Home / Genre / Fiksi Sejarah / 1. Oruç Reis Berlayar ke Midili

1. Oruç Reis Berlayar ke Midili

Khairuddin Barbarossa 1600x900
1
This entry is part 2 of 17 in the series Khairuddin Barbarossa

Sepeninggal adiknya, İlyas, kehidupan harus berlanjut. Pelayaran di samudra pun harus tetap bergelombang di dalam hati Oruç Reis. Maka, ia harus berangkat menuju kakaknya, İshak Ağha.

Sebelum ke Midili, Oruç harus menjemput Hizir terlebih dahulu di Lesbos—yang sedang melakukan misi untuk menemukan pulau Rhodes bersama Piri Reis, sang kompas samudra dan sang perancang peta.

Bersama dengan para levent¹, Oruç Reis menuju Lesbos, salah satu kota yang sudah menjadi milik Kesultanan Utsmani.

“Gülletopuk, mari kita temui Hizir kardeşim² dan Piri Reis.” Ajak Oruç kepada salah satu levent-nya.

“Mari, Oruç Reis.” Jawab Gülletopuk.

Mereka berdua menuju ke kediaman Piri Reis. Saat masuk, disana ada Piri Reis, Hizir Reis, dan Darwis Effendi yang sedang melihat peta, guna mencari dimana posisi pulau Rhodes itu.

“Assalamualaikum.” Sapa Oruç Reis.

“Waalaikumsalam.” Jawab mereka bertiga.

“Bagaimana perkembangan pulau Rhodes?” Tanya Oruç Reis.

“Pulau Rhodes, berada di selat paling utara Midili. Namun, posisinya terlalu ke dalam yang terjepit oleh rawa-rawa. Posisi ini sangat strategis untuk menyerang siapapun dari dalam. Pastinya, mereka sudah menaruh banyak prajurit di sekitar rawa-rawa tersebut.” Jawab Piri Reis.

“Artinya, siapapun yang hendak menyerang dari luar akan mendapatkan kesulitan, begitukah, Piri Reis?” Tanya Oruç lagi.

“Iya, begitu, Oruç Reis.”

“Baiklah, kita simpan dulu pulau Rhodes, aku akan ke Midili dulu bertemu İshak Ağha bersama Hizir.” Lanjut Oruç Reis.

Ketika Oruç hendak pergi, Piri Reis menahan dulu sejenak.

“Oruç Reis, tunggu sebentar.”

Oruç pun menoleh kepada Piri sambil berkata:

“Ada apa, Piri Reis? Wajahmu tampak tegang.”

“Oruç Reis, aku mendengar pasukan yang menyerangmu saat bersama İlyas Reis, adalah pasukan yang dipimpin oleh Antuan si Hitam. Ia terkenal kejam. Namun, pada saat itu ia hanya bersembunyi di tepi samudra.” Jelas Piri Reis.

“Antuan si Hitam, ya? Baiklah, terima kasih, Piri Reis.” Sambung Oruç Reis.

Setelah itu, mereka pun, Oruç Reis, Hizir Reis, dan Gülletopuk menuju kapal untuk bertolak ke Midili.

Di kapal—dalam pelayaran, Oruç Reis melakukan salat gaib, untuk mendoakan adiknya, İlyas. Sementara, Hizir Reis menatap samudra dengan tatapan tajam.

Saat jarak pandang sudah sampai pada dermaga, Hizir Reis bergumam:

“Akhirnya kita sampai di Midili.”

Di sebrang lautan, tepatnya di dermaga, terlihat İshak Ağha sudah berdiri menunggu kedatangan adik-adiknya.

“Ah, kakakku yang kokoh bagai gunung, kau tak pernah meninggalkan kami sebagai adik-adikmu”. Lanjut Hizir Reis bergumam.

Akhirnya, Oruç Reis, Hizir Reis dan para levent menginjakkan kaki di tanah Midili. Suasana pun seketika mengharu biru disana, dan mereka pun masuk ke rumah İshak Ağha.

***


¹ Levent: pelaut
² Kardeşim: adikku

Khairuddin Barbarossa

Khairuddin Barbarossa . Sudut-sudut Midili Bercerita

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Riak-riak Cangkir Retak

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Antologi KompaK’O

Random image