sajak surealisme Wijatmoko Bintoro Sambodo
Pintu yang kumasuki lupa di mana
sekat-sekat yang tiada sempat
bagi kita mengulangi walau sesaat
lubang jarum pun menutup celahnya
aku terbiar dalam jebakan keniscayaaan
mengemban tugas penantian
terompet Israfil ditiupkan
hilir mudik dikejar-kejar kegelisahan
manakan lagi kesiapan
jangankan Kau tanya perbekalan
belum pula berpamitan
ini lebih perih daripada diabaikan
tidak perlu perhatian karena itu pun kefanaan
tidakkah bisa ambang pintu dibukakan
bila perlu kita tanda tangani kesepakatan
aku akan membawa diriku kembali setelah berpesan
biyung, ramanda, dan handai tolan
mereka mungkin bertanya-tanya mengapa aku menghilang,
absen sekolah, absen dari eksistensi, atau pengecut yang melarikan diri
kukira benar sebuah janji
hal yang berlaku mustahil diulangi
apatah arti tuts komputer tanpa tombol undo
dapatkah kalian pikul beratnya keresahan
keputusasaan, tercerabutnya akar jiwa
sebagaimana tergambar dalam psikodiagnostika
terpampang pada diagnostik and statistic mental disorder
berbagai simtom
akulah ruh gentayangan yang mengiba-iba
jika satu aktualisasi menjadi tiket satu-satunya
akan kupakai untuk berwasiat saja
akulah tubuh yang rebah pasrah
tidur dalam kubur tanpa kalang tanah
kala mata terbuka napas terasa
bahkan aku tak percaya lalu bertanya untuk apa
hingga sang Maha Esa memulangkan sukma
sekali lagi agaknya
pada bilangan angka 17
jasadku bergegas
bangkit, berkomat-kamit
aku pulang!
Bogor, 30 Desember 2025
Bangun dari Kematian









