Malam perlahan menyapa bumi. Senja kini telah menghilang, mengistirahatkan sang surya yang pindah menuju belahan bumi lainnya. Dua sosok tubuh tengah berbicara di salah satu sudut kota. Pembicaraan mereka tampak serius.
“Sebaiknya kita jangan berbicara di sini. Karena tidak aman,” kata seorang pria kepada pria di hadapannya.
“Baiklah. Bagaimana jika di apartemenku saja, Tuan. Tidak begitu jauh dari sini.”
“Baiklah.”
Kedua menuju apartemen di ujung jalan. Di sanalah mereka membicarakan sesuatu.
“Sejauh mana kau mengenal Leon d’Oro?”
Pria bermata tajam di depannya sedikit mencondongkan badannya yang tetap ke depan. Dari binar wajahnya pun tersimpan kebencian tiada tara.
“Cukup lama, dia adalah senior saya di universitas dulu. Kami satu kampus, hanya beda jurusan.”
“Apa? Satu kampus? Satu universitas?”
“Iya, Tuan. Mengapa Anda seperti tidak percaya?”
“Bukan itu maksudku. Leon d’Oro itu sudah tua. Dia tidak mungkin anak muda karena dia juga memiliki seorang putra yang juga akan menjadi pewaris tunggalnya.”
Mendadak hati Youssef berdesir mendengar cerita itu.
“Benarkah yang Anda katakan?”
“Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal Leon d’Oro. Dia salah satu orang berpengaruh di negara ini. Tidak hanya di dunia bisnis, tetapi juga dunia wanita. Ha ha ha… “
Youssef mendadak merasakan darahnya mendidih mendengarkan cerita itu. Tetapi dia tetap tenang menghadapinya.
“Dia bukan Leon. Sahabat yang kau sebut senior bukanlah dia.”
“Lalu, siapa dia?”
Pria itu membuka data di gawainya dan memperlihatkannya kepada Youssef. Membuat pemuda itu terperangah. Ternyata, yang dikatakan dua anak beberapa waktu lalu itu benar. Muncul di benaknya merencanakan sesuatu.
“Aku tahu dia, hmmm… ” senyum licik kini menghias bibirnya. Ada sesuatu yang kini tengah menari-nari di benak Youssef, dan dia harus mengerjakannya. Menjalankannya, serta memperjuangkan sesuatu yang selama ini dicarinya.
“Maukah kau bekerja sama dengan kami?” tawarnya tak kalah licik pula.
“Ya. Tentu saja, ” jawab Youssef ringan. Dia merasa kini sebentar lagi apa yang diinginkannya akan segera tercapai.
“Baiklah. Terima kasih kau sudah mau membangun. Untuk selanjutnya, tunggu kabar dariku.” Pria itu memberikan selembar cek kepada Youssef.melihat nominal yang tertera di sana membuat pemuda itu kian bersemangat ingin mencapai sesuatu yang lebih.
***
“Karima…!”
Seseorang memanggilnya. Dia segera menoleh. Dilihatnya Youssef berjalan ke arahnya. Karima bersikap biasa, seakan-akan tidak terjadi sesuatu.
“Youssef… ?”
“Karima, maafkan aku atas kejadian tempo hari, aku tengah emosi.”
“Tidak apa-apa, Youssef. Lupakanlah.”
Keduanya berjalan menuju arah apartemen tempat tinggal Karima. Youssef tampak menoleh ke kanan dan kiri. Tidak begitu ramai karena hari menjelang malam. Youssef mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.
“Tapi… aku ingin membalas kecerobohanku tempo hari, dengan… “
Youssef membekap mulut Karima dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius. Gadis itu kini tak sadarkan diri. Youssef segera membawa ke sebuah mobil yang sudah menunggunya dan membawa Karima masuk.
“Kita akan membawa gadis ini menuju ke pinggiran kota, dan aku akan mencoba memancing seseorang agar menyelamatkannya. Setelah itu kita habisi dia!” ucap Youssef senang.
“Sebentar lagi kau akan menjadi milikku, Karima. Tidak akan ada lagi yang berani mendekatimu, karena aku akan membawamu pergi jauh bersama ibuku. “Gumamnya lirih, tersenyum penuh kemenangan. Satu tahap lagi akan selesai semua.
Karima merasakan kepalanya sangat pusing. Dia mencoba membuka matanya perlahan meski dengan pandangannya yang kabur. Dia sangat terkejut ketika sadar bahwa dirinya sudah berada di tempat asing, dan… pakaian yang semula dikenakannya sudah berganti. Termasuk penutup kepalanya, kini sudah tidak ada.
