aku wanita dan kamu jenis satunya lagi.
Haha. Baik. Biar aku lanjutkan, tapi jangan berpikir bahwa negeri yang dulu bertemu denganmu masih merangkak sudah mati. Kurasa, ia hanya pingsan. Bagaimana? Macam dirimu tak tahu saja soal ketidakadilan dan tidak setara yang membawa kotak-kotak banyak berjatuhan atas nama aneh-aneh. Ya, dirimu tak ambil pusing dan masih menghisap rokokmu, sebelum bertanya: “Siapa? Apa kita pernah bertemu?”
Yang jelas, aku bukan mantan kekasihmu. Well, tidak ada pintu yang bisa kubuka demi bisa meraih tangan lalu hidup seperti hidupmu. Tak bisa, tak mungkin aku bisa begitu. Aku memahami kebencianmu bercampur seperti asap dan uap napasmu dalam senja yang masih muda yang kunamai itu cinta. Benar, Wahai pria setengah abad yang namanya aku baca begitu sering membersamai bait-bait puisi. Kamu membenci dan mencintai negaramu, seperti aku.
Lucu, ya?
Anggap saja aku gila. Orang waras mana memangnya yang memandangi punggung pria yang tak berani dia sapa? Mungkin, dirimu tak tahu akan pergi begitu cepat. Aku juga tak tahu kapan akan dipinta pulang.
Ah, tapi andai saja, andai dirimu tahu betapa kami di abad 21 membawa-bawa namamu di banyak karya. Ada yang sebatas biar keren, lainnya mengira membawamu berarti membawa citra pejuang sastra. Padahal, mungkin, mungkin saja dirimu tak pernah ambil pusing. Ya, jika diri sendiri saja tidak kamu pikirkan, bagaimana bisa memikirkan orang lain. Tidak? Kamu memikirkan dirimu juga? Oh, jika begitu, kamilah yang egois.
Andai saja kami tahu cara menemukan pintu, untuk memberitahumu, kami salah. Dan tentu saja, sangat mungkin katamu: “Urus dirimu sendiri. Aku sudah mati. Memangnya aku bisa hidup lagi?”











