Suasana kelas sudah sepi. Anak-anak sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Hanya Faisal saja yang masih ada di sana. Dia lebih suka ke perpustakaan sekolah selepas pelajaran usai. Di sana, tampak dua orang penjaga perpustakaan masih merapikan buku-buku, yaitu Bu Mamik dan Bu Erni. Faisal memberi salam kepada mereka begitu memasuki pintu perpustakaan.
“Assalaamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab mereka serempak. Salah seorang menoleh pada Faisal.
“Belum pulang, Is,” tanya Bu Mamik.
“Belum, Bu. Masih mau pinjam buku bacaan lagi, Bu,” jawab Faiz pada Bu Mamik, penjaga perpustakaan.
“Silakan, Is. Pilih-pilih aja seperti biasanya.” Bu Mamik bergegas ke arah lain, tak jauh dari Faisal memilih buku-buku yang akan dipinjamnya.
“Lha wong namanya juga kutu buku. Cuma dia aja yang paling rajin datang ke sini banyak baca, Bu Mamik. Makanya dia jadi siswa berprestasi,” timpal Bu Erni yang juga sedang menata beberapa buku-buku cerita.
“Iya ya, Bu. Cuma Faisal aja yang rajin kemari. Untungnya lagi dia berhasil membawa nama harum sekolah ini.”
Faiz bermaksud membantu Bu Mamik dan Bu Erni, tetapi dicegah oleh mereka.
“Nggak usah, Is. Kamu kalau mau minjam buku, pinjam aja.”
“Iya, Bu.”
“Bukankah bulan depan kamu ikut kompetisi lagi?”tanya Bu Erni.
“Iya, Bu. Maka dari itu saya mau banyak belajar dari sekarang.” Kedua mata Faisal menatap ke arah jam dinding bulat yang kini posisi jarum panjang menunjukkan ke arah angka delapan dan jarum pendek di angka dua. Dia mengembuskan napasnya dengan kasar.
“Mau pinjam buku berapa lagi, Is?” lanjut Bu Mamik.
“Seperti biasa, Bu.”
“Ya udah, ambil aja, Is.”
“Terima kasih, Bu.”
Faisal bergegas menuju tempat biasa dia meminjam buku-buku kesukaannya. Tidak berapa lama, dia sudah membawa buku-buku yang dipinjamnya. Kemudian dia berpamitan.
Sepanjang perjalanan pulang, Faisal terus menerus memikirkan ibunya, yang biasa dipanggil Emak. Sudah beberapa bulan, Emak memang masih terus berjuang keras mendapatkan biaya untuk pengobatan bapak yang sakit-sakitan. Hampir setahun bapak Faisal sakit-sakit. Dia berinisiatif meringankan beban emaknya dengan bekerja di rumah Pak Yatno, tetangganya, sebagai pemberi makan ayam-ayam ternaknya di sore hari. Karena Pak Yatno tahu jika Faisal sekolah.
Emak pernah melarang Faisal bekerja, tetapi Faisal bersikeras karena tidak tega dengan emaknya. Meski begitu, dia masih bisa menyempatkan dirinya belajar.
“Selalu istiqomah ya, Is. Insya Allah, Allah akan selalu memudahkan urusan kita. Tetapi harus disertai dengan ikhtiar dan doa.” Berkali-kali emak selalu mengingatkan Faisal. Faisal sangat bangga pada emak, meski beberapa kali ujian hidup merek terasa berat, tetapi emak selalu mengajarkan Faisal agar senantiasa bersyukur.
Menjelang dini hari, Faisal mendengar suara dari arah dapur. Sudah beberapa bulan ini emak memang membuka usaha kecil-kecilan, berjualan nasi dari rumah. Beruntung sekali, letak rumah mereka yang berada di pinggir jalan dan dekat dengan tempat industri juga perkantoran, membuat langganan bertambah ramai. Faisal pun ikut membantunya, meski emak selalu melarang.
“Nggak usah bantuin, Is. Tidur aja lagi, biar besok nggak kesiangan.”
“Nggak apa-apa, Mak.”
Berulang kali emak menyuruh Faisal kembali tidur, tetapi Faisal tetap menolak dan justru membantu emak. Akhirnya emak membiarkannya.
Faisal melihat perjuangan emak yang luar biasa di saat ayahnya belum bisa bekerja seperti sekarang. Dalam hati, Faisal bertekad akan memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuanya. Hingga akhirnya, dia kembali mengikuti lomba kompetisi penulisan karya ilmiah dan juga cerdas cermat antar sekolah menengah pertama.
“Minta doanya, Pak, Mak. Semoga apa yang Fais perjuangkan bisa membawa keberkahan untuk semua,” ucap Faisal seraya mencium tangan kedua orang tuanya bergantian.
“Pasti itu Is. Doa kami selalu menyertaimu,” jawab emak yang tiada henti memberi semangat kepada putranya itu. Dengan doa mereka akhirnya membawa Faisal menjadi juara pertama di dua lomba yang diikutinya. Faisal mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan serta beasiswa hingga ke perguruan tinggi. Kedua orang tuanya pun bahagia, terutama emak. Rasa haru menyelimuti keluarga itu. Bapak pun tampak menitikkan air matanya.
“Kami bangga padamu. Semoga Allah selalu memberikanmu kemudahan.”