Karima merasa takut, siapa yang sebenarnya telah membawanya ke tempat ini. Terakhir kali dia teringat percakapannya dengan Youssef. Setelah itu dia sudah tidak sadarkan diri lagi. Dia berpikir, siapa sebenarnya yang telah membawanya, atau menculiknya. Dan apa tujuannya menculiknya.
‘Mungkinkah Youssef yang melakukan semua ini?’ pikir Karima. Seandainya Youssef yang melakukan, untuk apa dia melakukannya. Karima beranjak turun dari ranjang yang ditidurinya. Di sampingnya sudah tersedia makanan dan minuman yang tersaji di atas meja kayu kecil.
Dia melangkah mendekati pintu kamar, mencoba untuk membukanya. Tetapi sayang sekali, pintu itu terkunci dari luar. Karima berteriak keras, berharap seseorang akan mendengarnya.
“Tolong buka pintunya! Aku ingin keluar! Siapa pun kalian, tolong bukakan pintu ini!” Tangannya menggedor-gedor pintu kayu yang sang kuat itu. Usahanya sia-sia. Karima lemah tak berdaya, tubuhnya lunglai. Dia menangisi keadaannya kini.
“Ayah… apakah Ayah tahu aku di mana saat ini?”
Dia mencoba melihat keluar dari jendela kamar yang juga tertutup erat. Dari balik celah yang berlubang dia tahu ternyata dia disekap di daerah pinggiran dekat hutan.
“Yaa Allah, tolonglah hamba-Mu. Siapa yang melakukan semua ini.”
Pada saat yang sama, Hicham pun merasa panik karena putrinya semalam tidak pulang. Dia bertanya kepada Yazid melalui telpon, tetapi putrinya tidak bersamanya. Yazid juga terkejut mendengar Karima tidak pulang. Dia berpikir ada sesuatu yang tidak beres terjadi padanya. Yazid kemudian menghubungi seseorang.
“Tolong kau lacak nomor gadis ini,” Yazid memberikan nomor Karima pada seseorang yang tengah berbicara dengannya,” selidiki di mana terakhir nomor ini aktif dan beritahu aku segera.” Pikirannya kini tidak menentu. Hari ini dia harus mendampingi Tuan d’Oro untuk pemeriksaan ke rumah sakit, tetapi di sisi lain ketiadaan Karima menghantui pikirannya.
“Baik, Pak. Kami akan selidiki.” Suara seseorang di seberang sana cukup membantunya.
Hicham dan Ghaida merasa panik. Mereka tidak menyangka jika Karima akan mengalami nasib seperti itu. Selama ini, dia melihat putrinya itu tidak memiliki musuhmusuh, ataupun terlibat masalah dengan teman-temannya.
“Ibu tidak habis pikir mengapa Karima mengalami hal seperti ini, Nak.” Tangis Ghaida kian deras.
Hicham baru saja berpikir akan menghubungi pihak berwajib agar bisa menemukannya keberadaan Karima. Tetapi ada satu panggilan masuk dari nomor tidak dikenal memanggil. Secepatnya dia menekan tombol jawab dan terdengar suara seseorang di ujung.
“Tuan Hicham, jika Anda ingin putri Anda selamat, datanglah ke Ouest Plage 15. Ingat, jangan membawa teman ataupun datang bersama pihak berwajib.”
Klik.
Belum sempat dia menjawab, telpon itu sudah mati. Hicham mencoba balik menelponnya, tetapi ternyata nomor itu sudah diblokir.
***
Yazid baru saja akan keluar bersama Leon d’Oro. Tetapi seseorang telah masuk ke kamarnya. Leon sangat terkejut.
“Kau… Mar-co… ka-kapan kau da-tang, Nak.”
“Aku bisa datang kapan saja, Ayah. Akses ke rumah ini selalu terbuka untukku. Karena aku putra kandung Ayah. Bukan begitu?” Tatap matanya beralih ke arah Yazid yang masih mendampingi sang ayah.
“Ayah, mengapa aku tidak diperbolehkan menjadi pemegang utama perusahaan ayah. Bukankah aku putramu? Putra kandungmu!”sentaknya.
Marco berjalan mengelilingi ayahnya dan juga Yazid.
“Mengapa ayah justru lebih percaya dengan orang luar, bukan denganku. Mengapa?” teriak Marco keras.
“Tuan Marco, tidak sepantasnya Anda menaikkan nada bicara pada ayah Anda. Apalagi beliau sedang sakit.”
