Berlinang keringat tak ada lagi airmata habis sudah tuntas kering kerontang.
Ini puisi siang bolong. Jelas takkan ada airmata berderai-derai berbaris menjadi prosa atau kisah laiknya dalam novel.
“Wahh!”
Buat apalah menulis kisah sedih di hari berlari tak guna pula tak cucok di zaman genre ber-genre kalau sekadar perlente. Entah genre apapula jadinya kalaupun romantisme terus menulis modernisme istilah sekadar acrobatic.
“Ups! Oh!”
Kontemporer. Modern. Lantas? Apa dengan begitu kau paham hari ini sebutir beras sangat berarti. Melankoli kali terlalu hiperbola. Wow! Oh! Wow! Wkwkwk! Begitu barangkali ketika terlihat langit mencatat sakit gigi juga sebuah ujian bukan sekadar ujicoba narasi ehem uhui coy!
“Ahai! Uhuk! Ehem!”
Hitam pekat tak lagi bisa terbaca teks beterbangan itu. Lantas apa caranya agar bisa membaca teks hitam pekat itu.
“Oh!”
Jakarta; KompaK’O, Desember 19, 2025.












2 Komentar
👍👍
👍👍👍