Kisah nyata yang saya alami ini baru saja terjadi beberapa jam silam. Botol plastik wadah air minum saya sering sekali terbuka tutupnya dan airnya tumpah/mengucur keluar hingga membasahi tas bekal makan siang. Sungguh menyebalkan, meskipun sudah tertutup rapat, selalu terbuka lagi tanpa disengaja. Seperti juga halnya pagi ini di stasiun kereta api, air minum saya lagi-lagi berkurang karena tutup botol flip-top itu berulah. Sebenarnya saya kesal, ingin sekali me-‘lem biru’ saja botol air itu, alias lempar, ganti yang baru. Akan tetapi di bawah tempat duduk saya di stasiun kereta api, kucuran air minum saya, yang saya kira sia-sia/terbuang, ternyata sedang diminum oleh seekor kucing liar yang kehausan. Hewan malang yang seringkali tak dipedulikan orang itu ternyata secara tak sengaja ‘kecipratan berkat’ dari saya.
Hati saya trenyuh, remuk redam. Ternyata ‘kehilangan air’ yang saya kira kemalangan bagi saya, sialnya saya, kehilangan saya, bisa Tuhan manfaatkan untuk memberi minum seekor hewan liar. Tanpa sengaja, saya sudah menjadi saluran berkat-Nya; memberi minum sesama makhluk ciptaan-Nya.
Jika seekor kucing liar saja bisa diberkati-Nya, apalagi Anda dan saya. Mengapa kita harus khawatir dengan gaji menipis dan uang saku hampir habis, meskipun bukan untuk diri sendiri? Mengapa kita tidak pernah belajar dari burung-burung di udara yang tidak pernah menanam dan menabur, namun Tuhan pelihara?
Kekhawatiran kita akan kekurangan seringkali menjadikan kita pelit, menahan semua berkat hanya untuk kepentingan diri. Kegagalan membuat kita marah dan putus asa, ingin rasanya membuang saja semua yang sudah susah-payah kita usahakan karena kita rasa tidak ada gunanya. Kehilangan menjadikan kita kapok, trauma, tidak ingin memulai lagi. Padahal rencana Tuhan jauh lebih baik daripada semua yang kita inginkan atau rencanakan.
Pada tahun 2000 silam, saya pernah mengalami banyak sekali kemalangan. Rumah keluarga satu-satunya dijual ayah, yang tak lama kemudian meninggal dunia tanpa pernah mewariskan uang sepeser pun. Akan tetapi, pada tahun 2002 saya bertemu mantan kekasih yang sekarang sudah menjadi pasangan hidup. 2010, saya kembali mengalami kemalangan berupa keguguran calon bayi kami. Namun pada 2011 dan 2013, Tuhan menggantikan dengan dua putra yang tampan dan sehat. Kehilangan satu anggota keluarga, Tuhan kirimkan tiga. Tuhan juga selalu menjadi Bapa bagiku setelah ayah dipanggil-Nya. Sempat mengira saya orang termalang di dunia, sosok perempuan fatherless dan tidak punya siapa-siapa, tidak akan berhasil dalam pendidikan dan hidup, ternyata Dia berkehendak lain. Saya juga pernah ditipu oknum penerbit pada tahun 2006 sebesar 15 juta Rupiah. Akan tetapi, meskipun masih kecil-kecilan, diizinkan-Nya saya menulis buku, kisah fiksi, puisi dan artikel di mana saja online-offline meskipun belum jadi penulis ternama. Uang 15 juta Rupiah itu digantikan-Nya berlipat kali ganda lewat jalan-jalan lain, walaupun saya tak pernah merasa kaya-raya. Hingga kini, saya masih terus merintis dan menulis apa saja sesuai ide-talenta dari-Nya, waktu dan kesempatan yang masih Ia izinkan dalam hidup. Saya juga rindu melayani-Nya lewat tarik suara, meskipun suara saya tidak semerdu penyanyi terkenal. Hidupku dan keluarga diubahkan ke arah yang jauh lebih baik. Dia tidak membiarkan saya sendirian, demikian pula Anda!
Semoga semua kemalangan, kegagalan maupun kehilangan yang terjadi dalam hidup kita digantikan-Nya berlipat kali ganda lewat jalan-jalan tak terduga. Amin.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 7 Mei 2025
Wiselovehope











