Home / Fiksi / Inspirasional / Untuk Ibu, Pilihan Ini Berbeda

Untuk Ibu, Pilihan Ini Berbeda

Untuk Ibu, Pilihan

Dahayu masih menatap langit senja. Semburat jingga telah menggantikan biru yang lelah mengudara di atas sana. Beranda depan sebuah rumah dengan tanaman bunga tertata dengan gradasi warna yang beraneka rupa menyejukkan mata siapapun yang memandangnya.

Secangkir teh manis hadir dengan uap penanda masih hangatnya minuman yang sama sekali belum disesap perempuan senja itu. Ia nampak tengah menikmati baris demi baris kata dari sebuah buku yang ada di genggamannya.

Inilah rutinitas sore hari Dahayu, perempuan senja yang kini menjalani hari-hari pensiunnya dengan tenang. Berdua bersama dengan Syamil, putra bungsunya yang beberapa bulan lalu baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah  di sebuah bank pelat merah.

Kepergian Firman yang telah lebih dahulu dipanggil pulang oleh Sang Khalik tak menjadikan Dahayu terlarut dalam duka mendalam. Karena ternyata ada luka lain yang lebih dalam dari hal itu. Masih ada buah hatinya yang senantiasa hadir menjadi penyemangat dalam hidupnya yang tenang.

“ Ibu,” panggil Syamil, sang putra yang menampakkan wajah tampannya dari ambang pintu.

Dahayu menoleh ke arah putra bungsunya dengan menurunkan sedikit kacamata bacanya.

“Adek mau bicara sebentar. Boleh, Bu?” Syamil menatap Dahayu dengan lembut.

Dahayu tersenyum. Perempuan yang masih memiliki guratan kecantikan warisan masa mudanya itu selalu bersyukur dan bangga dengan kesantunan anak bungsunya.  Didikan almarhum suaminya yang terpahat jelas dalam sosok Syamil.

Dahayu melambaikan tangannya menepuk kursi di sebelahya yang diartikan Syamil untuk bergabung bersama Dahayu di beranda sana.

“Bu, besok ibu ada di rumah?” tanya Syamil perlahan setelah pemuda berpostur tinggi dan tegap itu duduk di samping Dahayu.

“Kenapa, Dek?”

Dahayu menatap lekat Syamil dengan pandangan sedikit bertanya-tanya.

“Hari Ahad, kan, biasanya ibu pengajian,” ujar Syamil.

Dahayu tersenyum. Anaknya ini memang selalu memantau aktivitasnya setelah beberapa waktu lalu kesehatannya menurun.

“Ibu ada di rumah, Dek. Ada apa? Pengajiannya sebulan sekali sekarang,” jelas Dahayu, membuat Syamil mengangguk paham.

“Ada yang mau Adek kenalin sama Ibu.”

Syamil menatap wajah Dahayu. Ia seperti menantikan reaksi dari sang Ibu. Pemuda tampan itu tampak sedikit menahan napas menunggu jawaban Dahayu.

“Perempuan?” tebak Dahayu membuat Syamil sedikit merona wajahnya. Pemuda berkulit putih itu mengangguk.

“Pacar kamu, Dek?” Dahayu kembali bertanya.

“Ayah bilang tidak boleh pacaran, Bu. Adek masih ingat kok, Bu,” Syamil menjawab tangkas pertanyaan sang Ibu. Dahayu malah tertawa.

“Alhamdulillah. Masih ingat kamu ya, Dek.“ Dahayu menepuk lengan Syamil dengan sayang.

“Bu, kalau Ibu tidak keberatan Adek bawa Nadira. Boleh, Bu?” Syamil melanjutkan permintaannya.

“Jadi namanya Nadira?” gumam Dahayu tersenyum simpul. Terlihat binar di mata anak kesayangannya itu pertanda ia menyukai perempuan yang ia sebutkan tadi.

“Iya, Bu. Nadira guru SD,” ucap Syamil bangga.

“Cantik?” tanya Dahayu yang membuat Syamil berdehem pelan. Rona merah kembali tampak di pipinya.

