Home / Fiksi / Hanya Sampai Aku Pergi

Hanya Sampai Aku Pergi

Hanya Sampai Aku Pergi
1

Secangkir kopi, dan setengah batang udut masih setia menyala terjepit di antara jari. 

Sudah satu jam lebih empat puluh tiga menit-tepatnya-aku berada di sini, di sudut sebuah kafe di area pusat perbelanjaan di tengah kota. Salah satu tempat di mana aku sering menghabiskan waktu bersama seseorang, saat dia masih menjadi ….

“Sudah lama menunggu?” Sebuah suara lembut yang pernah akrab tiba-tiba mengejutkan pendengaranku. Tanpa menungguku menjawab dia sudah menghenyakkan tubuh rampingnya tepat di seberangku.

“Tak cukup lama untuk membuatku pergi.” Begitulah aku membalas salam sapanya. 

Tanpa melihat pun aku sudah tahu, kalau aku bisa saja kalah dalam pertempuran ini. Tapi meski begitu, posisinya yang kini hanya berjarak satu meter setengah di depanku cukup membuat debar yang dulu pernah ada seolah menemukan jalannya kembali. Sedangkan aku masih tak ingin … tak semudah itu.

“Syukurlah, kau terlihat baik-baik saja. Kau bahkan terlihat sangat sehat.” Ah, suaranya masih selembut yang kuingat.

“Tentu saja, kan kamu gak ada.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Menyebalkan!

“Diiih, baru datang udah dikasih jurus sarkas tingkat kecamatan. Iya, deh, kamu yang paling tersakiti. Aku sadar diri, kok.” Ini adalah saat di mana aku sangat ingin lari, tapi mendengar kata-katanya aku jadi sedikit-hanya sedikit saja-terhibur. Jadi tak ada alasan untuk memperpanjang sikap kesal yang memang sudah lama sekali kurasakan. Terlalu lama malah.

“Bicaralah.” Aku tak ingin berlama-lama menebar basa basi memuakkan yang membuatku makin sakit hati.

Gadis dengan pesona bak dewi perang di depanku menatap tajam. Rambut lurusnya terikat saputangan bewarna senada dengan atasan blus biru lautnya. Dia masih terlihat sama, meski sedikit pucat, bahkan lebih cantik. Rok panjang denim menjadi penyempurna pada penampilannya. Ujung bibirnya yang sedikit terangkat menandakan percaya dirinya yang setinggi khayangan. Dia tersenyum-sangat tipis, dan itu menyebalkan.

“Aku tak kan menyia-nyiakan waktumu, Tuan,” katanya dengan senyum yang–bagiku–masih terlihat menyebalkan. 

“Aku menunggu.” Aku berusaha mengabaikan senyumnya, meski itu bukan hal yang mudah. 

Dua tahun bukan waktu yang lama bagiku untuk memaafkan. Sekarang aku bisa menemuinya bukan berarti aku sudah melupakan semuanya.

“Aku minta maaf sudah meninggalkanmu dua tahun yang lalu. Itu jelas kesalahan terbesar yang pernah kulakukan.”

“Bagus kalau kamu sadar itu.”

“Aku sakit. Aku tak ingin kamu merasakan kehilangan karena kepergianku. Karena itu aku pergi lebih awal.”

Sakit? Benarkah?

Itu kah yang membuatnya terlihat kurus?

“Benarkah? Atau itu hanya alasanmu saja supaya bisa pergi dariku dengan mudah? Lagi pula kau ahli melakukannya.” Kata-kata yang terasa basi meski kuucapkan dengan nyaris memaki.

“Sekali aku melakukannya, dan kau sudah menjulukiku ahli? Terserah. Kau percaya atau tidak itu sudah bukan urusanku.” Lydia berusaha mengambil sesuatu di ujung lengan blus nya, meskipun tak kulihat apapun di sana. Mungkin dia juga gugup dengan pertemuan ini, sama seperti aku. 

