Berikut sebuah kata-kata mutiara dari teman sekolah di album kenangan penulis (kumpulan biodata tulisan tangan teman-teman yang pernah populer sekitar tahun 1990-an): “Bukan hantu yang menakuti, tapi ketakutan yang menghantui.”
Ketakutan di sini bukan hanya sekadar takut pada sosok tak kasatmata yang seringkali dijadikan bahan fiksi horor hingga pembahasan seru pengalaman nyata kita. Kita seringkali takut atau khawatir pada begitu banyak hal: takut kehujanan, takut gelap, takut kekurangan uang, takut sakit, takut ini dan takut itu. Begitu banyak ragam ketakutan di sekeliling kita, bahkan termasuk takut pada sesama manusia.
Rasa takut manusiawi, amat wajar adanya sebagai respon alami dan alarm bagi manusia agar tidak kebablasan melakukan sesuatu yang berbahaya. Jika selalu atau terlalu berani, banyak batas hingga peraturan akan dilanggar. Rasa takut menimbulkan keseganan, taat hingga memupuk disiplin. Akan tetapi bersikap terlalu penakut tentu saja tidak lagi wajar. “Duh, takuuut!” atau, “Gak mau ah! Nanti gini-gitu!”, “Jangan tinggalin gue sendirian, dong!” dan masih banyak lagi.
Penulis rasa tak seorangpun suka dicap sebagai penakut atau pengecut. Akan tetapi secara tidak langsung beberapa dari kita bisa saja ‘dikit-dikit takut’, entah efek sugesti, ikut-ikutan/ketularan atau memang ‘dari sananya’. Rasa takut yang negatif takkan pernah membuat kita berkembang. Banyak penyebab rasa takut yang sebenarnya merupakan kesempatan untuk tetap tenang, melatih diri hingga menemukan solusi.
- Beberapa ayat Alkitab berbunyi “Jangan Takut!” Bahkan Yesus beberapa kali menyebutkannya dalam Injil (Matius 10:28, Matius 14:27). Jangan takut bukan berarti tidak respek/hormat pada seseorang atau situasi, melainkan agar kita tidak gentar menghadapi ‘lawan’ yang sesungguhnya tidak maha kuasa seperti Tuhan kita. Tidak gentar bukan lantas bertepuk dada atau maju jalan grak petantang-petenteng ala uji nyali, melainkan teguh hati dan menguatkan diri dengan penuh keyakinan.
- Rasa takut seringkali digambarkan sebagai ‘raksasa’ atau ‘kekuatan jahat’, entah dalam fiksi atau imajinasi kita. Sebagian besar rasa takut bukanlah rasa takut yang sebenarnya, melainkan ketidaksiapan menghadapi kenyataan. Yang bisa membantu kita mempersiapkan menghadapi kenyataan hanyalah Tuhan.
- Dalam mengatasi rasa takut, kita diharapkan untuk ingat kepada Tuhan serta terus mengandalkan-Nya. Bukan dengan kekuatan/keberanian kita sendiri, melainkan dengan nama-Nya sebagai perisai sekaligus senjata mengatasi rasa takut.
- Ketakutan yang berhasil diatasi ibarat badai yang berhasil dilalui. Sebuah pengalaman nyata penulis, sepulang kerja Tangerang-Jakarta dilanda hujan badai luar biasa yang menyebabkan jalan macet berjam-jam hingga banjir di beberapa titik. Sebagai manusia biasa, wajar saya merasa takut. “Bisa pulang gak ya? Bakal terlambat (kemalaman) gak ya? Kebasahan gak ya? Nanti sakit, lagi!” Namun saya berhasil pulang dan tiba dengan selamat di rumah. Pengalaman itu mengajarkan jika badai-hujan-banjir bukanlah momok yang menghalangi, melainkan masalah yang harus diatasi. Hanya dengan pertolongan Tuhan saja, saya mengalami sedikit basah pada bagian kaki hingga jaket namun tidak sampai masuk angin.
Kesimpulan: Rasa takut yang kita alami hanyalah sebagian kecil perasaan negatif yang wajar terjadi, akan tetapi bukan untuk dipelihara/dijadikan penghalang kemajuan. Jadikanlah rasa takut/khawatir kita sebagai ‘alasan mengadu’ kepada Tuhan agar menjadi semakin berani, semakin kuat, hingga berhasil mengatasi masalah. Dia jauh lebih besar daripada segala ketakutan dan masalah kita, amin.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 7 November 2025











