Home / Genre / Romansa / 3. Sang Penebar Pesona

3. Sang Penebar Pesona

The Lion of Giza 1600x900
2
This entry is part 4 of 11 in the series The Lion of Giza

Di tengah kesibukannya bekerja, Hamzah tidak pernah melupakan kewajibannya belajar. Terkadang, ia membawa buku materi kuliahnya saat bekerja. Membaca di waktu istirahat. Waktu adalah emas dan juga pedang bagi Hamzah. Jika ia bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan belajar, maka ia akan mendapatkan penghargaan darinya berupa ilmu pengetahuan yang bertambah. Sedangkan, jika waktu tersebut adalah pedang, maka ia harus bisa menajamkan pedang itu dengan peluang-peluang yang ada. Jika tidak waktu akan memotong beberapa kesempatan yang takkan bisa kembali lagi. 

Professor Kamal sering memperhatikannya diam-diam. Dia tidak salah pilih dengan mempekerjakan Hamzah di rumahnya. Hamzah seringkali diajak diskusi dan bertukar pikiran dengannya berbagai banyak hal. Terutama tentang hidup. Dari sinilah ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari luar jadwal perkuliahannya berkembang,

Hari ini adalah ujian semester. Nilai-nilai ujian Hamzah sebelumnya selalu di atas rata-rata teman-temannya. Professor Kamal sangat bangga dengan anak didiknya yang memiliki tekad teguh dan berjuang bak singa lapar ilmu. Menjalani hidup seperti Hamzah tak mudah. Namun, ia kagum dengan semangat perjuangan dan ketekunannya.

Suatu hari Aydeen mengundang Hamzah dan Gamal ke rumahnya. Mereka disambut hangat oleh ayah Aydeen yang bekerja sebagai kontraktor. Aydeen bercerita jika Hamzah adalah pemuda yang paling cemerlang di kelas. Tentu saja itu membuat ayah Aydeen penasaran. Hamzah merasa malu. Aydeen terlalu berlebihan mengatakan sesuatu pada dirinya.

“Aku yakin kelak kau akan menjadi salah satu insinyur handal di negara ini, Hamzah.”.

Hamzah tersipu malu. Ia sangat dihargai oleh ayah Aydeen yang tiada henti memujinya.“Paman terlalu berlebihan. Saya bukan siapa-siapa, semuanya karena kehendak Allah.”

“Tidak, Nak. Putraku sering bercerita tentangmu banyak hal. Dia banyak mendapatkan pelajaran berharga darimu. Tentu saja semua kehendak Allah, tapi caranya beda-beda,” pungkas ayah Aydeen.

Aydeen dan Gamal hanya menjadi pendengar yang baik. Selebihnya hanya Hamzah dan Abas yang terlibat pembicaraan mendalam.

“Dia layak jadi pemimpin, bukan?” Aydeen berbisik pada Gamal yang ada di sebelahnya.

“Aku setuju dengan pendapatmu,” jawab Gamal, “ Kita dengarkan saja pembicaraan mereka. Ayahmu terlihat sangat menyukai Hamzah.”

“Iya. Aku melihatnya.”

Abas melihat potensi dalam diri Hamzah yang sangat besar dengan pemikiran-pemikiran brilian yang berguna bagi generasi-generasi di masa mendatang. Abas mengetes beberapa hal dan bisa dijabarkan dengan lugas oleh Hamzah.

“Jika kau diberi mandat satu proyek besar dari negara, apa yang ada di benakmu untuk mewujudkannya?”

Hamzah berpikir sejenak. Ia tersenyum lalu menjawab, “Tentu saja saya akan memadukan unsur masa lampau dan masa kini. Dalam artian, kita memiliki peninggalan sejarah yang cukup terkenal di dunia, contohnya saja Piramida Giza. Saya berpikir bagaimana kelak jika unsur kuno dan modern itu menyatu tetapi tetap ramah untuk masyarakat. Itu menurut saya, Paman.”

“Subhanallah. Aku hargai pendapatmu dan kagum dengan kecerdasanmu, Hamzah, dan tentunya bangga dengan pemuda brillian sepertimu,” puji Abas. Ia sangat menyukai Hamzah dengan pemikiran-pemikirannya.

Hamzah tersenyum. Dia hanya terdiam tidak menimpali lagi ucapan ayah Aydeen. 

Beberapa menit kemudian. Hamzah dan Gamal berpamitan. Mereka meninggalkan rumah itu dan menuju salah satu restoran yang ada di sudut kota. Tak ada yang sadar jika sepasang mata tampak mengawasi mereka dari sebuah mobil.

“Sedang apa dia di sini,” gumamnya bicara pada diri sendiri. Ia keluar mengikuti langkah mereka berdua.