“Lalu, apa tujuanmu menemuiku sekarang? Kau terlihat baik-baik saja.” Aku berusaha menahan diri untuk terlihat tidak peduli.

Lydia menarik napas panjang. Saat menghembuskannya … terdengar sangat berat.

“Begitukah? Nyatanya tidak. Jujur, aku tak pernah ‘baik-baik saja’ sejak aku meninggalkanmu. Aku sakit, memang, tapi tak ada yang tahu hatiku seberdarah apa. Meninggalkanmu adalah kesalahan terbesarku.” Sudah dua kali dia mengucapkan kalimat itu. Lydia terlihat lelah. Aku bisa melihat betapa dia berusaha keras menenangkan dirinya dengan menarik napas panjang beberapa kali.

Aku sangat tahu ini bukanlah hal mudah baginya untuk mengakui hal yang bertentangan dengan ke-egoisannya. 

“Kau masih belum mengatakan apapun tentang tujuan kita bertemu. Jangan membicarakan apa yang aku sudah tahu.” Aku tak punya pilihan, menjaga sikapku di hadapannya adalah perisai pelindungku dari kehancuran bertubi-tubi. Aku tak mau lagi seperti dulu, meski sulit mengabaikan pandangan dari matanya yang mulai berair. Oh, tidak. Jangan lagi!

“Maaf. Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tak ingin mati dengan menanggung rasa bersalah dan membuatmu mendendam. Maafkan aku.” Lydia buru-buru mengambil tisu lalu menekankan sedikit di sudut matanya. Pertahananku nyaris porak poranda. Hampir saja aku berdiri dan memberinya pelukan, tapi … tidak. Harga diri melarangku melakukannya.

“Hanya itu, yang ingin kau katakan?” Ini situasi yang sangat kubenci. Melihatnya lemah dan menangis membuatku membenci diri sendiri. Harusnya aku yang memenangkannya, harusnya dia tak sendirian. Sementara yang kuingat, dia adalah sosok kuat yang penuh percaya diri. Aku mengagumi itu, masih. Tapi lagi-lagi … aku sudah tak punya hak untuk peduli soal itu. Jadi aku harus bagaimana?

“Tidak. Aku juga menyadari sesuatu. Saat aku meninggalkanmu, kukira semua akan baik-baik saja, dan masalah terselesaikan. Tapi semakin keras aku berusaha menjauh dan menghilangkanmu dari hidupku, itu semakin membuatku kehilangan diriku. Laci di kepalaku berdebu. Rak-rak di hatiku kosong. Ingatanku tertutup kesedihan tak berujung karena kutahu aku tak kan bisa lagi melihatmu.” Bendungan di mata Lydia mulai jebol. Reflek dia mendekatkan tisu di wajahnya. 

Oh, Tuhan! Betapa aku sangat ingin menghapus air sialan itu dari wajah bulan yang pernah nyaris kugenggam. 

Aku menyodorkan beberapa lembar tisu padanya. Lydia menyambutnya dengan tergesa. Aku biarkan dia tenggelam dalam isak yang nyaris tak bersuara. Karena aku pun berkali-kali menarik napas panjang untuk menenangkan dadaku yang detaknya mulai ugal-ugalan.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Akhirnya muncul juga pertanyaan itu. Pertanyaan yang sudah hampir kulontarkan sejak saat dia duduk di seberangku.

“Masih dalam proses pengobatan. Beberapa kali harus kemo dan cuci darah. Karena itu aku banyak berubah. Aku bukan Lydia yang dulu.” Lydia mencoba tersenyum. Kata-katanya membuatku menyadari penyebab wajahnya yang pucat.

“Apanya yang berubah. Kau masih cantik. Masih keras kepala. Di mataku kau sama sekali tak berubah. Jangan memaksa tersenyum jika kau tak ingin, karena itu sama sekali tak cocok buatmu. Aku suka kamu yang apa adanya. Dari dulu juga begitu.” Untuk kesekian kalinya, mulutku mengkhianati keinginanku. Meskipun kali ini aku setuju.

