Home / Genre / Sastra / Babu (Baca Buku): Leyeh-Leyeh Bersama Tere Liye

Babu (Baca Buku): Leyeh-Leyeh Bersama Tere Liye

Dikatakan atau Tidak Dikatakan, itu Tetap Cinta

Akhir pekan saat yang tepat untuk nyante, leyeh-leyeh. Apalagi kalo ditemenin sama Tere Liye, maksudnya sambil baca bukunya Tere Liye gitu.

Pasti sudah banyak yang tahu kalo penulis yang produktif ini, melahirkan karya lebih dari 50 judul novel, tetapi sedikit yang tahu kalo Tere Liye juga menulis puisi. Dikatakan atau Tidak Dikatakan, itu Tetap Cinta (2014) dan Sungguh Kau Boleh Pergi (2019) adalah dua buku kumpulan sajaknya.

Seperti MainMain Saja

Berbeda dengan karya-karya novelnya yang serius, saya menangkap kesan seperti main-main saja sajak-sajak Tere Liye yang terhimpun dalam buku ‘Dikatakan atau Tidak Dikatakan, itu tetap Cinta’ ini. Tenang, ada kok puisinya yang serius. Bahkan Tere Liye seperti seorang penasehat saja.

Menangislah saat hujan, ketika air membasuh wajah
Agar tak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan.
Begitu Tere Liye menutup sajaknya yang berjudul saat hujan. Atau perhatikan

nasehatnya bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta dalam sajaknya ‘Memilikimu’ (halaman 22):

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini,
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki.

Tere Liye juga tampil bijak dalam sajak ‘Sajak Embun dan Perasaan’.

Wahai, tahukah kita kenapa embun itu indah?
Karena butir airnya tidak menetes
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun
Masa singkat yang begitu berharga

Dalam sajak ‘Sendiri’ novelis itu mengajak kita untuk merenungkan sejanak keadaan di sekeliling.

Tidakkah kita mengamati
Jangan-jangan hidup orang-orang besar
Yang gemerlap diperhatikan orang banyak
Yang menjadi bahan pembicaraan
Yang begitu memesona, begitu hebat
Ternyata kesepian
Sendirian

Bisa Juga Jenaka

Buku kumpulan sajak Tere Liye yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama ini, memuat 22 sajak dan dihiasi dengan gambar-gambar yang mendukung visualisasi sajaknya serta dicetak dengan kertas warna-warni. Bukan hanya menyuguhkan sajak-sajak serius, tapi juga jenaka.

Dalam puisinya ‘Sajak Lebay’ Tere Liye menuliskan:

Kenapa kalau Pak Presiden SMS, menterinya selalu mereply sigap
Tapi dia tak pernah membalas satu pun SMS-ku?
Kenala kalau Pak Presiden posting sesuatu selalu di-like/comment/mention,
Tapi dia tak pernah sekali pun like/comment/mention aku?
Kenapaaa?

Udahan dulu nge-babu-nya ya. Kalo mau merenung sejenak atau senyum-senyum dikit di akhir pekan, buku kumpulan sajak Tere Liye ini layak untuk disantap!

Jkt, 260726

Penulis

  • Mas Sam

    Seorang guru yang hobi baca dan suka nulis.

    Menamatkan pendidikan di IKIP Negeri Yogyakarta dan berprofesi sebagai guru sejak 1996 sampai sekarang.

    Tulisannya dapat dibaca di platform kompasiana.com dan opinia.id.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image