Gimbul sudah dua bulan bekerja di kantor ini sebagai office boy. Pekerjaannya rapi dan semua karyawan mengakui Gimbul memang rajin. Sayangnya dia sering kedapatan tidur di sela-sela pekerjaannya.
Supri yang berkali-kali melihat kebiasaan Gimbul menjadi geram. Karena dia menganggap itu sama halnya dengan mencuri jam kerja untuk kepentingan yang bukan pekerjaan.
Sebagai salah satu kepala bagian yang berada pada divisi di mana Gimbul bertugas, Supri merasa wajib untuk mengingatkan.
“Mbul, kamu kalo kerja mbok ya yang bener. Masa kerja kok tidur. Sama aja itu kamu nyuri jam kerja buat kepentingan pribadi.” Supri akhirnya mengatakan juga apa yang selama ini hanya menjadi bahan pemikirannya saja.
“Saya tidur juga karena kebutuhan kantor, Pak. Kalau saya lemes karena kurang tidur gimana?”
Jawaban Gimbul sukses membuat Supri terdiam.
Supri mengambil nafas panjang. Dia sedikit gemas mendengar jawaban Gimbul.
“Ya gak bisa gitu, dong, Mbul. Makanya jangan bergadang, biar kamu cukup tidur. Jadi pas kerja udah seger.” Supri menaikkan intonasi suaranya.
“Trus bapak mau ngaduin saya gitu?” Gimbul menantang.
“Ya kalau kamu gini terus ya aku aduin!” Supri benar-benar sudah tak bisa menahan emosi. Hingga keributan itu terdengar karyawan lainnya.
Mereka mulai berdatangan sambil berbisik-bisik dengan kawan di sebelahnya untuk mencari tahu musabab dari keributan dua orang yang berbeda tingkat pekerjaan ini.
“Boleh saja kalau bapak mau aduin. Saya juga punya hal yang mau saya aduin ke bapak pimpinan.” Kalimat Gimbul membuat muka Supri semakin merah padam.
Tapi Gimbul justru terlihat santai sambil memasang senyum yang menyebalkan.
“Apa maksudmu?” Kali ini Bu Endah yang angkat bicara.
“Iya, Mbul. Maksudmu apa? Mau ngadu apa?” Doni ikut tak sabar melihat sikap Gimbul yang makin gak jelas.
“Kalian semua sok suci. Saya ketiduran karena tiap malam harus cari tambahan nafkah buat bayar kebutuhan ketiga anak saya yang masih sekolah. Saya rasa semua orang juga tahu saya nyambi ngojek online sepulang dari kantor. Gaji di sini hanya cukup untuk bayar kebutuhan pokok. Tapi saya ndak masalah, karena memang saya orang baru, gajinya juga masih gaji orang baru. Saya pun tahu diri jika memang kemudian ditegur. Tapi saya sedih saat dibilang pencuri, meski itu benar karena saya telah mencuri waktu kerja. Tapi kalian?”
“Kami apa? Yang jelas kalau ngomong!” Supri menghardik dengan nada tak sabar.
Gimbul sejenak menarik nafas panjang untuk kemudian mulai berbicara.
“Pak Doni, suka main game saat sudah gak ada kerjaan, tapi itu kan juga masih jam kerja. Apa itu bukan mencuri namanya? Bu Lita suka nelpon kawannya lama-lama pake telpon kantor saat bapak pimpinan sedang berada di luar. Apa itu bukan mencuri namanya? Pak Rendi memang tidak main game di kantor tapi suka menyelinap ke luar buat nongkrong di warung depan kantor sampai waktu istirahat, apa itu bukan mencuri namanya? Bu Endah juga suka pakai mesin fotokopi dan printer buat tugas anaknya. Apa itu bukan mencuri? Lalu Pak Supri … saya tak perlu menyebutkan karena semua toh sudah tahu. Saya baca tulisan bapak di salah satu platform. Dan waktu penayangannya pas masih jam kerja. Apakah itu bukan mencuri namanya?”
Gimbul memberi jeda sambil menatap orang-orang di depannya. Lalu melanjutkan, “Jika saya menyerahkan diri untuk mengakui pencurian yang saya lakukan, maka sudah seharusnya Anda semua juga melakukannya. Karena Anda adalah orang yang bekerja lebih lama dari pada saya. Permisi.”
Gimbul yang hendak meninggalkan ruangan terkejut saat melihat Pak Direktur sudah berdiri di depan pintu.
“Semuanya jangan ada yang boleh pulang! Mbul, kamu ke ruangan saya!”
16.13