Rokok sudah mati, kopi pekatku tinggal setengah, usai aku meneguknya dua kali. Sementara Lydia hanya terlihat minum orange jus-nya sekali sejak minuman itu datang dan … entah berapa kali aku memutar cangkir, hanya untuk menunggunya bicara.

“Langsung saja kukatakan … aku masih sakit. Aku sudah sangat egois karena melepasmu sepihak berdalih karena untuk kebaikanmu, pada akhirnya aku kembali egois karena ternyata aku yang tak bisa melepasmu. Dan aku akan menjadi sangat-sangat egois, kalau aku bilang aku masih menginginkanmu. Tak perlu untuk selamanya, hanya sampai aku mati. Tapi tentu saja aku tak kan memaksa. Karena itu akan menjadi keegoisanku yang paripurna, saat membuatmu terpaksa melepaskanku suatu hari nanti dan aku tak bisa menghapus air matamu meskipun aku ingin. Egois banget, kan? Well, it’s me. Itu yang kau sukai dariku, kan? Jadi aku akan berusaha konsisten.” Senyum karamel di akhir kalimatnya yang panjang sudah pasti membuat benteng yang susah payah kubangun pun goyah. Aku meleleh tanpa ampun. Seperti terkena strike dengan serbuan emot lope bertubi-tubi.

Terus aku harus bagaimana kalau sudah begini?

“Emang boleh, ya, se-egois ini? Padahal udah mutusin lewat selarik pesan, bikin orang patah hati, lalu muncul entah dari mana dengan kemanisan tiada tara? Definisi benar-benar gak tau diri untuk satu hal ini.” Aku tak bisa berkata-kata lebih dari ini. Sudah jelas aku kalah telak. 

Sebenarnya aku bukannya tak mencari tahu tentangnya yang tiba-tiba memutuskan hubungan. Aku mencari tahu ke semua keluarganya tapi mereka bungkam. Itu saja sudah membuatku curiga. Pasti ada yang tidak beres, karena itu saat Lydia bilang dia sakit, semuanya jadi masuk akal. 

Aku tidak menunggunya, aku hanya menunggu diriku sendiri untuk bisa ikhlas memaafkannya lalu kembali mencarinya. Karena itu pula aku tak terlalu tertarik untuk menjalin hubungan lain. Mencarinya pun bukan karena aku terlalu setia menantinya, aku hanya merasa hubungan kita belum selesai. Aku perlu menyelesaikan untuk bisa menjalin hubungan yang baru. Karena itu jugalah saat Lydia menelpon dan mengajakku bertemu aku rasa ini saat yang tepat untuk mengakhiri semuanya dengan jelas. 

Tapi … lagi-lagi ini soal hati. Siapa yang menyangka jika melihatnya kembali adalah sebuah kesalahan indah yang menyenangkan. Meskipun belum-belum, aku sudah membayangkan tentang patah hati yang terlampau dalam kelak, saat waktunya tiba. 

No pain, no game. 

Take it or leave it. 

Dan aku memilih yang tersulit.

Aku meraih jemarinya, mengecupnya sekilas dan membiarkannya dalam genggamanku beberapa saat.

“Jangan ulangi lagi. Menangislah bersamaku. Jika kau harus mati, lakukan itu dalam pelukanku. Kau tak harus melewati semuanya sendiri, ada aku. Use me to pass through all the pain. Mungkin tak selamanya, hanya ketika salah satu dari kita mati.”

Cinta itu unik. Kau tak perlu alasan untuk menerima, tak butuh dukungan untuk menolak. Bahkan terkadang kau tak butuh alasan apapun untuk mencintai. Kau hanya butuh hati, that’s all.

Gresik, 10 Januari 2024 10.09

Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image