Lahir baru, apakah Anda sebagai Orang Percaya sudah mengalaminya? Apakah Anda pernah disindir atau diperlakukan berbeda oleh beberapa kenalan setelah Anda lahir baru? “Dia sekarang beda lho, sok alim. Statusnya puji Tuhan melulu! Sok religius, pokoknya jadi beda ‘deh. Iya, mungkin dianya jadi lebih baik dikit ‘sih, tapi ‘kan sekarang jadi sulit ketemuan, gak mau main bareng lagi, malah pergi pelayanan melulu. Memangnya dapat apa ‘sih dari pelayanan? Apa cuma pengen numpang makan doang?” mungkin kalimat-kalimat miring seperti itu pernah tiba di telinga.
Berubah karena kita sudah lahir baru atau terpanggil tidak lantas kita jadi holy persons atau 100 persen, 180 derajat berbeda dari yang lain. Bukan ibarat jadi domba putih di antara domba-domba hitam. Karakter (kepribadian) dan sifat kita barangkali tetap sama, hanya ada beberapa perbedaan signifikan yang jelas jauh lebih baik.
- Berubahlah bukan karena paksaan atau ikut-ikutan, melainkan lahir dari kesadaran bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu menyelamatkan, menemukan diri kita yang terhilang. Berubahlah dan jadilah berbeda karena merasa bersyukur dan ingin menyebarkan kabar sukacita kepada semua orang.
- Berubahlah bukan karena merasa diri hebat, melainkan sadar jika talenta dipinjamkan Tuhan untuk berkarya bagi sesama. Misalnya lewat menyanyi, bermain musik, atau menulis seperti penulis artikel ini. Suara belum merdu sempurna atau tulisan dianggap tidak menarik, khawatir tidak ada yang baca atau tersentuh, views-nya hanya sekian bahkan tidak ada yang like? Bukan masalah selama Tuhan yang menitahkan. Siapa yang mendengar, siapa yang menikmati, bagaimana feedback mereka, kita tidak perlu khawatirkan. Semua talenta yang diberdayakan ibarat dupa nan harum di hadapan-Nya.
- Berubah bukan karena berharap pada berkat atau imbalan jika ikut pelayanan, misalnya dapat konsumsi, teman baru dan sebagainya, melainkan karena ada sukacita di dalamnya. Tanpa imbalan atau penghargaan manusia sekalipun, tetaplah bersemangat melayani dalam hidup baru.
- Berubah karena Tuhan tidak lantas berarti semua hal pasti akan jadi lebih baik, tidak akan ada masalah, langit selalu cerah, angin bertiup sepoi-sepoi basa, permukaan air laut selalu tenang berombak kecil-kecil. Berubah memampukan kita setelah lahir baru mampu memandang Tuhan ‘lebih dari sekadar berharap rumput hijau dan air tenang’. Langit masih kadang berawan mendung kelabu, bahkan badai topan banjir bandang datang melanda. Pencobaan bertubi-tubi, gelombang tsunami menakutkan menghampiri, berusaha menggulung kota benteng nan teguh. Sindiran dan nyinyiran bak denging nyamuk di malam hari, mampir di telinga tanpa diundang. Tuhan tidak diam saja dan menonton dari surga. Sebagai gembala, Dia akan tetap menemani kita meskipun kadang melewati lembah kekelaman. Gada-Nya dan tongkat-Nya akan mengusir dan menghalau setiap pengganggu, entah serigala atau singa yang berani-berani mengusik.
- Berubah jangan hanya sebentar atau sesaat saja, melainkan untuk selamanya hingga Tuhan panggil kita kembali ke rumah-Nya untuk kebahagiaan dan kedamaian kekal abadi bersama-Nya. Tidak seperti bunglon yang ikut-ikutan, sebab lahir baru bukan sebentuk adaptasi/emansipasi atau fleksibel, melainkan perubahan permanen. Ibarat mata buta yang dicelikkan Tuhan Yesus, jangan malah jadi ‘pura-pura buta’ lagi jika dihadapkan atau digoda dunia untuk kembali ke hidup lama. Tidak seperti peribahasa ‘masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak’, hendaklah kita tetap sabar, mengasihi, beriman dan berdoa sepenuh hati saat diperhadapkan dengan cobaan dan masalah.
Tidak perlu takut, khawatir, tawar hati bahkan undur apabila lahir baru kita dipertanyakan atau diolok-olok. Dengan keyakinan dan doa yang selalu dijawab Tuhan, tetap pertahankan anugerah-Nya, semakin bertumbuh-berbuah hingga yang meragukan Anda kelak akan berubah. Pintu hati tertutup Tuhan bukakan, hati batu yang keras Tuhan lembutkan.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 13-15 Mei 2026