“Ibu lihat besok, ya,” kilah Syamil membuat ibunya terkekeh geli.

“Ibu belum bilang boleh, Dek,” goda Dahayu. Syamil terkejut, tapi tak berani membantah ibunya.

“ Tapi ibu tak sabar mau ketemu sama calon mantu Ibu,” lanjut Dahayu penuh senyum.

Syamil menghela napas lega.

“Ibu. Adek kira Ibu memang keberatan,” ucap Syamil. Dahayu kembali tersenyum. Puas menggoda lelaki kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa.

“Bu, insyaalloh Nadira solehah, Bu. Kebetulan Nadira mengajar SDIT Al-Kahfi, Bu. Juga bendahara yayasan di sana. Nadira sering ke bank, kami bertemu di sana, Bu.” Syamil menjelaskan tentang perempuan yang akan dibawanya menemui ibunya esok hari.

“Adek tidak akan seperti Abang, Bu,” Syamil berkata perlahan, seakan takut Dahayu menjadi terkejut dengan perkataannya.

Dahayu menghela napas. Seakan mencoba meraup oksigen untuk memenuhi ruang hatinya bukan paru-parunya. Ruang hati yang sampai kini masih menganga lukanya.

Seketika itu pula Dahayu teringat dengan putra sulungnya yang kini di luar negeri. Putra pertamanya yang lebih memilih menikahi perempuan yang berbeda iman hanya karena alasan cinta. Perempuan yang cukup baik, hanya saja perbedaan keyakinanlah yang menjadikan Dahayu sangat keberatan dengan pilihan putranya.

Hatinya semakin sakit dan terluka saat Syahid tak lagi mengindahkan nasihatnya sebagai ibu. Terlebih hal itu tak lama setelah kepergian suami tercintanya. Kekasih dunianya. Hancur dunia Dahayu saat itu lebih dari saat ia kehilangan Firman, suaminya yang berpulang terlebih dahulu.

Bagaimana tidak? Rekam jejaknya sebagai pengajar, ustazah, guru agama, luluh lantak saat putranya sendiri memilih untuk berbeda jalan.

Syahid memilih pergi, dengan alasan tak mau terus menerus berdebat dengan Dahayu. Pun Syamil tak bisa mencegah sang kakak yang sudah dibutakan oleh cinta. Bahkan Dahayu sampai memutuskan pindah ke lingkungan baru ini karena ingin merasakan ketenangan dari hujatan dan tatapan tajam tetangga dan kerabat yang kerap menyinggung tentang kegagalannya sebagai seorang ibu dan guru agama. Masih terngiang perkataan mereka.

“Guru agama kok anaknya sendiri pindah agama.”

“Anaknya sendiri tidak diajari dengan baik. Bagaimana mau mengajari anak orang lain? Munafik. “

Dan beberapa perkataan yang cukup menorehkan luka di hati Dahayu.

“ Ibuuu…” Syamil menepuk pelan lengan Dahayu yang terlihat melamun. Dahayu memang sedikit teralihkan dengan ingatan tentang putra pertamanya itu.

“Ibu selalu sedih tiap kali Adek bahas Abang.”

Syamil terlihat agak merasa bersalah. Dahayu tersenyum lemah.

“Dek, Ibu minta maaf, ya. Adek tadi mau lanjut cerita?” Dahayu memilih untuk kembali memusatkan perhatiannya pada Syamil.

“Insyaalloh pilihan Adek tidak salah, Bu.“ Syamil tersenyum bangga.

“Hanya saja…” Syamil terjeda sebelum melanjutkan perkataannya.

Dahayu diam menunggu, memperhatikan Syamil yang nampak ragu sesaat.

“Nadira orang biasa, Bu.” Syamil menunduk.

Dahayu mengernyitkan dahinya.

“Lah, Dek. Kita juga bukan konglomerat.” Dahayu terkekeh.

Syamil canggung mengusap tengkuknya.

