Apa yang akan kau lakukan jika ternyata seseorang yang kau percaya menusukmu dari belakang? Sayangnya kau tidak bisa membalas hal yang sama karena kapasitasmu hanya sebagai manusia biasa yang tidak punya sifat iblis sepertinya.
Semua kekejaman berawal dari sebuah ketukan pintu di malam sunyi.
“Siapa?” Aku mengintip keluar lewat kaca di pintu. Seorang wanita yang tidak kukenal terlihat berdiri di depan pintu rumahku. Jam menunjukkan 23 menit setelah jam delapan malam. Belum terlalu malam, tetapi sudah sedikit terlambat untuk menerima tamu.
“Saya mau minta tolong. Saya tersesat.” Wanita itu bersuara dengan tenang.
Firasatku tiba-tiba tidak enak, tetapi aku mengabaikannya. Pertimbanganku karena yang di depan pintu itu wanita. Hal buruk apa, sih, yang bisa disebabkan oleh seorang wanita? Sayangnya, itu menjadi kesalahan terbesarku.
Dengan kecurigaan tipis-tipis, aku membiarkannya masuk. Wanita itu masih terlihat tenang. Sesekali matanya terlihat mencari, entah apa.
“Saya mencari alamat seorang teman, tapi rupanya supir taksi yang tadi saya tumpangi menurunkan di sini. Begitu saya cari-cari dan bertanya ke rumah sekitar, ternyata saya nyasar. Tepatnya disasarkan.” Penjelasannya panjang lebar. Tetapi meskipun begitu, aku tidak benar-benar percaya.
“Oh, begitu. Kenapa tidak menelpon teman yang akan dikunjungi?” saranku spontan. Wanita itu hanya tersenyum—canggung.
“Sebenarnya saya ingin memberinya kejutan.” Wajahnya terlihat bersemu merah. Sekarang aku tahu, teman yang dimaksud sudah pasti adalah seseorang yang disukai atau bisa jadi kekasih.
Aku juga tersenyum dan mengambilkannya minum. Hanya segelas air disertai saran menelpon taksi untuk mengantarnya pulang. Terapi dia menolak.
“Nanti teman saya yang mengantar pulang. Dia akan ke sini.” Kali ini senyumnya terlihat aneh. Kilat di matanya membuatku meningkatkan kewaspadaan.
Sayangnya semua terlambat. Sesuatu yang keras dan dingin menghantam kepalaku dari belakang. Seketika aku merasa seperti melayang, tubuhku tersedot pada lorong kegelapan yang meremukkan. Kemudian, kisah hidupku seperti diperlihatkan lewat slide-slide yang diputar cepat. Tentang Cindy yang masih bayi, lalu Cindy yang kini sudah remaja. Tentang Teddy yang melamarku, juga pesta pernikahan sederhana kami di halaman rumah orang tuaku. Sampai pada kecurigaanku atas sikap Teddy tiga bulan terakhir yang menyulut pertengkaran demi pertengkaran. Semua itu makin menyadarkanku, bahwa aku telah membuka pintu bagi sebuah bencana.
Rumahku memang tidak punya banyak tetangga. Apalagi letaknya yang di ujung jalan buntu, agak mustahil bagi seseorang yang tersesat untuk “tidak sengaja” masuk ke area rumah dan mengetuk pintu.
Di saat-saat terakhir, aku masih sempat melihat suamiku tersenyum, sementara tangannya menggenggam tongkat baseball yang dipenuhi noda merah. Teddy mendekati wanita asing itu dan mereka berciuman.
Meskipun akhirnya mati dalam genangan darahku sendiri, aku tidak merasakan apa pun. Tetapi saat melihat ayah putriku menyentuh bibir wanita itu dengan bibir yang pernah mengecupku, itu menjadi penyesalan yang kubawa sampai mati.
‘Tuhan, jaga Cindy untukku.’
22.40












Satu Komentar
Waduh, perlu membaca beberapa kali sampai memahami…