Kedua pemuda itu tengah menikmati santapannya. Sosok misterius itu terus saja mengikuti. Ia mengenakan kaca mata hitamnya dan melangkah ke arah Hamzah berada.

Pesanan makanan Hamzah dan Gamal baru saja datang. Ia hendak mengambil minum, tetapi sesuatu terjadi. Seseorang menabrak tempat minumnya dari belakang dan membuat bajunya basah. 

“Hei, hati-hati kalau jalan. Kau membuat bajuku kotor!” Hamzah berteriak ke arah orang yang menabraknya. Namun, ia seolah-olah tak mendengar dan tiada rasa bersalah.

Sementara sang penabrak merasa puas. Dia sudah berhasil membuat pemuda itu kesal. “Rasakan olehmu!”

***

“Hamzah! Hamzah!” teriak seseorang memanggil namanya. Hamzah menoleh. Seorang gadis berjalan ke arahnya. Dia tidak mengenal siapa gadis itu.

“Hamzah, aku Najma,” gadis itu memperkenalkan diri. 

“Oh, iya. Ada apa, Najma.”

“Professor Kamal memanggilmu sekarang di ruangannya.”

“Baik, Najma. Terima kasih.” 

Hamzah bergegas menuju ruang Professor Kamal

 Langkah kakinya rupanya terus diperhatikan seseorang secara diam-diam. “Sudah kuduga, dia banyak memiliki wanita. Aku akan buat perhitungan dengannya di hari ulang tahun kampus besok.”

Hamzah sudah berada di ruangan Professor Kamal. Pria berusia senja itu memberinya tugas, “Coba kau bersihkan aula tengah. Lusa kampus kita akan memperingati hari jadinya yang ke-50. Ajaklah kawan-kawanmu ke sana.”

“Baik, Prof. Saya akan ajak mereka.”

Hamzah mengumpulkan kawan-kawannya untuk membersihkan aula tengah. Semuanya bekerja sama dengan baik dipenuhi dengan canda tawa dari mereka semua. Hanya saja ada seseorang tampak tidak menyukai suasana itu. 

“Rupanya dia sedang menjadi sang penebar pesona. Huh! Gadis-gadis itu tampak menyukainya. Sebenarnya apa yang membuat dia begitu?” dia berkata seorang diri sambil mengawasi Hamzah dari jauh.

“Hmmm … Rupanya ada yang sedang terpesona dengan seseorang,” kata seseorang dari belakangnya. Gadis itu terkejut. Ia membalikkan badannya dan meletakkan jari telunjuknya di bibir.

“Sharon. Diam!” ujarnya lirih.

“Mengapa kau harus sembunyi-sembunyi begini?”

“Diam kataku!” Dia melangkah keluar menuju mobilnya.

“Wow, rupanya tuan putri sedang mengagumi seseorang.”

“Sharon, diam kataku!” tegasnya lagi.

“Hati-hati, tuan putri. Kau sedang memantik api. Kau akan terbakar dan menderita karenanya.”

“Diam kataku!”

Sharon justru tertawa melihat tingkah gadis yang disebut tuan putri itu emosi. Pintu mobilnya terbuka dan ia segera meluncur pergi. Sharon hanya geleng-geleng kepala.

“Lihat saja kau sedang bermain api. Pasti kelak kau akan merasakan panasnya.”

***

Acara ulang tahun kampus berlangsung dengan tertib. Acara itu diisi dengan diskusi dan kajian lainnya. Mahasiswa antusias mendengarkan setiap kajian yang disampaikan oleh senior-senior. Semuanya mendengarkan dengan hikmat hingga acara berakhir. 

Professor Kamal mengumumkan hasil mahasiswa teladan terbaik. Dia memilih Hamzah karena dia layak mendapatkannya. Hamzah terharu. Tak mengira jika akan mendapatkan kehormatan seperti itu. Beberapa mahasiswi mengambil fotonya dan mengunggah ke media sosial masing-masing. 

Sharon tengah mengecek media sosialnya. Dia melihat wajah Hamzah ada di postingan media sosial beberapa temannya.Sontak ia mencari temannya yang sering dipanggilnya Tuan Putri.

“Tuan Putri, Tuan Putri! Lihatlah ini! Dia penuh pesona, Tuan Putri. Gadis-gadis di kampus mengidolakannya sekarang.”

“Aku tidak peduli dan tidak ada urusan dengannya. Diamlah!”

“Hati-hati, Tuan Putri. Jangan sampai suatu saat kau menangis mencarinya,” goda Sharon.

“Tidak mungkin!” tegasnya dengan marah. Gadis itu segera berbalik pergi. Sementara temannya mengikutinya dari belakang.

The Lion of Giza

. Tiga Sahabat . Aku tidak Mencari Musuh

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image