Home / Topik / Kenangan Terindah Generasi Milenial

Kenangan Terindah Generasi Milenial

Kenangan Terindah Generasi Milenial

Jika ada masa terindah, kenangan terindah yang aku alami sepanjang hidupku, maka salah satunya adalah kenangan terindah bersama almarhum ayahku. Idola pertama dalam hidupku yang mengajarkan dan memberitahukanku banyak hal.

Sebagai seseorang yang terlahir sebagai Gen-Y atau generasi Millenial, era 80-90an adalah era terbaik bagiku, bagaimana tidak? Di era itu, masih jarang orang memiliki televisi, radio, dan juga tape-recorder. Keberadaan televisi  kala itu masih monokrom alias hitam putih. Belum banyak yang memiliki televisi berwarna seperti sekarang.

Akan tetapi, banyak hal manis  dan indah yang aku dapatkan dari masa-masa itu. Aku mulai mengenal beberapa acara anak-anak lewat televisi, diantaranya; Cerdas Cermat yang diadakan oleh TVRI Yogyakarta.  Ada juga cerita anak boneka Si Unyil juga lagu-lagu anak yang masih terngiang hingga kini.

Film boneka Si Unyil dengan tokoh Unyil dan kawan-kawannya adalah bentuk dari  kebhinekaan yang nyata dengan mengedepankan kisah moral tentang toleransi, persatuan, kerjasama dan gotong royong.

Dari tayangan TVRI aku pun mulai tertarik untuk belajar budaya daerah.

Tidak hanya itu, aku juga mulai mengenal beberapa film, drama, dan juga sinetron yang ditayangkan oleh TVRI. Di antaranya film horor dari barat yaitu Friday 13th, O’ Harra, film aksi Remington Steel, Bonanza, The Invaders. Selain itu ada juga drama lokal Sartika, Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat dengan latar belakang Sumatera Barat ( Padang).

Dari sini pula aku mengenal budaya Minang dan juga lagu-lagu Melayu. Tidak hanya itu, beberapa tarian dan bahasa daerah dari Sulawesi dan Kalimantan juga menghiasi layar kaca ini. Benar-benar legend, begitulah kata orang-orang zaman now.

Salah satu kesenian daerah yang sangat populer waktu itu adalah Ketoprak  Mataram.

Ya. Ketoprak.

Salah satu kesenian khas dari daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta yang sangat populer dan disukai oleh semua kalangan. Tua-muda, anak-anak dan dewasa dari semua umur. Jadwal menonton ketoprak tak pernah terlewatkan. Biasanya sehabis ngaji dan di hari juga jam tertentu.  Waktu itu masih nonton di tetangga yang punya tivi waktu aku ada di desa. Aku tidak kesulitan ketika menontonnya di rumah ayahku yang ada di kota.

Ketoprak mengambil kisah dari sejarah kerajaan-kerajaan masa lalu yang dipentaskan oleh beberapa orang yang memerankan tokoh-tokoh tersebut. 

Dari sinilah, almarhum ayahku  mengenalkan diriku pada beberap hal–acara di televisi. Salah satu yang masih kuingat adalah Dunia Dalam Berita, Spektrum, Khazanah Dunia Pustaka, dan Berpacu Dalam Melodi.

Dari tayangan Dunia Dalam Berita, ayahku banyak bercerita tentang perang yang rerjadi waktu itu, di antaranya Perang Teluk antara Irak dan Amerika Serikat sekitar tahun 1990. Selain itu, saat acara Prakiraan Cuaca yang menayangkan beberapa negara-negara di dunia beserta ibukotanya.

Aku juga gemar mendengarkan sandiwara radio

Sandiwara radio menjadi kegemaran dan kebanggaan masyarakat waktu itu dengan cerita-cetita yang sungguh menggugah pola pikir  Banyak hal yang didapatkan dari sandiwara radio. Tidak hanya hapal nama–nama tokoh yang memerankannya, tetapi juga apa yang melekat pada diri mereka dengan segala keunikannya.

Namun, setelah sekian lama kepergian ayahku, aku tetap mengingat hal-hal itu dan puncaknya aku menyukai pelajaran IPS, terutama IPS Geografi yang menceritakan tentang banyak negara. Dari pelajaran itu aku punya impian kelak dapat mengunjungi negara-negara itu jika kelak aku sukses.

Melanjutkan hidup tanpa kehadiran sosok seorang ayah memang berat, tetapi pengalaman hidup itu telah mengajarkanku banyak hal agar tidak mudah menyerah dan juga tetap optimis dengan keadaan yang ada.

Dari kenangan-kenangan itu akhirnya kini bisa aku tuliskan menjadi beragam karya yang aku tekuni sekarang ini. Salah satu manfaat yang bisa aku ambil adalah aku mencintai budaya daerah di Indonesia yang menjadi salah satu aset budaya nasional. Salah satunya adalah budaya Melayu-Riau, yang menjadi akar dan cikal bakal bahasa Indonesia.

Salah satu dari sekian kenangan tak terlupakan dan terus membekas hingga kini adalah kebiasaan almarhum ayah yang selalu membeli dan membaca koran. Dari sini aku mulai banyak membaca. Meski terkadang ayahku sering membelikan majalah anak-anak waktu itu seperti Bobo dan Taman Melati.

