setelah diguyur problematika berkali-kali,
aku melihat ruang nadi berdenyut tak beraturan
seperti gemuruh berkecamuk dengan cekam,
raga merasakan gemetar hingga ke dada
segala kemelut di masa lalu t’lah kutalar jelas
menyerupai tombak-tombak menusuk badan
menjadi bayangan luka yang tak terlupa
dimana darah terdidih lagi oleh realita
bukankah pagar itu tak indah lagi?
manakala tercabut paku meninggalkan lubang
membuat jejak yang tak dapat dihapuskan
senyum tersekat oleh kecerobohan perasaan
hitam dan putihnya murad t’lah tercampur menjadi abu-abu
bermukim menarik langkah antara benar dan salah
hingga tangan lemah ‘tuk menggenggam
diri manakah yang benar-benar sejati?
Cimahi, 6 Mei 2025











