Hamzah bersikeras masuk kampus selang dua hari setelah dia pulang dari rumah sakit. Dia tidak bisa lama-lama ketinggalan mata kuliah yang diambilnya. Baginya,
“Sebaiknya jika keadaanmu belum pulih benar, tak perlu kau paksakan datang ke kampus, Hamzah,” Gamal menasehati sahabatnya. Namun, Hamzah tetap pada pendirian.
“Tidak apa-apa, Gamal. Aku baik-baik saja.” Seulas senyum mengembang di bibirnya.
dengan dibantu Gamal. Hamzah berjalan perlahan-lahan sambil sesekali menahan sakit yang masih terasa. Pemuda itu tak menghiraukan, karena yang ada di benaknya kini sebentar lagiii ujian semester akan diadakan.
Gamal memapah Hamzah perlahan-lahan menuju arah ruangannya. Dari jarak beberapa langkah, mereka melihat Amira dan Najma yang juga tengah berjalan. Pandangan mereka bertemu beberapa detik, tiada kata terucap sebagaimana rekan-rekan mereka lainnya. Hanya bahasa kalbu yang sanggup ungkap apa yang ada di benak mereka masing-masing.
“Ayo, Gamal, cepat sedikit!”
Gamal mengikuti kata-kata Hamzah dan berjalan lagi, sebelum akhirnya Amira dan Najma pun berbelok arah.
Beberapa rekan dari lain jurusan menyempatkan diri mendatangi ruangan Hamzah dan menanyakan kabarnya, “Bagaimana kabarmu hari ini, teman?”
“Alhamdulillah, seperti yang kau lihat, aku kian membaik,” jawab Hamzah meski masih merasakan nyeri di anggota tubuhnya yang terluka.
“Syukurlah. Aku senang mendengarnya.”
“Maaf, tempo hari aku tidak bisa ikut menjengukmu, karena menemani ibuku untuk cek rutin,” sambung lainnya.
Hamzah tersenyum. Dia merasa bersyukur selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memperhatikan dirinya.
“Terima kasih, teman-teman. Aku sangat hargai kedatangan kalian. Semoga persahabatan dan persaudaraan kita berlanjut hingga di hari kemudian.”
“Insya Allah. Aamiin.”
***
Jam istirahat tiba. Salah seorang teman Hamzah mendekat dan berkata,“Hamzah, aku ingin mengajakmu makan di kantin kampus.”
“Terima kasih. Aku masih harus mempelajari beberapa bab ini. Lain kali saja,” tolak Hamzah dengan halus.
“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu.”
“Silakan.”
Ruangan itu kini benar-benar sepi. Semua penghuninya keluar, kecuali Hamzah. Pemuda itu memang masih dalam proses pemulihan. Dia masih belum boleh melakukan banyak aktivitas fisik. Hamzah tetap berada di ruangannya dan mempelajari beberapa mata kuliah yang tertinggal. Sementara, Gamal dan rekan lainnya dari jurusan lain pergi menuju kantin.
Saat itu, Amira diam-diam menuju ruangan di mana pemuda itu berada setelah yakin bahwa semua teman-teman Hamzah keluar ruangan. Gadis itu memperhatikan Hamzah dari balik kaca ruangan. Dia terus memperhatikan gerak-gerik pemuda itu. Seulas senyum terpampang dari bibir tipis di wajah cantiknya. Hamzah tidak menyadari jika seseorang memperhatikannya sejak beberapa menit lalu.Dia terus membaca dan belajar dengan penuh kesungguhan, tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya. Justru, keadaan ruangan yang sepi lebih membuatnya rileks.
Amira merasakan ada getar-getar halus menyusup hatinya. Wajah tegas Hamzah baginya sangat menarik, misterius, tetapi ada keindahan lain yang ditemukannya. Keindahan yang selama ini belum pernah dia temukan pada diri seseorang. Dan_ baru kali ini dia merasakannya.
Mengapa aku jadi begini? Mengapa diam-diam dia penuh pesona? Ada apa denganku dan hatiku? Apakah aku … Ah, tidak!
Amira menepis perasaan asing dan aneh yang kini mulai menyerang kalbu. Entah apa yang kini tengah terjadi dalam hidupnya, ketidakhadiran Hamzah beberapa hari di kampus membuat hidupnya terasa sepi. Seseorang melihat gerak-gerik gadis itu lalu mendekat.
“Sedang apa kau di sini?” tanyanya dengan suara khas.
Amira tersentak. Segera dia membalikkan tubuh. Gamal telah berdiri di belakangnya dengan wajah penuh tanda tanya.