Ah, indahnya!

Andaikata masa-masa itu terulang lagi.

Tapi…tak mungkin, karena waktu takkan pernah kembali. Waktu akan terus berlari dan berlari mengikuti alur yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta.

Jujur saja, di usiaku kini, aku ingin mendengar kisah-kisah dari sandiwara radio yang dulu sering aku dengarkan di kala sore ataupun malam hari. Usai pulang sekolah dan aku belum sempat ganti baju juga solat, waktu itu radio yang pertama aku cari.

Ha ha…

Masa anak-anak yang tak terlupakan.

Bedanya dengan era sekarang, dari bayi hingga orang tua semua sudah bisa bermain telepon genggam–telepon pintar dengan sederet kelebihan-kelebihan dan fitur-fitur keren yanb mereka tawarkan

Lagi-lagi, kecanggihan teknologi takkan mampu menghapus memori dan kenangan era 80-90an yang sangat berarti.

Rasa persatuan, kesatuan, kebersamaan, sangat kental waktu itu. Berangkat sekolah bersama-sama, berjalan kaki sambil bersenda gurau. Ada beberapa teman yang kadang berangkat sekolah tanpa mandi dan memakai sepatu tanpa kaoa kaki dengan pakaian yang tidak disetrika. Tas sekolah pun ada yang memakai tas kresek.

Tapi, tetap saja tak tergantikan oleh zaman sekarang. Bisa kubilang jika Generasi Millenial adalah generasi tahan banting  yang sudah ditempa oleh berbagai keadaan dan peristiwa sepanjang hidup. Generasi Millenial adalah generasi dengan pandangan terbuka, tetapi masih menghormati guru dan menunjukkan kepatuhan mereka kepada pahlwan tanpa tanda jasa itu.

Menekuni dunia kepenulisan yang kini kuselami, aku ingin menorehkan semua kenangan-kenangan yang ada dari masa lalu yang tidak hanya bisa menjadi pelajaran, tetapi juga diambil amanat serta sisi moralitas yang perlu dan harus tetap dihidupkan di era kini.

“Kenapa kamu pada akhirnya menjadi penulis? Padahal kamu kan dulu sekolah jurusan bisnis manajemen?” tanya seseorang padaku.

Kujawab sejujurnya, “Sebenarnya aku dulu sekadar coba-coba menulis, akhirnya diajak teman menulis. Aku ingin memiliki karya sendiri yang kelak bisa menjadi kebanggaan generasiku.”

“Selain itu, apa?”

“Aku ingin dikenang dalam sejarah. Tapi…kian hari aku sadar, jika semuanya akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Maka, aku akan menulis kisah-kisah yang bisa mendekatkan diriku pada-Nya.”

Dunia kepenulisan memang asyik. Akan tetapi, semakin kita aktif dan produktif, ada saja beberapa orang yang iri dan tidak menyukai hasil dari yang telah kita perjuangkan.

Sayangnya di negeri ini, kepandaian seseorang seringkali diukur dengan benda tak bernyawa bernama; ijazah.

Aku bertekad, meski aku tidak pernah bersekolah tinggi/ kuliah, tetapi aku akan terus belajar membaiki diri. Merangkai kenangan-kenangan indah itu menjadi cerita yang mendidik dan penuh pesan moral. Bukan hanya tentang materi saja.

Ah, kenangan…aku rindu adamu yang dulu.

Kenangan…meski kau telah lama jauh dari masa kini, tetapi apa yang pernah ada dan kujalani di sana akan tetap lestari dan abadi. Tak terganti. Akan kutulis puisi-puisi dan cerita-cerita indah tentang kita dulu.

Aku takkan pernah lupa bagaimana aku dibentuk dari sekian masa. Aku takkan lupa bagaimana semua kenangan itu pada akhirnya menjadi inspirasi-inspirasi dalam hidupku. Aku takkan pernah lupa dengan apapun yang pernah tergaris di sana.

Apapun yang telah kualami dan kutuliskan di sini bersama kenangan-kenangan itu, padahal akhirnya akan menjadi salah satu episode terbaik dalam hidupku.

Sebagai seseorang yang kini berkecimpung di dunia kepenulisan, kujadikan kenangan-kenangan itu menjadi inspirasi-inspirasi terbaik yang tertoreh dalam tiap-tiap lembar kertas yang kemudian menjadi buku.

Nyata!

Bukti nyata dari apa yang telah diperjuangkan dari buah pikiran yang tak pernah berhenti untuk selalu menginspirasi.  Menjadikan keindahan dalam tiap kenang menjadi lebih bermakna.

Sekarang, masa memang telah berubah, tetapi apa yang telah kulalui dan kujalani dari sana menjadikan hidup ini indah dan penuh dengan berkah. Aku yakin tiap orang memiliki cerita indah dibalik perjuangan mereka masing-masing.

Cerita yang tak sama.

Dan takkan pernah sama.

Tapi ada banyak kenangan terindah yang terus membekas di relung hati dan jiwa hingga nanti masa telah berubah.

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image