Home / Fiksi / Cerbung / 4. Kehilangan

4. Kehilangan

DEMI WAKTU 1600X900
This entry is part 5 of 8 in the series Demi Waktu (Der Zeit)

Tiap manusia memiliki jalan kehidupan berbeda. Demikian pula cara menghadapinya.”

Liona dan Hans masih trauma shock dengan kecelakaan yang menimpa orang tua mereka. Hans-lah yang paling merasa bersalah. Dosanya mungkin takkan terampuni, menurutnya. Kepergian kedua orang tuanya karena ambisinya yang terlalu tinggi. Rasa sombong Hans membuat egonya begitu tinggi. Meski dengan embel-embel membahagiakan mereka.Pemuda itu ingin membuktikan bahwa dia mampu dan berotak cerdas. Nyatanya; tidak! Hans merasa menjadi pembunuh Karl dan Helga.

Prosesi pemakaman Karl dan Helga berlangsung penuh keharuan. Liona menangis dalam dekapan bibinya, Dietrich. Arthur dan Müller pun turut menangis. Wajah Hans tampak kosong melihat kedua orang tuanya telah dimakamkan. Seakan tak percaya jika kedua orang tuanya telah pergi untuk selamanya. Entah mengapa hati Hans ibarat sedang perang besar. Entah ke mana pikirannya saat itu. Semuanya hampa. Terasa hampa.

“Ayah, Ibu, secepat ini kalian meninggalkanku? Mengapa secepat ini, Ayah, Ibu?” isak Liona. Para pelayat pun seolah menyalahkan Hans dalam hal ini. Meski sebenarnya tidak. Semuanya murni kecelakaan.

Dietrich memeluk erat keponakannya. Dia bisa merasakan duka mendalam keponakannya. Dipeluknya Liona erat, memberikan kata-kata menghibur, “Mereka sudah tenang di sana, Sayang. Jangan kau tangisi lagi. Masih ada kami yang selalu bersamamu, Schatze….”[1]

“Tapi Bibi, aku …,” Liona tidak melanjutkan ucapannya, “aku sudah kehilangan mereka, Bibi.”Air matanya meluncur deras membasahi wajah cantiknya.

Teman-teman Liona berdatangan untuk menghiburnya. Mereka menghibur dan memberikan dorongan. Tak terkecuali Kusumaningrum, sahabatnya dari Indonesia. Selama ini, Liona memang dekat dengannya. Pembawaaan Ning, nama sapaan lainnya, membuat Liona merasa nyaman. Dia seperti memiliki seorang kakak perempuan yang selalu mengerti dirinya. Ning menguatkan hati Liona agar tabah dan sabar menjalani kehidupan yang kini tengah dijalani.

“Liona, ini adalah ujian dari Tuhan, Sayang. Aku yakin kau dan kakakmu bisa menerima semua ini dengan hati lapang. Ini semua sudah takdir, Liona.” Didekapnya erat-erat tubuh gadis itu.

“Kau pasti bisa melaluinya. Semuanya akan kembali indah dan perlu waktu. Aku selalu bersamamu, kapanpun kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu,”sambungnya. Liona merasa nyaman dengan tutur kata dan nasehat dari Ning. Mendapatkan kekuatan dan semangat baru. Tangisnya masih belum reda. Arthur, Dietrich, Müller, dan beberapa kerabat mereka masih berada di sana. Menjaga kondisi Liona dan Hans yang belum stabil.

Terutama Hans. Sejak beberapa hari, pemuda itu bahkan terus mengamuk dan menyalahkan dirinya. Hans kehilangan kendali. Benda-benda yang ada di sampingnya menjadi sasaran kemarahannya. Hans menghancurkan apapun yang ada didekatnya. Bahkan, Müller dan Arthur kewalahan menghadapi tindak anarkis Hans.

“Minggir kalian semua. Minggir! Akan kuhancurkan benda-benda ini. Inilah penyebab orang tuaku tiada dan aku jadi pembunuh. Ha … ha … ha ….” Suara tawa Hans begitu mengerikan. “Aarrghhh … Ayah … Ibu … Akulah yang sudah membunuh kalian. Akulah yang membuat kalian tiada. Aku benar-benar anak tak tahu diri! Huu ….” Tawa itu berubah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati. Hans menangis seperti anak kecil. Jiwanya terguncang dengan kepergian orang tuanya.

Berkali-kali dia mencoba menyakiti tubuhnya dengan benda-benda tajam karena rasa bersalah yang teramat mendalam bahkan percobaan untuk mengakhiri diri sendiri. Müller-lah yang paling kewalahan dengan sepupunya itu. Hingga akhirnya dia dibawa ke rumah sakit jiwa seiring kondisi jiwanya yang tidak stabil. Hans depresi berat.

Di sana, dia kembali berulah hingga perawat harus menyuntikkan obat penenang kepada Hans berulang kali. Tubuh Hans sangat lemah. Pandangannya kosong. Bahkan seolah tidak mengenal anggota keluarganya.