“Hei, siapa dirimu, berani mengatur aku seenaknya!” senyum sinisnya mengembang diiringi seringai licik.”Aku tidak tahu mengapa ayahku lebih memilihmu menyandang nama Leon d’Oro. Sedangkan aku-putranya… tidak dianggap siapa-siapa.”
“Dengan segala hormat, saya minta kepada Anda jangan buat ayah Anda banyak beban pikiran. Sekarang saya harus membawanya berobat.”
Marco bertepuk tangan melihat Yazid mendampingi ayahnya. Dia tersenyum mengejek kepada pemuda itu.
“Hmm… Yazid Anouari. Jangan tanya dari mana aku mengetahui namamu. Kau pemuda yang sangat beruntung bisa menggeser kedudukanku. Tapi… kau pun harus tahu diri, siapa dirimu.”
“Saya sadar, Tuan. Saya tidak ingin semua itu. Justru saya ingin menyerahkannya pada Anda, karena Anda lebih berhak mendapatkannya.”
“Ouuwww, benarkah? Hmm… atau kau hanya ingin mendapatkan simpati lagi dari ayahku, Yazid.”
“Saya katakan sejujurnya, Tuan. Anda yang lebih berhak mendapatkannya.”
“Baiklah jika begitu. Aku akan menunggu detik ini juga ayahku akan memberikan kekuasaannya untukku. Bukan begitu, Ayah?”
“Maaf, Tuan Marco. Tuan Leon hari ini harus cek dulu. Saya yang akan mengantarkannya.”
“Tentu saja, kau boleh membawanya pergi.” Keangkuhan Marco terlihat begitu jelas, tatapan matanya menyapu ke seluruh ruangan.
***
Sementara itu, Karima masih berada di kamar tempatnya disekap. Matanya sembab dan air matanya pun kini sudah mengering.
Derit pintu terdengar dibuka dari luar. Seseorang masuk ke kamar. Karima sangat terkejut melihat siapa yang datang. Ternyata Youssef, pemuda itu memandangnya dengan tatapan nyalang. Karima buru-buru memalingkan mukanya ketika Youssef berjalan mendekatinya.
“Kau ternyata sangat cantik, itulah yang membuatku tergila-gila padamu, Karima sayang,” Youssef meraih dagu gadis itu dan mendekatkan wajahnya. Secepatnya Karima berpaling.
“Youssef, jangan lakukan ini, kumohon.” Karima berjalan mundur beberapa langkah hingga tubuhnya membentur tembok. Tetapi Youssef tidak peduli, dia makin mendekat dan membuat Karima ketakutan.
“Jangan mencoba lari dariku, Sayang. Aku akan segera memilikimu. Ayahmu akan datang dan menikahkan kita. Aku sangat mencintaimu,Karima. Sangat!” Kata-kata Youssef makin membuat bulu kuduk Karima merinding.
” Tidak,Youssef. Ini bukan cinta. Cinta tidak boleh memaksa. Kau hanya terobsesi, Youssef.”
“Lalu apa? Siapa yang kau inginkan? Yazid,bukan?Jangan menolakku!” Youssef makin tersenyum senang ketika melihat gadis itu tidak berdaya.
“Youssef- kumohon… jangan.” Karima mengiba pada pemuda yang awalnya dia kenal sangat baik dan bersahabat itu.
“Ayahmu sebentar lagi akan datang, dan aku akan menikahimu, lalu membawamu pergi dari sini.”
“Ti-tidak, Youssef. Jangan lakukan itu.”
Youssef tidak mengindahkan ucapan Karima. Pemuda itu semakin mendekat dan menatapnya dengan tajam bagaikan seekor binatang buas yang siap menerkam dan mencabik-cabik mangsanya. Karima menunduk dan memejamkan matanya, ketika jarak mereka sangat dekat beberapa senti.
“Kau harus jadi milikku, Karima. Harus! Dan jangan menolakku!” gertaknya. Dia sudah tidak menghiruakan lagi teriakan dan isak tangis gadis itu.
“Youssef… jangan kumohon, Youssef,kau adalah sahabat baikku. Jangan lakukan ini,”
“Aku bukan pemuda yang selama ini kau pikir baik. Aku orang rusak, Karima. Aku anak yang tak diakui oleh seorang ayah yang tak bermoral. Dia orang yang tidak menginginkan kehadiranku di dunia ini!”
Youssef meninju tembok di samping Karima dengan keras berulang kali. Pemuda itu berteriak sekeras-kerasnya meluapan emosinya yang
menaik. Karima yang melihat semua itu hanya bisa menangis.
“Aaaaarrrgggghhhhh… “