“Ga … Gamal?”
“Amira, apa yang kau lakukan?” tanya Gamal sekali lagi kepada Amira dengan wajah penuh tanda tanya. Amira terlihat salah tingkah. Dia tidak ingin Gamal tahu jika dia diam-diam sedang memperhatikan Hamzah, sahabatnya.
“Mengapa diam, Amira?” imbuh Gamal lagi.
Amira menjawab, “Tidak apa-apa. Maaf, permisi.” Gadis itu berlalu.
Gamal merasa aneh dengan perilaku Amira. Berbagai macam pertanyaan kini mulai datang silih berganti menyapanya. Apa yang diinginkan gadis itu di sini? Bukankah jurusannya berbeda? Apa yang ingin dilakukannya di jurusan ini?
Gamal tak habis pikir dengan sikap Amira. Dia lantas masuk ke ruang kuliah Hamzah. Pemuda itu sedikit terkejut melihat kedatangan sahabatnya. “Ada apa Gamal?”
“Amira.”
“Amira? Ada apa dengan Amira?” Hamzah bertanya dengan penasaran. Tidak biasanya Gamal menyebut nama gadis yang menjadi ikon kampus itu.
“Dia baru saja melihatmu dari luar. Apa kau tidak melihatnya?”
Hamzah mengerutkan dahi, merasa heran dengan apa yang baru saja diceritakan Gamal. Amira, mau apa lagi dia?
“Tidak, Gamal. Aku bahkan tidak fokus dengan hal-hal lainnya, kecuali pada mata kuliah yang tengah aku pelajari.”
“Sepertinya_dia memperhatikanmu.”
“Maksudmu?”
“Bisa saja dia ingin meminta maaf padamu, atau mungkin saja dia ingin menanyakan kabarmu, tetapi dia sungkan.”
“Oh, itu. Tidak masalah, Gamal. Aku baik-baik saja.”
Gamal mengangguk. Dia pun tidak punya pikiran lain pada Amira, selain berpikir bahwa gadis itu akan meminta maaf kepada Hamzah.
“Kau tetap harus berhati-hati pada Amira.”
“Maksudmu?”
“Mungkin dia punya maksud lain. Emm_ maksudku dia ingin mengejekmu dengan keadaanmu seperti ini,” pungkas Gamal.
“Jangan berpikir seperti itu, Gamal.Berpikirlah yang baik.”
“Oh, maaf. Aku sempat berpikiran buruk padanya. Kau tahu bukan, dia selalu diratukan di mana-mana.”
“Tak masalah, yang terpenting kita hormati dia karena dia juga teman kita di sini.”
Gamal terdiam. Dia mengangguk pelan, meski sebenarnya kurang setuju dengan ucapan sahabatnya itu.
“Aku kembali dulu. Nanti tunggu aku di jam pulang.”
“Baik. Aku akan menunggumu.”
Gamal berlalu kembali ke ruangannya meninggalkan Hamzah.
***
Usai jam pulang, Hamzah menunggu di ruangannya. Tam lama, Gamal datang bersama seseorang. “Ini Rauf,, teman satu jurusan denganku,” ucap Gamal mengenalkan temannya kepada Hamzah.
“Senang bertemu denganmu, Rauf.”
“Sama-sama, Hamzah.”
“Kebetulan Rauf satu arah dengan kita. Dia memintaku mengajakmu karena tahu keadaanmu masih belum pulih benar.”
“Terima kasih, Rauf,” ucap Hamzah diiringi senyum tipis.
“Kita semua sahabat. Gamal bercerita banyak tentangmu, Hamzah. Aku penasaran ingin tahu siapa dirimu yang sesungguhnya dari cerita Gamal.”
“Aku biasa saja, Rauf. Tidak ada yang lebih,” ujar Hamzah merendah.
“Baiklah. Ayo kita segera pulang,” ajak Rauf, “Aku akan mengantar kalian hingga tujuan.”
Mereka pulang bersama dengan mobil yang dikendarai Rauf. Sepanjang perjalanan, Gamal dan Rauf bercerita banyak hal, terutama tentang ujian semester yang sebentar lagi akan mereka hadapi.
Dari jarak tidak jauh, sebuah mobil mengikuti mereka. Mobil itu milik Amira. Gadis itu ingin tahu di mana tempat tinggal Hamzah selama ini. Najma yang ikut bersamanya sedikit heran dengan kelakuan sang putri.
“Amira, mengapa kita kemari? Bukankah jalan menuju rumahmu tidak melewati jalan ini?” Najma berkata keheranan. Amira diam saja tidak menimpali.