“Dek, Ibu bukan calon mertua matre loh, Dek.” Dahayu memandang lelaki yang berparas mirip dengan ayahnya itu lekat.

“Adek tahu, Bu. Makanya Adek rasa Ibu bisa menerima Nadira.” Syamil tersenyum kecil.

“Nadira tidak seperti Kak Maura yang wanita karier, Bu. Tapi insyaalloh Adek rasa Nadira bisa menjadi istri dan ibu yang baik,” ucap Syamil perlahan namun nada kesungguhan dan kepastian ada dalam getar suaranya.

Dahayu tertegun.

Di matanya, putra-putranya masih tampak seperti balita yang menggemaskan. Namun sekarang ia lihat garis ketegasan dan kedewasaan terpancar jelas dari sosok di depannya.

Kumandang suara azan Maghrib sayup terdengar dari pengeras suara masjid di ujung komplek perumahan. Dahayu dan Syamil sepakat untuk tidak melanjutkan percakapan mereka.

Hati Dahayu menghangat ketika melihat sang putra bungsu bergegas mengganti bajunya dengan setelan sarung, koko dan peci. Menyalami telapak tangan Dahayu sebelum melangkahkan kakinya ke masjid untuk salat Magrib berjemaah.

Dahayu menatap punggung Syamil dengan perasaan hangat dan penuh. Dahayu bersyukur di balik kesedihannya akan putra pertamanya, ada putra tetakhirnya yang membasuh luka itu.

***

Suara sepeda motor yang memasuki halaman depan rumah membuat Dahayu yang sedang berada di dapur segera melangkahkan kakinya menuju pintu depan yang memang terbuka sejak tadi.

Senyumnya merekah ketika melihat sesosok gadis cantik berkerudung lebar dengan gamis sederhana berwarna pastel turun dari sepeda motor besar Syamil dengan wajah yang malu-malu dan salah tingkah, karena lelaki itu terlihat tersenyum dan mengatakan sesuatu untuk menggodanya.

Dahayu yang sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan sang putra dan gadisnya itu dengan hangat. Namun Nadira, gadis itu seperti terkejut saat melihatnya. Kemudian dia melirik Syamil yang berjalan bersisian dengannya.

“Bang, ini ibunya abang?” tanya si gadis lirih. Syamil mengangguk mengiyakan. Namun sedikit keheranan dengan sikap Nadira yang seakan menahan tangis dan haru.

“Eh kenapa sayang?” Syamil lantas menghentikan langkahnya dan menatap Nadira dengan lembut. Panggilan yang membuat Dahayu tersenyum geli. Mereka mungkin lupa dengan keberadaannya di depan pintu. Katanya tidak pacaran tapi panggil sayang. Batin Dahayu geli.

Nadira menggeleng pelan. Lalu kembali melangkah yang diikuti oleh Syamil.

“Assalamualaikum, Bu,” ucap Syamil dan Nadira hampir bersamaan. Dahayu tersenyum lembut.

“Waalaikumsalam. Mari masuk,” ujarnya kemudian.

Nadira tampak menahan haru. Matanya bergayut mendung. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Dahayu masih menyimpan pertanyaannya.

“ Say … ehm. Nadira, ini ibunya Abang,” Syamil mengenalkan Dahayu pada gadis berlesung pipi indah itu. Diam-diam Dahayu kagum dengan putranya akan pilihannya ini. Benar-benar cantik dan terlihat baik akhlaknya, tercermin dari sikapnya terhadapnya. Menyalaminya dan membungkuk hormat.

“Ibu. Sa-saya Nadira, Bu.” Nadira gugup saat tangannya menyalami telapak tangan Dahayu.

Dahayu lantas menggenggam telapak tangan gadis itu. Tersenyum hangat. Berharap bisa mencairkan kekakuan dan kecanggungan sang gadis.

“Terimakasih sudah mau ke sini, Nak. Duduk dulu, yuk,” ajak Dahayu yang mendapat anggukan oleh Nadira diikuti oleh Syamil.