 Liona yang melihat keadaan kakaknya pun turut prihatin, ingin menolong Hans tapi tidak tahu harus bagaimana. Dirinya juga masih dalam keadaan berduka. Belum bisa mengontrol diri sepenuhnya. Selama beberapa hari, Ning menemaninya bersama Arthur dan Dietrich. Gadis asal Indonesia itu terus mendampinginya, menguatkan, memberikan nasehat, serta pencerahan padanya.

Raut muka Liona begitu pucat. Wajahnya kuyu. Tidak bersemangat. Sudah beberapa hari tubuhnya pun tidak terisi makanan.Dengan kasih sayang seperti kakak kepada adiknya, Ning membujuknya untuk makan.

“Liona, makanlah, Sayang. Kasihan tubuhmu jika begini terus. Dia juga butuh asupan makan agar kau tidak lemah.Aku akan membuatkanmu masakan Indonesia. Kau mau kan?” Bujuk Ning, membelai lembut rambut Liona yang berada dalam pelukannya. Gadis itu masih duduk bersandar di ranjang di kamarnya. Kedua mata birunya masih bengkak bersama sisa-sisa air mata yang mulai mengering.

Liona masih terdiam. Kepergian orang tuanya meninggalkan duka mendalam. Tetapi dengan perhatian dan kasih sayang Ning, Liona akhirnya mengangguk. Ning tersenyum. “Tunggu sebentar, Sayang. Tenangkan dulu dirimu.” Ning meninggalkan Liona yang masih termenung sendiri.

Sementara itu, setelah beberapa hari Hans berada di rumah sakit jiwa, akhirnya dia diperkenankan pulang ke rumah, dengan catatan DALAM PENGAWASAN KHUSUS. Ada sesuatu yang hilang dirasakannya. Hati Hans masih sakit dan terluka. Dia melangkah menuju kamarnya di ujung. Dilihatnya Liona sedang tidur di kamarnya. Hans sangat kasihan melihat keadaan adiknya.Didekatinya ranjang Liona. Hans duduk di sofa di sisi ranjang. Liona menoleh. Dia sangat bahagia melihat siapa yang datang. Gadis itu tersenyum, dengan kesedihan masih terlihat. Air matanya kembali merebak.

“Kakak!” Dia menghambur ke pelukan Hans. Mereka berpelukan erat dan bertangisan. “Aku bahagia Kakak sudah pulang.” Liona larut dalam pelukan kakaknya. Berharap Hans akan menyambutnya dengan bahagia pula.

Dugaan Liona keliru. Dia terkejut, tiba-tiba Hans dengan kasar mendorongnya. “Minggir kau! Aku tidak butuh dirimu! Aku butuh Ayah dan Ibu, juga rancanganku! Ha … ha … ha ….” Liona tidak menyangka jika kejiwaan kakaknya masih belum stabil. Hans bangkit dan melangkah mendekati barang-barang di kamar Liona.

“Kak … ! Jangan begitu, Kak! Aku juga menyayangimu!” Liona berusaha mencegah Hans yang mulai merusakkan barang-barang di kamar Liona hingga gadis itu panik dan menjerit-jerit.Dietrich yang baru saja datang dan mendengar suara Liona segera menuju kamarnya. Dilihatnya Hans sedang kalap.

“Hans, hentikan!” sentak Dietrich. Dia melihat Liona sangat ketakutan.

“Heh! Apa urusanmu! Aku kehilangan orang tuaku! Aku ingin mereka kembali. Aku yang harus membuat mereka kembali. Menyingkirlah! Huuu ….” Tingkah laku Hans seperti anak kecil. Dia kembali ingin membuat kerusuhan hingga Ning berusaha menenangkannya.

“Hans, cukup! Jangan teruskan lagi!” seru Ning.

“Siapa kau! Berani-beraninya menghentikanku! Oh … atau, kau juga ingin aku perlakukan seperti itu?” Tunjuk Hans pada sebuah guci besar yang kini sudah hancur berkeping-keping di tangannya.

“Aku bukan siapa-siapa, Hans. Aku manusia biasa.”

Hans justru tertawa mendengar ucapan Ning. “Ha … ha … ha … kukira kau monster pembunuh sepertiku. Apa pedulimu padaku, hah?” Seringai begitu menakutkan bagi Liona dan Dietrich. Tetapi tidak untuk Ning. Justru gadis itu kian mendekati Hans dengan pandangan sayu.

“Hans, kumohon. Hentikan semua ini! Ingatlah Liona, Hans!” Tatapan kedua mata Ning seolah memiliki daya magis luar biasa yang bisa meruntuhkan dinding kepongahan seorang Hans Aaric Bauer. Hans melangkah mundur. Tidak biasanya dia seperti ini berhadapan dengan seorang wanita. Baginya, wanita di hadapannya ini serasa memiliki kekuatan besar yang merasuk hatinya. Hans merasa tidak aman, energinya serasa ditarik oleh kekuatan dari dalam diri Kusumaningrum. Dia tidak menjawab dan segera pergi tanpa sepatah kata pun. Menuju tempat renungannya.


[1] Sayang (Bahasa Jerman)

Demi Waktu (Der Zeit)

. Akhir Pengorbanan . Gestanden Aus Ruinen (Bangkit dari Reruntuhan)

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image