Home / Genre / Misteri / Tabung yang Lain

Tabung yang Lain

Tabung yang Lain

Musik mulai dimainkan, tetapi pekerjaanku masih belum selesai. Kamar tamu terlihat seperti kapal pecah. Bahkan isi rak sebagian besar sudah pindah ke lantai.

Semoga saja para penghuni apartemen di sebelah tidak terlalu terganggu dengan kegaduhan tadi.

Huft!

Mengingat itu hatiku terasa sesak, tetapi sudah tidak ada waktu untuk menyesal. Aku harus membereskan semuanya sebelum ibu datang.

Tanpa membuang waktu aku segera mengembalikan barang-barang yang terlempar ke tempat semula. Membuang pecahan botol parfum yang terbanting ke plastik sampah. Tidak hanya itu, pecahan piring dan gelas ikut menyusul masuk. Aku tidak ingin orang tahu masalah ini, terutama ibu.

Selesai dengan sampah aku mulai mengepel lantai, menyemprotkan pewangi di sana sini agar keharuman ruangan terjaga. Karena ibu sangat teliti soal bau, jadi aku harus berhati-hati.

Entah sudah berapa kali lagu favorit itu otomatis berputar ulang, ketika kemudian terdengar tombol kunci pintu dibuka dari luar. Ah, padahal aku baru duduk sepuluh menit. Meski begitu, buru-buru kuraih ponsel dan mematikannya.

“Ren, tumben, di rumah? Gak ngapel? Kan Sabtu?” tanya ibu begitu masuk rumah.

“Siren ke Paris, kan, Bu.”

Aku menyalakan TV dan berselonjor di sofa.

“Masa? Kok ibu gak tahu?” Ibu bertanya sambil berlalu ke dapur.

Aku tidak menjawab. Percuma, ibu tidak akan mendengar jawabanku.

“Wangi sekali, parfummu tumpah, ya?” teriak ibu dari dapur.

Tuh, kan! Seolah ada CCTV selalu merekam! Bahkan bagian dalam selimut pun ibu pasti tahu! Aku benar-benar harus berhati-hati.

“Iya!” Aku pun menjawab setengah berteriak.

Beberapa saat kemudian tercium masakan dari dapur dan ibu memanggil untuk makan malam.

Seperti biasa, makan malam akan diselingi percakapan antara ibu dan anak pada umumnya. Jangan tanya soal pasangan ibu, dia sudah pergi saat aku belum dilahirkan. Jadi aku tidak mengenal htentang ayah. Tetapi itu tidak masalah. Ibu sudah memenuhi semuanya. Tabung kasih sayangku sudah terisi dan itu cukup.

Meski merasa tak ada lubang di hatiku, tapi nyatanya aku merasa perlu membuat lubang di tubuh seseorang untuk memenuhi tabungku yang lain, yaitu: hasrat. Aku tidak ingin ibu mengetahui sisiku yang ini.

Sementara mulutku mengunyah ayam berbumbu, ibu bercerita tentang klien yang kurang ajar. Aku mendengarkan, meski sesekali kehilangan fokus. Entah karena ayamnya yang masih keras, atau karena bayangan tubuh Siren di atas tempat tidur dengan bersimbah darah. Kepalaku terasa penuh.

Harapanku hanya satu, semoga ibu tidak masuk ke kamarku sebelum aku memindahkannya.


15.43

Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image