Lelaki itu tampak lega karena ibunya terlihat menyambut Nadira dengan baik. Jauh berbeda saat dulu abangnya mengenalkan Kak Maura, kakak iparnya, pada Ibu.

“Ibu, maaf. Saya bawa ini sekadarnya. Mohon diterima, Bu.“ Nadira menyerahkan paper bag yang sedari tadi dibawanya pada Dahayu.

Dahayu tertegun tak menyangka gadis ini begitu baik adabnya.

Ia terima bingkisan itu dengan tersenyum dan melihat isinya sekilas. Ada sekotak bolu pandan di sana.

“Maaf, tidak seberapa, Bu,” Nadira salah tingkah karena Dahayu tak segera menanggapi.

“Terimakasih. tidak usah repot-repot ya, lain kali. Kamu datang saja Ibu senang sekali, Nak.” Dahayu menepuk tangan Nadira lembut.

Gadis itu tetsenyum lega. Syamil pun duduk diam memperhatikan interaksi kedua perempuan itu tersenyum tipis.

Mereka berbincang menanyakan hal-hal yang umum, sedikit bertanya tentang keluarga Nadira. Dahayu menilai Nadira memang wanita yang santun, cerdas dan baik akhlaknya. Dia tidak keberatan sama sekali dengan pilihan Syamil. Dahayu lega akhirnya sejarah kakaknya dulu tak harus berulang pada Syamil.

Sampai kemudian Nadira bertanya dengan sopan pada Dahayu.

“Ibu. Ibu benar-benar tidak mengingat saya, Bu?”  tanyanya membuat Dahayu dan Syamil keheranan dan saling pandang.

“Kita pernah ketemu, Nak? Maaf, barangkali ibu lupa. Di mana nak? “ Dahayu balas bertanya.

Nadira tidak langsung menjawab. Tapi matanya berubah sendu dan sedikit berkabut. Gadis itu memandang Syamil sekilas. Entah apa arti pandangannya.

“Ibu masih ingat pernah memberikan sepasang sepatu pada salah satu murid SMP Ibu dulu?”

Nadira bergetar. Tangannya dingin seakan menahan perasaan.

Dahayu mengerutkan dahinya dan mengingat. Saat ia mengajar dulu di salah satu SMP memang ada seorang gadis yang kerap dirundung teman-temannya karena sepatunya yang sobek, sampai gadis itu tidak mau bersekolah beberapa lama. Dahayu yang saat itu menjadi wali kelasnya akhirnya membelikan sepasang sepatu untuk gadis kecil itu dan mengantarkan ke rumahnya.

Rumah yang sangat sederhana dengan ayahnya yang hanya bekerja sebagai satpam di sebuah perumahan, dan ibunya yang katanya pergi entah ke mana karena tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya.

Dahayu terenyuh karena gadis muridnya itu mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa kehadiran ibunya, padahal ia pintar. Sangat disayangkan sekali oleh Dahayu.

Gadis itu akhirnya mau kembali bersekolah dengan sepatu pemberiannya, namun Dahayu yang mengikuti suaminya berpindah dinas saat itu tak bisa lagi mengikuti kabar gadis kecil itu.

Kini gadis di hadapannya itu nampak sesenggukan, air matanya tumpah, Syamil tercekat namun seperti menahan perasaannya untuk menenangkan gadis kekasihnya itu. Sungkan dengan keberadaan ibunya.

“Ibu … saya Nadira bu yang dulu pernah ibu belikan sepatu itu, Bu.”

Nadira kembali meraih tangan Dahayu yang tercekat dengan cerita lama itu.

“Saya selalu berdoa dipertemukan kembali dengan Ibu. karena Ibu panutan saya. Ibu yang jadi penyemangat saya untuk tetap belajar dan menjadi guru. Saya selalu ingin berterimakasih pada Ibu.“

Nadira menundukkan kepalanya di pangkuan Dahayu.

Haru dan perasaan yang lebih dari bahagia dirasakan Dahayu yang merengkuh Nadira ke dalam pelukannya.

Ada takdir yang seindah ini. Setelah ada yang pergi ada pula yang datang kemudian.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image